Sejarah Bisnis Komik Indonesia: Tak Lepas dari Rezim Selera Pasar

Hasmi (Harya Suryaminata), tokoh komikus Indonesia pencipta karakter Gundala. tirto.id/fiz
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 14 Oktober 2019
Dibaca Normal 5 menit
Penerbitan buku komik di Indonesia mekar pada awal dekade 1950-an. Penerbit buku komik bermutu tetap bisa tumbuh meski ekosistemnya masih kusut.
tirto.id - “Mas, sekarang yang laku komik silat,” kata Harya Suraminata kepada Widodo Noor Slamet, sahabatnya.

Kala itu, sekira 1967 atau awal 1968, Harya baru dapat kabar dari seniornya yang seorang komikus dari Jakarta. Kabar itu membangkitkan lagi renjana Harya dan Widodo untuk bikin komik. Mereka lalu mulai mencoba membuat komik silat berlatar Jawa.

Juli 1968 Harya menyelesaikan karya 192 halamannya yang berkepala Merayapi Telapak Hitam. Sementara itu, Widodo membuat komik bertajuk Tertempa Karang Tajam. Sayangnya, di kota mereka, Yogyakarta, belum ada penerbit komik. Satu-satunya jalan adalah pergi ke Jakarta menyusul sang senior.

Maka berangkatlah Widodo dan Harya ke Jakarta dengan kereta ekonomi. Bawaannya tak lebih dari beberapa lembar baju dan manuskrip komik. Pada hari mereka tiba, sang senior langsung mengarahkan mereka ke kantor Penerbit Cahaya Kumala. Di kantor Cahaya Kumala yang terletak di Kramat itu mereka langsung bertemu bos penerbit.

Tak sia-sia jauh-jauh ke ibu kota, si bos penerbit menerima komik bikinan mereka.

“Kalian minta honor berapa untuk naskah komik ini?” tanya si bos.

“Wah, kami belum tahu. Ya terserah saja,” jawab Harya dengan kepolosannya.

Si bos penerbit lalu menawarkan honor Rp7.500 untuk satu jilid komiknya. Sebagai catatan, kala itu lazimnya satu jilid komik berisi 64 halaman. Artinya, manuskrip yang dibawa Harya akan dipecah dalam tiga jilid. Jadi, Harya akan terima honor total Rp22.500. Jumlah yang besar untuk ukuran zaman itu.


Maka tanpa berpanjang kata Harya langsung menyetujuinya. Begitu pula Widodo. Sebulan kemudian karya kedua komikus muda itu terbit. Di sampulnya masing-masing tertera nama pena Hasmi dan Wid NS. Dan si senior mereka itu adalah komikus Jan Mintaraga.

Itulah awalnya dua maestro itu memasuki gelanggang komik Indonesia sebagaimana dikisahkan Henry Ismono dalam Hasmi Pencipta Legenda Gundala (2019). Juga, demikianlah lanskap penerbitan komik Indonesia masa lalu. Kalau ingin cepat populer dan dapat honor lumayan, para komikus musti taat pada rezim selera pasar. Di antara komikus dan pembacanya, ada penerbit yang pegang kendali.

Di masa awal Hasmi dan Wid NS berkarya, penerbit buku komik sedang tumbuh subur. Marcel Bonneff dalam Komik Indonesia (2001) menyebut jumlahnya berlusin-lusin dan hampir semuanya milik pengusaha Cina. Meski begitu, penerbit buku komik yang besar dan berkualitas bisa dihitung jari.

Ekosistem Tak Sehat

Industri penerbitan buku komik berkembang seiring tumbuhnya minat membaca. Tapi, seturut penelusuran Bonneff, pada paruh akhir 1960-an skala bisnis mereka terhitung kecil dan berumur pendek. Tak butuh modal besar untuk terjun ke bisnis ini.

“Paling tidak, dengan modal kurang dari Rp100.000 orang bisa menerbitkan komik pertama, yang akan menghasilkan keuntungan bersih antara 10% sampai 20% dalam waktu kurang dari satu bulan,” tulis Bonneff (hlm. 78).

Bonneff mencontohkan Penerbit RS yang menerbitkan lima komik per bulan dengan modal sejuta rupiah saja. Bahkan, ada pula Penerbit Sastra Kumala yang mampu menerbitkan sepuluh judul dari komikus kelas dua dengan modal yang lebih kecil. Rata-rata penerbit buku komik sezaman pun berlaku demikian.

Sebagaimana tergambar dari kisah Hasmi dan Wid NS, selera pasar adalah patokan penting bagi penerbit komik. Dua komikus ini boleh saja terkenal sebagai pionir komik superhero, tapi mereka mengawali karier dari genre silat. Kalau saja Hasmi dan Wid NS langsung membuat komik superhero, hampir pasti penerbit akan menolaknya.

Senior mereka, Jan Mintaraga, juga tak terlepas dari rezim selera pasar ini. Ketika pembaca gandrung pada roman remaja pada pertengahan 1960-an, ia membuat komik-komik romantis. Ia lalu beralih menggarap komik-komik silat katika Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH meledak pada 1967.

Karenanya, bagi komikus pemula mengikuti tren bukanlah pilihan, tapi keharusan. Hanya komikus yang sangat terkenal, seperti Ganes TH, yang punya kebebasan kreatif.

“Kondisi kerja seperti itu sama sekali tidak mendorong para komikus untuk meningkatkan kemampuannya atau untuk menegaskan jati dirinya,” tulis Bonneff (hlm. 73).

Komikus pemula atau yang kurang terkenal pun harus puas dengan sistem beli putus manuskrip yang diterapkan penerbit. Hasmi menuturkan di zaman itu belum dikenal sistem royalti atau ikatan kontrak. Para komikus, baik senior maupun pemula, langsung terima honor begitu manuskrip asli diterima penerbit.

Dari kacamata kekinian, ekosistem macam itu jelas tak sehat. Tapi, komikus tak punya pilihan lain.

“Cara pembayaran semua komikus sama seperti itu. Makanya, kami semua tak punya dokumentasi karya sendiri karena naskah tidak dikembalikan. Buat saya dan semua komikus masa itu, tidak ada masalah,” ujar Hasmi sebagaimana dikutip Henry Ismono (hlm. 71).


Penentuan besaran honor komikus tak didasarkan dari tingkat kualitas gambar atau cerita, melainkan dari perkiraan oplah. Dengan perkiraan oplah 1.500 eksemplar, komikus pemula atau medioker lazimnya beroleh honor antara Rp7.500 hingga Rp10.000. Sementara komikus macam Ganes TH atau Jan Mintaraga yang sudah terkenal biasa mengantongi Rp60.000 dengan perkiraan oplah 5.000 eksemplar atau lebih.

Tapi, bagaimana pun, bagi Hasmi muda yang rencananya sedang meletup-letup, standar honor itu sudah terhitung besar. Cukup untuk menjaga mimpinya jadi komikus profesional.

“Bagi saya banyak sekali. Seumur-umur, saya belum pernah punya uang sebanyak itu. Dan saya mampu meraihnya. Luar biasa bangganya. Perasaan Mas Wid juga sama seperti saya,” tutur Hasmi sebagaimana dicatat Henry Ismono (hlm. 69).

Bandung Pusat Penerbitan Komik

Ekosistem penerbitan komik era 1960-an hingga 1970-an boleh saja masih carut-marut, tapi toh tetap bisa menumbuhkan beberapa penerbit buku komik berkualitas.

Jika dirunut ke belakang, komik-komik terawal yang hadir di Indonesia terbit sebagai serial di media massa. Umumnya komik impor dari Amerika atau Eropa. Hingga kemudian muncullah serial Put On karya Kho Wan Gie pada 1931 yang dianggap sebagai komik strip pertama anggitan orang Indonesia.

Hingga Perang Dunia Kedua usai, Indonesia belum mengenal buku komik atau penerbit khusus buku komik. Komik-komik strip di media massa yang populer biasanya akan dikumpulkan dan diterbitkan ulang dalam satu buku. Marcel Bonneff (hlm. 22) menyebut, “Itulah komik buku yang pertama, dan banyak diterbitkan oleh Gapura dan Keng Po di Jakarta, serta oleh Perfectus di Malang.”

Komik yang dibuat dalam format buku dan bisnis penerbitan komik baru ada di awal dekade 1950an. Biangnya adalah Penerbit Melodie yang berkantor di Bandung. Bonnef secara khusus menyebut Melodie sebagai penerbit buku komik perintis dan punya pengaruh terhadap perkembangan komik Indonesia.

Melodie lah yang menerbitkan komik Sri Asih karya R.A. Kosasih yang kemudian didapuk sebagai superhero khas Indonesia pertama. Superhero perempuan lain, Putri Bintang karya Johnlo, juga hadir berkat Melodie. Keduanya terbit hampir bersamaan pada 1954.

Kepeloporan Melodie juga tampak manakala komik-komik superhero ala Barat itu mendapat kritik masyarakat. Masyarakat dan para guru menganggap komik sebagai bacaan tak mendidik. Muatannya pun dianggap berbahaya bagi negara yang saat itu tengah berusaha membentuk jati diri.

Melodie lantas menghadirkan satu solusi berupa komik wayang. Ini adalah genre yang bisa dikatakan khas karena digali dari khazanah budaya sendiri. Maka terbitlah Raden Palasara karya Johnlo dan seri panjang Mahabharata karya Kosasih pada 1955. Kepopuleran genre ini bertahan hingga 1960-an.

Untuk mengikis prasangka buruk orang tua terhadap komik, Melodie juga menerbitkan majalah anak-anak Tjahaja. Majalah bulanan ini sebagian isinya adalah cergam yang dirancang untuk jadi media pembelajaran bagi siswa sekolah dasar.



“Pada 1956, Bandung menjadi pusat produksi komik. Penerbit Melodi telah menyasar dengan tepat dan berhasil menduduki tempat pertama. Berkat pasokan berlimpah dari kelompok kerjanya, dan Kosasih sebagai komikus utamanya, Melodi tidak perlu takut disaingi oleh penerbit lain,” tulis Bonneff (hlm. 28).

Masih di Bandung, pada 1963 muncullah Penerbit Maranatha yang didirikan oleh Marcus Hadi. Terbitan mulanya adalah karya-karya komikus Bandung seperti Usjah Budin, Fasen, dan San Wilantara. Maranatha naik pamornya manakala Kosasih mengalihkan penerbitan komiknya ke penerbit ini.

Selain itu produk unggulan Maranatha adalah serial superhero lokal Labah-labah Merah karya Kus Bramiana. Ada pula serial dagelan Petruk dan Gareng karya Tatang S. Yang juga sangat laku di masa jaya Maranatha adalah komik dongeng HC Andersen.

“Sebelum komik terbit, anak-anak sudah ramai menunggu di depan penerbit Maranatha. Saat itulah terpikir oleh Markus Hadi untuk membuka Toko Buku Maranatha. Halaman rumah pun disulap menjadi ruang toko,” tulis Frans Sartono dalam “Berkelana ke Negeri Wayang Maranatha” yang terbit di Kompas edisi 27 Januari 2013.

Kekhasan Penerbit Medan

Ketika demam komik wayang sedang mewabah di Jawa, penerbit-penerbit di Medan juga coba mengikutinya. Namun, sambutan pembaca di Sumatra rupanya tak sesemarak di Jawa. Walhasil, penerbit komik di Medan mendorong para komikus mengulik tema-tema lokal seperti legenda Minangkabau, Tapanuli, atau Melayu.

Di antara penerbit komik yang cukup besar dan disegani di Medan adalah Firma Harris. Sejak awal berdiri pada 1954 Harris Muda Nasution, sang pemilik, sudah mantap memilih komik sebagai fokus penerbitan. Menurut peneliti komik dan roman Koko Hendri Lubis, penerbit inilah yang ikut membidani para komikus besar Medan.

Seturut penelusuran Koko, kepada Firma Harris lah Taguan Hardjo memasrahkan penerbitan karya monumentalnya, Batas Firdaus. Lain dari itu, dalam katalog Firma Harris juga terpacak komik Dewi Krakatau karya Zam Nuldyn dan Wak Bendil karya Djas.

“Judul-judul komik tadi merupakan karya yang laris manis di pasaran. Firma Harris pun besar bersama komik-komik itu,” tulis Koko dalam bunga rampai esai Kalam yang Menggapai Bumi (2019, hlm. 16).

Selain tema lokal yang khas, komik Medan juga menonjol karena mutu estetikanya. Taguan dikenal karena gambar-gambar realisnya yang ekspresif dan angle yang variatif. Sementara Zam Nuldyn dikenal karena gambarnya yang detail. Karena kekhasan macam itu, Bonneff menandai masa keemasan penerbitan komik Medan sebagai sebuah era tersendiri.

“Namun, para komikus itu tidak memiliki penerus, sehingga pada 1963 sedikit sekali komik yang dihasilkan, dan akhirnya terbitan Medan mati pada tahun 1971,” tulis Bonneff (hlm. 34).

Baca juga artikel terkait KOMIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Windu Jusuf
DarkLight