Sejarah Hari Ini

Sejarah Berdirinya ASEAN & Alasan Diperingati Setiap 8 Agustus

Oleh: Iswara N Raditya, Wisnu Amri Hidayat - 8 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah Hari Ulang Tahun (HUT) ASEAN dimulai dari Deklarasi Bangkok yang disepakati tanggal 8 Agustus 1967.
tirto.id - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Gedung Sekretariat ASEAN yang baru di kawasan Jakarta Selatan, pada 8 Agustus 2019. Tanggal ini bertepatan dengan peringatan sejarah berdirinya ASEAN yang memasuki tahun ke-52 sejak organisasi negara-negara Asia Tenggara itu pertama kali dicetuskan.

ASEAN (Association of South East Asian Nations) atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Perbara) dirintis oleh 5 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Titik mula peringatan sejarah berdirinya ASEAN ditandai dengan dirumuskannya Deklarasi Bangkok pada 8 Agustus 1967.

Dalam buku Association of South East Asian Nations (ASEAN): Sejarah Konstitusi dan Integrasi Kawasan (2014) karya Koesrianti dituliskan, Sekretariat ASEAN dibentuk pada 24 Februari 1976 dan berkedudukan di Jakarta. Hartono Rekso Dharsono dari Indonesia didapuk sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) ASEAN pertama.

Organisasi dalam lingkup regional ini seolah menjadi asa dalam upaya memadukan bangsa-bangsa di Asia Tenggara yang memiliki ragam berbeda-beda. ASEAN juga bertujuan meningkatkan ekonomi, sosial, kebudayaan, perdamaian dan stabilitas, serta meningkatkan kesempatan untuk membahas perbedaan di antara anggotanya dengan damai.

Selanjutnya, negara-negara Asia Tenggara lainnya turut bergabung dengan ASEAN, berturut-turut yaitu Brunei Darussalam pada 7 Januari 1984, Vietnam pada 28 Juli 1995, Laos dan Myanmar pada 23 Juli 1997, serta Kamboja yang masuk pada 30 April 1999.


Asal-Usul Sejarah ASEAN

Dibentuknya ASEAN sebenarnya dipicu dari pertentangan dua negara adikuasa di dunia pasca Perang Dunia Kedua yakni Amerika Serikat kontra Uni Soviet. Keduanya terlibat dalam Perang Dingin sejak 1947 dan berlangsung selama berpuluh-puluh tahun setelah itu.

Dikutip dari ASEAN: Selayang Pandang Edisi 20 (2012), kawasan Asia Tenggara dijadikan sebagai area persaingan ideologi dua negara adikuasa dalam -masa Perang Dingin itu. Perang saudara di Vietnam, sebagai contoh, secara tidak langsung merupakan perang kepentingan antara Blok Timur (Uni Soviet) melawan Blok Barat (Amerika Serikat).

Situasi yang dipenuhi dengan persaingan ideologi serta kekuatan militer ini berpotensi mengganggu stabilitas dan keamanan negara-negara di Asia Tenggara. Oleh karena itu, diperlukan sebuah lembaga yang diharapkan mampu melindungi dan mengayomi sekaligus mempersatukan negara-negara di kawasan ini.


Sebelum ASEAN, sebenarnya sudah ada beberapa organisasi sejenis yang dibentuk di Asia Tenggara, sebut saja SEATO (South East Asia Treaty Organization) pada 1954, Association of Southeast Asia (ASA) pada 1961, dan Malaysia-Philipina-Indonesia (Maphilindo) pada 1963.

Namun, ketiga organisasi regional itu ternyata tidak berkembang lantaran banyak perbedaan kepentingan dan ideologi dari anggota-anggotanya. Negara-negara Asia Tenggara memang punya ragam perbedaan di berbagai sisi, termasuk budaya, agama, latar belakang, ideologi, perekonomian, dan lain sebagainya.

Dari sisi budaya atau latar belakang, misalnya, negara-negara macam Indonesia, Malaysia, Singapura, juga Brunei Darussalam yang berasal dari rumpun Melayu dengan mayoritas penduduk beragama Islam tentu berbeda dengan rumpun Indocina seperti Vietnam, Myanmar, Kamboja, serta Laos, yang warganya lebih banyak menganut ajaran Buddha atau kepercayaan lokal.

Adapun Thailand lebih unik lagi karena terdiri dari perpaduan unsur Indocina dan Melayu. Demikian pula dengan Filipina meskipun pada akhirnya negara ini lebih kental dengan aroma latin karena pernah cukup lama dijajah Spanyol dengan mayoritas penduduk beragama Nasrani.


Begitu pula dari sisi ideologi dan politik. Ada yang menganut sistem demokrasi meskipun masih rapuh seperti Filipina atau Indonesia, ada pula yang masih berbentuk monarki atau kerajaan seperti Thailand dan Brunei Darussalam.

Brunei juga termasuk dalam Negara Persemakmuran Inggris bersama Malaysia dan Singapura, sedangkan Laos dan Vietnam menerapkan pemerintahan komunisme, demikian pula Myanmar (Birma) pernah menjadi penganut republik sosialis.

Eksistensi ASEAN

Seiring dengan tuntutan zaman dan sebagai upaya menghindarkan pengaruh dari dua blok besar yang sedang bertikai di Perang Dingin, maka beberapa pemimpin negara di Asia Tenggara sepakat untuk memadukan perbedaan dengan membentuk perhimpunan yang diharapkan lebih solid dari upaya-upaya sebelumnya.

Maka, duta negara-negara itu berkumpul di Bangkok, Thailand, pada 8 Agustus 1967. Ada Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI), Narsisco Ramos (Menteri Luar Negeri Filipina), Tun Abdul Razak (Wakil Perdana Menteri Malaysia), Sinnathamby Rajaratnam (Menteri Luar Negeri Singapura), serta Thanat Khoman (Menteri Luar Negeri Thailand) sekaligus sebagai tuan rumah.


Mereka menandatangani Deklarasi Bangkok sebagai titik mula berdirinya ASEAN yang mengusung misi: One Vision, One Identity, One Community, atau "Satu Visi, Satu identitas, dan Satu Komunitas."

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pertama kali diadakan pada 1976 di Bali. Dalam KTT perdana ini, ASEAN menyatakan kesiapan untuk mengembangkan hubungan bermanfaat dan kerja sama yang saling menguntungkan antar-negara.

Berbagai bentuk kerja sama pun terjalin, termasuk dalam bidang politik, keamanan, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, penanganan bencana alam, kesehatan, dan lainnya.

Kemudian, muncul usulan penyusunan Piagam ASEAN. Dikutip dari Constructing a Security Community in Southeast Asia (2014) karya Amitav Acharya, piagam ini bertujuan untuk mentransformasikan ASEAN dari asosiasi yang longgar menjadi organisasi internasional dengan dasar hukum dan struktur yang efektif dan efisien.


Usulan ini muncul dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-11 tahun 2005 di Malaysia. Piagam ini akhirnya terwujud dalam KTT ASEAN ke-14 di Singapura pada 2007. Tanggal 15 Desember 2008, Piagam ASEAN diluncurkan di Jakarta.

Pada perkembangannya, ASEAN juga merajut kemitraan dengan negara-negara di luar Asia Tenggara, terutama negara-negara di Asia yang dianggap lebih maju seperti Jepang, Cina, Korea Selatan, bahkan India.

Saat meresmikan gedung baru Sekretariat ASEAN pada 8 Agustus 2019 yang dihadiri oleh para menteri luar negeri negara-negara anggota, Presiden Jokowi berharap organisasi ini tetap solid dalam menyongsong perkembangan dunia yang sangat pesat.

"Oleh karena itu, ASEAN harus dapat mempertahankan relevansinya, relevan bagi perkembangan baru dunia, relevan bagi pemenuhan kepentingan rakyat ASEAN, dan ASEAN harus bekerja lebih cepat dalam merespons perubahan yang sangat cepat," tandas Jokowi dalam sambutannya.

Baca juga artikel terkait ASEAN atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya & Wisnu Amri Hidayat
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Wisnu Amri Hidayat
Penulis: Iswara N Raditya & Wisnu Amri Hidayat
Editor: Abdul Aziz
DarkLight