27 Juni 1967

Sejarah ATM dan Nubuat Kepunahan yang Kian Nyata di Era Non-Tunai

Oleh: Joan Aurelia - 27 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
ATM diciptakan untuk mempermudah transaksi. Eksistensinya mulai terancam di era non-tunai.
tirto.id - Tiga tahun sebelum meninggal, John Shepherd-Barron, penemu automated teller machine (ATM), bernubuat bahwa pada 2015 seluruh transaksi yang terjadi di bumi ini akan dilakukan secara non-tunai. Uang kertas dan koin tak lagi diminati. Dengan demikian, mesin penarik uang ciptaannya pun terancam punah.

Prediksi John bisa dikatakan meleset tetapi tidak sepenuhnya keliru.

Februari lalu, Telegraph mengabarkan bahwa selama Juli-Desember 2018 ada sekitar 500 ATM di Inggris yang ditutup setiap bulannya. Bila ditotal, sebanyak 4.700 ATM ditutup pada tahun tersebut. Jumlah itu meningkat cukup tajam bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2017, misalnya, ATM yang ditutup di Inggris "hanya" berjumlah 1.400.

Dua juta warga Inggris dilaporkan hanya melakukan transaksi menggunakan uang tunai sekali dalam sebulan. Keadan ini bikin 8 juta orang Inggris yang bergantung pada transaksi tunai jadi ketakutan. Bagi mereka, beralih ke transaksi digital bukanlah hal yang mudah atau bahkan memungkinkan untuk dilakukan.

Senjakala ATM ini terjadi di tanah kelahiran mesin tersebut.

90 Detik yang Mengubah Dunia Perbankan

Suatu hari pada 1965 John menghabiskan sebagian waktu mandi untuk melamun sambil memikirkan cara agar ia bisa mengakses uang kapan pun ia mau. Waktu itu bank di Inggris hanya beroperasi pada hari kerja hingga pukul 15.30. Kebijakan tersebut mulai mempersulit warga Inggris yang membutuhkan uang dalam kondisi tak terduga.

Menarik uang di bank juga bukan aktivitas yang menyenangkan, apalagi menjelang akhir pekan. Biasanya pada waktu tersebut publik berbondong-bondong ke bank guna mengambil uang yang hendak dipakai untuk hiburan akhir pekan.

“Pasti ada cara agar aku bisa mengambil uangku di negara mana pun aku berada atau di Inggris. Lalu aku teringat dispenser cokelat batangan dan membayangkan mengganti cokelat dengan uang,” kata John yang kala itu bekerja di De La Rue, perusahaan percetakan berbagai jenis kertas yang dilengkapi perangkat keamanan seperti lembar legalisasi paspor, banknote, dan cap pajak.

Tak disangka, beberapa waktu setelah John memikirkan ide mesin uang, ia tak sengaja berjumpa presiden bank Barclays dalam sebuah jamuan makan siang.

“Aku minta 90 detik waktunya untuk mendengarkan penjelasan ideku. Di detik ke-85, ia menyetujuinya. Katanya, ‘Kalau kamu memang benar mau membuat benda yang kamu bicarakan ini, aku akan membelinya,’” kenang John.

Beberapa hari setelah pertemuan, John diundang ke kantor Barclays guna bertemu sejumlah pejabat bank dan kembali mempresentasikan idenya. Barclays sepakat bekerja sama dengan John dan memintanya menciptakan enam buah mesin yang dimaksud. John berhasil merampungkan mesin itu dua tahun kemudian. Akhirnya, pada 27 Juni 1967, tepat hari ini 52 tahun lalu, mesin yang awalnya disebut cash dispenser ini diresmikan.

Satu ATM dipasang di London. Sisanya dibuat untuk dijual ke AS. Pada saat itu para bankir AS tidak langsung menyambut penemuan John dengan sukacita. ATM dianggap benda aneh ciptaan orang Eropa yang tidak akan laku di AS.

Nyatanya, pemikiran skeptis itu tidak berlangsung lama. Beberapa waktu setelah mesin ATM dioperasikan di Inggris, salah satu bank di Pennsylvania memesan beberapa ATM.

Mantan karyawati Barclays, Carole Graygoose, bercerita kepada jurnalis Telegraph bahwa masa awal beroperasinya ATM adalah periode yang sibuk. Ia dan kawan-kawan kerap lembur untuk memastikan tidak ada kekeliruan jumlah saldo tiap pengguna ATM. Dan semua itu dihitung dan dicatat secara manual dalam pembukuan bank.

Ia pun mesti mempersiapkan voucher yang berfungsi sebagai "kartu debit" pada masanya. Kala itu setiap orang yang hendak mengambil uang di ATM akan diberi voucher senilai 10 poundsterling dan kode rahasia untuk memvalidasi transaksi. Setiap orang yang hendak mengambil uang lebih dari 10 poundsterling harus memiliki tambahan voucher.

Akankah Punah?

Profesor sejarah bisnis dan manajemen bank dari Universitas Bangor, Bernardo Batiz-Lazo, menganggap kemunculan ATM seketika mengubah pola konsumsi masyarakat Inggris terutama dalam memanfaatkan penghasilan untuk bersenang-senang di akhir pekan.

Dalam tulisannya yang dipublikasikan Conversation, Bernardo mencatat bahwa beberapa minggu setelah ATM pertama diresmikan, muncul mesin serupa di sekitar kota London dan Swedia.

Kemunculan mesin dalam waktu berdekatan di beberapa negara membuat Bernardo berpikir bahwa beberapa teknisi di sejumlah negara secara kebetulan memikirkan tentang inovasi yang sama.

Infografik Mozaik Mesin ATM
Infografik Mozaik Mesin ATM. tirto.id/Nauval


Beberapa bulan sebelum ATM diresmikan, mesin penarik uang muncul di Jepang. Satu minggu setelah Barclays meluncurkan mesin ini, sebuah bank di Swedia meresmikan satu mesin di salah satu kota. Setelah Barclays mendeklarasikan mesin ATM, sejumlah perusahaan di Inggris mulai mengerahkan para insinyurnya untuk membuat mesin serupa. Sejak itu ATM mulai populer.

Pada 1970 ada 1.500 ATM di seluruh dunia dengan penyebaran terbanyak di kawasan Eropa, Amerika Utara, dan Jepang. Sepuluh tahun kemudian jumlahnya meningkat jadi 40.000. Pada 2000-an jumlah ATM mencapai jutaan.

Menurut Bernardo, ada beberapa hal yang menyebabkan inovasi ATM cepat tersebar. Pertama, terciptanya sistem jaringan bersama—semacam Link—yang tersebar di AS dan Jepang. Kedua, fungsi ATM terus berkembang. Mulai dari benda yang hanya bisa dioperasikan menggunakan voucher, kemudian menjelma jadi mesin yang bisa menggunakan kartu dan pin. ATM juga sanggup melakukan berbagai transaksi lain seperti transfer dana dan jadi medium pembayaran.

Di tengah wacana soal cashless society, Bernardo yakin ATM akan terus bertahan melintasi zaman.

Keyakinan tersebut muncul di tengah kabar suram terkait masa depan mesin ini. Negara-negara seperti India, Cina, dan Jepang konsisten mengurangi jumlah ATM. Kabar itu juga terbit bersamaan dengan laporan yang menyatakan warga negara Swedia, India, Cina, Nigeria, dan Korea Selatan semakin nyaman melakukan transaksi non-tunai.

Baca juga artikel terkait PERBANKAN atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Ivan Aulia Ahsan