Sejarah Ideologi Dunia

Sejarah & Arti Fasisme: Ciri, Tujuan, Tokoh, Contoh Negara Penganut

Kontributor: Nurul Azizah - 18 Mei 2022 00:20 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Apa itu pengertian Fasisme, sejarah kemunculannya, siapa saja tokohnya, serta contoh negara mana saja penganutnya?
tirto.id - Sejarah Fasisme muncul dan berkembang usai Perang Dunia I (1914-1918) atau dekade 1920-an. Fasisme pernah menjadi paham atau ideologi besar yang dianut oleh beberapa negara di dunia. Lantas, apa itu pengertian Fasisme, bagaimana sejarah kemunculannya, siapa saja tokohnya, serta mana saja contoh negara penganutnya?

Dikutip dari Mengenal Ideologi-ideologi di Dunia (2008) karya R. Deni Muhammad Danial, definisi ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata "ideologi" diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 M.

Ideologi merupakan suatu pandangan menyeluruh sebagai cara memandang segala sesuatu, akal sehat, atau serangkaian ide yang dikemukakan oleh kelas masyarakat yang lebih banyak kepada seluruh anggota masyarakat.

Banyak ideologi terkenal di dunia yang konsep dan sistemnya telah berpengaruh terhadap sejarah kehidupan manusia. Beberapa ideologi besar tersebut antara lain: Kapitalisme, Liberalisme, Marxisme, Sosialisme, Nasionalisme, Demokrasi, Feminisme, Anarkisme, Fasisme, dan lainnya.


Apa itu Fasisme dan Pengertiannya

Fasisme atau Facism atau Fascismo berasal dari kata Latin fasses yang merupakan simbol otoritas hakim sipil pada masa Romawi Kuno dengan wujud serumpun batang yang diikatkan di kapak. Secara etimologi, fasis dapat diartikan sebagai kejayaan.

Fasisme adalah suatu sikap nasionalisme yang berlebihan dan merupakan suatu paham yang mengedepankan bangsa sendiri dan memandang rendah bangsa lain. Dengan kata lain, Fasisme merupakan sikap nasionalisme yang berlebihan.

Prinsip kepemimpinan dalam negara Fasisme didasarkan pada otoritas yang mutlak atau absolut. Perintah pemimpin dan kepatuhan berlaku tanpa pengecualian.

Dalam Fasisme, pengorganisasian masyarakat dan pemerintahan dilakukan secara totaliter oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat nasionalis, rasialis, militeris, dan imperialis.


Fasisme merupakan fenomena di negara industri, tetapi berbeda dengan komunisme yang merupakan fenomena di negara miskin.

Muhajir Affandi dalam Komunikasi Propaganda: Suatu Pengantar (2017), Fasisme merupakan gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Fasisme berusaha mengatur bangsa menurut persprektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi.

Fasisme berasal dari filsafat radikal yang muncul dari masa Revolusi Industri (1760-1850) di Eropa, yakni sindikatisme. William Ebenstein dalam Isme-Isme yang Mengguncang Dunia (2006) memaparkan 7 (tujuh) unsur pokok Fasisme, yakni:

  1. Ketidakpercayaan kepada kemampuan nalar;
  2. Pengingkaran derajat kemanusiaan;
  3. Kode perilaku yang didasarkan pada kekerasan dan kebohongan;
  4. Pemerintahan oleh kelompok elite;
  5. Totaliterisme;
  6. Rasialisme dan Imperialisme; serta
  7. Menentang hukum dan ketertiban internasional.

Sejarah Ideologi Fasisme

Istilah "Fasisme” pertama kali digunakan di Italia oleh pemerintahan pimpinan Benito Mussolini yang menjabat sebagai perdana menteri sejak 1922 hingga 1943. Pada 1921, Mussolini mendirikan Partito Nazionale Fascista (PFN) atau Partai Fasis Nasional dan menempati posisi sebagai Duce Fascism atau Pemimpin Fasisme.

Paham Fasisme dan Komunisme adalah dua gejala dari penyakit yang sama. Keduanya sering dikelompokkan sebagai sistem totaliter. Keduanya sama dalam hal pemerintahan, yaitu kediktatoran satu partai.

Pada masa Perang Dunia II (1939-1945), Fasisme semakin menguat. Ada Italia, Jerman, dan Jepang, yang ingin meluaskan pengaruh ekstra-nasionalis mereka. Usai Perang Dunia II, ideologi fasisme seakan-akan berakhir, tetapi sebenarnya tidak demikian.

Sebagai sebuah produk pemikiran, benih-benih fasisme akan terus ada selama terdapat kondisi obyektif yang membentuknya. William Ebenstein dalam Isme-Isme yang Mengguncang Dunia (2006) mengatakan bahwa "jika Komunisme adalah pemberontakan pertama terhadap Liberalisme, maka Fasisme adalah pemberontakan kedua".

Fasisme muncul dengan pengorganisasian pemerintahan dan masyarakat secara totaliter, kediktatoran partai tunggal yang bersifat ultra-nasionalis, rasis, militeris, dan imperialis. Fasisme muncul di masyarakat pasca-demokrasi dan pasca-industri. Fasisme ada di negara yang memiliki pengalaman demokrasi.


Hal-hal yang penting dalam pembentukan suatu karakter negara Fasisme adalah militer, birokrasi, prestise individu sang diktator, dan yang terpenting adalah dukungan massa. Semakin keras pola kepemimpinan suatu negara fasis, semakin besar pula dukungan yang didapatnya.

Kondisi penting lainnya dalam pertumbuhan negara Fasisme adalah perkembangan industrialisasi. Kemunculan negara industri akan memunculkan ketegangan sosial dan ekonomi.

Jika Liberalisme adalah penyelesaian ketegangan dengan jalan damai yang mengakomodasi kepentingan yang ada, maka Fasisme mengingkari perbedaan kepentingan secara paksaan.

Fasisme mendapat dukungan pembiayaan dari pelaku industri dan tuan tanah. Kedua kelompok ini mengharapkan lenyapnya gerakan serikat buruh yang dianggap menghambat kemajuan proses produksi dalam industri.

Sumber dukungan lain bagi rezim fasis adalah kelas menengah, terutama pegawai negeri. Mereka melihat Fasisme adalah sarana untuk mempertahankan prestise sekaligus perlindungan politik.

Fasisme juga memerlukan dukungan dari kaum militer, seperti yang pernah berlaku di Jerman, Italia, dan Jepang, sebagai jalan menuju militerisasi rakyat.

Meskipun Fasisme bukan merupakan akibat langsung dari depresi ekonomi, sebagaimana teori Marxisme, tetapi jelas kaum fasis memanfaatkan hal itu. Banyaknya angka pengangguran akibat depresi, melahirkan kelompok yang secara psikologis menganggap dirinya tidak berguna dan diabaikan.

Saat hal ini terjadi, maka Fasisme bekerja dengan memulihkan harga diri dengan menunjukkan bahwa mereka adalah ras unggul sehingga mereka merasa dimiliki. Dengan modal inilah, Fasisme memperoleh dukungan dari rakyat lapisan bawah.


Tujuan dan Ciri-ciri Negara Fasisme

Pengamat politik asal Jerman, Timo Duile, mengungkapkan bahwa ideologi Fasisme selalu membayangkan adanya musuh sehingga pemimpin dan militer harus kuat dalam menjaga negara.

Gerakan Fasisme memiliki satu tujuan: menghancurkan musuh yang dikonstruksikan dalam kerangka konspirasi atau ideologi lain.

Menurut pola pikir Fasisme, musuh ada di mana-mana, baik di medan perang maupun bangsa sendiri jika tidak sesuai dengan ideologi negara.

Ideologi Fasisme tidak mengenal individualitas manusia dan keberagaman. Pengikut Fasisme menjadi massa yang seragam, individu hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan gerakan ini.

Adapun ciri-ciri ideologi Fasisme adalah sebagai berikut:

  • Kepemimpinan otoritas mutlak atau absolut, pengikut menjadi massa yang seragam.
  • Militerisme menjadi unsur penting karena Fasisme selalu membayangkan negara dalam keadaan bahaya dan terancam oleh musuh.
  • Musuh dikonstruksi dalam kerangka konspirasi atau ideologi.
  • Ideologi identitas yakni sebuah unsur harus murni yang terbebas unsur-unsur lain yang menganggap sebagai unsur yang tidak asli.
  • Lekat dengan teror.

Contoh Negara Penganut Fasisme dan Tokohnya

Beberapa negara di dunia yang pernah menganut ideologi Fasisme adalah Italia, Jerman, Spanyol, Yunani, Hungaria, dan Jepang. Ideologi yang mulai berkembang pada dekade 1920-an ini semakin berpengaruh semasa pecahnya Perang Dunia II pada 1939 hingga 1945.

Negara-negara Fasisme tersebut dipimpin oleh tokoh fasis yang pernah sangat digdaya pada masanya, yakni Benito Mussolini di Italia, Adolf Hitler di Jerman, Francisco Franco alias Jenderal Franco di Spanyol, Ioannis Metaxas di Yunani, Ferenc Szalasi di Hungaria, serta Perdana Menteri Jepang pada masa Kaisar Hirohito yaitu Hideki Tojo.

Berikut ini daftar negara yang pernah menganut ideologi Fasisme beserta pemimpin dan masa berkuasanya:

  • Italia: Benito Mussolini (1922-1943)
  • Jerman: Adolf Hitler (1933-1945)
  • Spanyol: Francisco Franco (1939-1975)
  • Yunani: Ioannis Metaxas (1936-1941)
  • Hungaria: Ferenc Szalasi (1944-1946)
  • Jepang: Hideki Tojo (1941-1944)

Selain para pemimpin Fasime di atas, ada pula beberapa nama lainnya yang juga pernah dikenal sebagai tokoh gerakan Fasisme di dunia, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Otto Strasser
  • José Antonio Primo de Rivera
  • Ramiro Ledesma Ramos
  • Ante Pavelić
  • Italo Balbo
  • Corneliu Zelea Codreanu
  • Horia Sima
  • Giovanni Gentile
  • Julius Evola
  • Gabriele D'Annunzio
  • Giuseppe Bottai
  • Galeazzo Ciano
  • Achille Starace
  • Engelbert Dollfuss
  • Ernst Rüdiger Starhemberg
  • Georges Valois
  • Marcel Bucard
  • Joseph Darnand
  • Jacques Doriot
  • Marcel Déat
  • Seigō Nakano
  • Sadao Araki
  • Shūmei Ōkawa
  • Ikki Kita
  • Oswald Mosley
  • Léon Degrelle
  • Joris Van Severen
  • Eoin O'Duffy
  • Davud Monshizadeh
  • Vidkun Quisling
  • Dimitrije Ljotić
  • Plínio Salgado
  • Francisco Rolão Preto
  • Konstantin Rodzaevsky
  • Abba Achimeir
  • Adrien Arcand
  • Milan Stojadinović
  • Jozef Tiso
  • William Dudley Pelley
  • Jorge González von Marées
  • Salvador Abascal
  • Zoltán Böszörmény
  • Maurice Bardèche

Baca juga artikel terkait FASISME atau tulisan menarik lainnya Nurul Azizah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Nurul Azizah
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight