Sejarah Aliran Jabariyah, Pemikiran, dan Perbedaan dengan Qadariyah

Oleh: Abdul Hadi - 24 Juli 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah aliran Jabariyah tidak terlepas dari respons sejumlah tokoh muslim pada awal perkembangan Islam terhadap kemunculan paham Qadariyah.
tirto.id - Manusia hanyalah wayang dalam pentas semesta. Dalang pertujukannya adalah Tuhan. Segala hal yang terjadi pada wayang adalah kehendak sang Dalang. Wayang tidak memiliki kemampuan apa pun untuk memutuskan nasibnya sendiri.

Ilustrasi di atas adalah saripati pemikiran aliran Jabariah yang kerap pula disebut fatalisme. Dalam sejarah perkembangan ilmu kalam Islam, paham Jabariyah muncul sebagai respons pada lahirnya aliran Qadariyah.

Apa perbedaan antara aliran Jabariyah dan Qadariyah yang paling mendasar?

Perbedaannya terletak pada paham tentang bagaimana posisi di hadapan kuasa Allah SWT. Aliran Qadariyah meyakini bahwa manusia memiliki kekuasaan penuh atas perbuatannya sendiri. Adapun paham aliran Jabariyah berada di kutub sebaliknya.

Dalam paham Jabariyah, pendapat Qadariyah yang menyatakan manusia memiliki kehendak yang bebas dan daya buat menentukan nasibnya sendiri, sudah melenceng dari ajaran Islam. Menjawab kemunculan Qadariyah, paham ini hadir menjadi aliran tersendiri.


Sejarah Aliran Jabariyah dan Pemikiran para Tokohnya

Dari sisi bahasa, Jabariyah berasal dari bahasa Arab, "jabara" yang artinya memaksa. Jadi, orang-orang Jabariyah menganggap bahwa semua perbuatan manusia adalah "terpaksa".

Mereka meyakini manusia tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kehendak dan nasibnya. Segala tindak-tanduknya, mulai ia lahir, bekerja, siapa jodohnya, hingga ajalnya sudah ditentukan Allah SWT.

Tidak hanya itu, selepas ia mati pun, Allah sudah menentukan apakah ia masuk surga atau neraka. Manusia tidak ikut campur sedikit pun atas takdir yang ia miliki. Maka itu, Asy-Syahratasāni pernah menulis, paham Jabariyah menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan secara mutlak menyandarkanya kepada Allah SWT.

Dalil paham ini berasal dari banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW, di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini:

“Dan kamu tidak menghendaki [menempuh jalan itu] kecuali bila dikehendaki Allah” (Q.S. Al-Insan [76]: 30). Pada surah Al-An'am ayat 111, Allah berfirman: “Mereka sebenarnya tidak percaya sekiranya Allah tidak menghendaki,” (Q.S. Al-An’am [6]: 111).

Aliran Jabariyah lahir di Khurasan, Persia, dengan tokohnya bernama Jaham bin Shafwan. Nama lain dari Jabariyah adalah Jahmiyah yang dinisbahkan kepada nama Jaham bin Shafwan.

Sebenarnya, aliran ini dicetuskan pertama kali oleh Ja'ad bin Dirham, barulah kemudian diteruskan oleh Jaham bin Shafwan.

Karena pahamnya yang serba pasrah, khalifah pertama dari dinasti Umayyah, Muawiyah bin Abu Sufyan "mempolitisasinya" sehingga Jabariyah jadi aliran yang memperoleh dukungan pemerintah Daulah Umayyah (Siswanto, dalam Akidah Akhlak, 2020).

Terdapat sejumlah tokoh aliran Jabariyah yang berpengaruh dalam sejarah pemikiran ilmu kalam. Dari pemikiran tokoh-tokoh itu, aliran Jabariyah terbagi menjadi dua paham lagi.

Pertama, Jabariyah ekstrem yang dipelopori Ja'ad bin Dirham dan Jaham bin Shofwan. Sementara yang kedua adalah Jabariyah moderat yang dipengaruhi oleh An-Najjar dan Ad-Dhirar.

Pemikiran para tokoh itu adalah sebagai berikut, sebagaimana dikutip dari buku Studi Ilmu Kalam (2015) yang ditulis oleh Didin Komarudin.

1. Ja'ad bin Dirham dan Jaham bin Shafwan

Ja'ad bin Dirham adalah pencetus awal aliran Jabariyah. Setelah diusir dari Damaskus, Ja'ad pindah ke Kufah dan meneruskan ajarannya. Salah satu muridnya adalah Jaham bin Shafwan yang menjadikan aliran Jabariyah kian populer di kalangan umat Islam kala itu.

Menurut Ja'ad bin Dirham dan Jaham bin Shafwan, manusia adalah makhluk yang tak memiliki kehendak apa pun. Allah yang mengendalikan segala perbuatan manusia. Aliran Jabariyah ekstrem dari kedua tokoh ini meyakini fatalisme dan manusia adalah sosok pasif dalam kehidupan dunia.

Selain itu, aliran Jabariyah ekstrem juga berpandangan bahwa surga dan neraka tidaklah kekal. Menurut pendapat mereka, yang kekal di alam semesta ini adalah Allah SWT. Jika surga dan neraka juga kekal, maka keduanya akan menyaingi sifat Allah yang Maha Kekal.

2. An-Najjar dan Ad-Dhirar

Husain bin Muhammad An-Najjar dan Dhirar bin Amr sebenarnya juga meyakini bahwa Allah SWT memang mengendalikan semua perbuatan manusia. Namun, ia berpendapat manusia pun memiliki peran dalam mewujudkan perbuatan tersebut.

Pendapat kedua tokoh tersebut berdasarkan firman Allah SWT dalam Al-Quran berikut ini:

“Allah-lah yang menciptakan kamu apa yang kamu kerjakan” (Q.S. As-Shaffat [37]: 96). Dalam surah Al-Balad ayat 10, Dia SWT juga berfirman: "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan [jalan kebaikan dan keburukan. Manusia bebas memilih jalan yang mana]," (QS. Al-Balad [90]: 10).

Menurut pendapat mereka, jika manusia tidak memiliki kehendak bebas sama sekali, maka akan sangat tidak adil jika manusia diganjar dosa atas perbuatan buruknya atau memperoleh pahala atas amalan baiknya.

Pemikiran An-Najjar dan Ad-Dhirar melandasi perkembangan kelompok Jabariyah moderat yang tidak serta-merta menganggap manusia mutlak tunduk pada takdir, melainkan juga berpartisipasi dalam memutuskan segala perbuatannya.


Baca juga artikel terkait SEJARAH ISLAM atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Addi M Idhom
DarkLight