Sejarah Ahmad Dhani: Lawan yang Jadi Kawan FPI dan Kini Masuk Bui

Oleh: Iswara N Raditya - 29 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Dhani pernah dilaporkan FPI pada 2004. Namun, keduanya justru jadi satu kubu saat menyikapi dugaan penodaan agama oleh BTP.
tirto.id - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah menjatuhkan vonis 1,5 tahun penjara kepada Ahmad Dhani Prasetyo, Senin (29/1/2019). Majelis Hakim menyatakan pentolan band Dewa 19 ini terbukti bersalah atas perkara ujaran kebencian. Sejarah hidup Ahmad Dhani memang kerap kontroversial. Bermula dari musik, lalu terjun ke politik praktis, dan kini masuk bui.

Ahmad Dhani lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 26 Mei 1972. Ayahnya, Eddy Abdul Manaf bin Rusta Sastra Atmadja, berasal dari Garut, Jawa Barat. Sedangkan sang ibunda, Joyce Theresia Pamela Kohler, perempuan berdarah Jerman. Kakak tiri Dhani, Dadang S. Manaf, adalah sosok yang menginspirasinya bermain musik.

Tahun 1986, Dhani dan tiga temannya sesama siswa SMP Negeri 6 Surabaya, yakni Andra Junaidi Ramadhan (gitar), Erwin Prasetya (bass), dan Wawan Juniarso (drum), membentuk band bernama Dewa 19. Bersama Ari Lasso yang masuk belakangan, Dhani dan band-nya mulai merintis karier di kancah musik.

Musisi Calon Legenda

Ahmad Dhani merantau ke Jakarta pada 1991 untuk menawarkan lagu-lagu ciptaannya yang dibawakan Dewa 19. Setahun kemudian, upayanya membuahkan hasil. Album perdana bertajuk Dewa 19 yang dirilis pada 1992 laris di pasaran. Album-album selanjutnya pun tak kalah sukses, dari Format Masa Depan (1994), Terbaik Terbaik (1995), juga Pandawa Lima (1997).

Kehilangan Ari Lasso yang kala itu terjerat narkoba tidak membuat Dewa 19 ditinggalkan penggemarnya. Kejelian Dhani menggaet Elfonda Mekel alias Once untuk mengisi vokal membuat Dewa (nama band yang dipakai saat itu) justru semakin berkibar.

Dewa formasi baru meluncurkan beberapa album yang hampir seluruhnya meledak di pasaran, yakni Bintang Lima (2000), Cintailah Cinta (2002), Atas Nama Cinta I & II (2004), Laskar Cinta (2004), Republik Cinta (2006), dan Kerajaan Cinta (2007). Tak dapat dipungkiri, Dhani adalah otak di balik kegemilangan ini.



Majalah MTV Trax edisi perdana tahun 2002 memasukkan Ahmad Dhani dalam jajaran “25 Musisi/Grup Paling Berpengaruh dalam Musik Indonesia. Selanjutnya, Majalah Rolling Stone juga menempatkannya ke dalam daftar “The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa.”

Pada 2011, Once mengundurkan diri dari Dewa yang membuat band ini terpaksa vakum membikin album. Dewa tertidur, nama Dhani bukannya luntur, tapi justru semakin masyhur. Ia membentuk Republik Cinta Manajemen (RCM) yang melahirkan serta menaungi banyak band dan musisi yang diidolakan publik.

Kontroversi Ahmad Dhani

Setelah peluncuran album Laskar Cinta (2004), Ahmad Dhani harus berurusan dengan Front Pembela Islam (FPI). Ormas pimpinan Rizieq Shihab ini bahkan melaporkan Dhani ke Polda Metro Jaya pada 25 April 2005.

Dewa dianggap telah menyalahgunakan simbol-simbol Islam lantaran memuat kaligrafi bertuliskan “Allah” di sampul album Laskar Cinta. Dhani dan rekan-rekannya di Dewa juga dituding melecehkan Islam karena menginjak-injak karpet merah bertuliskan “Allah” saat konser yang disiarkan di televisi.

Kasus ini pada akhirnya berakhir damai. Dhani lolos dari jerat hukum setelah Dewa melakukan revisi logo dan mencetak ulang sampul albumnya yang kontroversial itu. Bahkan, nantinya Dhani dan FPI justru bergabung menjadi satu kubu dalam menyikapi dugaan penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Selain itu, Dhani sering pula tampil di layar kaca dengan menjadi juri beberapa program ajang pencari bakat yang cukup fenomenal macam Indonesian Idol, X-Factor, Rising Star Indonesia, juga acara-acara lainnya.

Dhani kian jadi sorotan lantaran kehidupan pribadinya yang kontroversial, termasuk perceraiannya dengan Maia Estianty. Dhani lalu menikahi Mulan Jameela yang pernah menjadi rekan duet mantan istrinya di Duo Ratu.

Kisah kontroversial lainnya adalah ketika putra ketiganya, Abdul Qodir Jaelani alias Dul yang saat itu masih berusia 13 tahun, mengalami kecelakaan di Tol Jagorawi pada 8 September 2013. Mobil yang dikemudikan Dul tak terkendali dan mengakibatkan 7 korban tewas.


Berpolitik, Bui Menanti

Menjelang Pemilu 2014, Ahmad Dhani cukup aktif menyuarakan dukungannya kepada salah satu calon presiden yang bertarung kala itu, yakni Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Hatta Rajasa, menghadapi Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK).

Sebelumnya, Dhani telah menunjukkan minatnya di ranah politik dengan mendukung pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Herman S. Sumawiredja dalam Pilgub Jawa Timur pada 2013. Dhani sempat pula dekat dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Nama Ahmad Dhani bahkan sempat masuk dalam bursa Pilgub DKI Jakarta 2017 meskipun pada akhirnya ia batal diusung partai manapun. Namun, Dhani tetap vokal dalam prosesi Pilgub DKI Jakarta ini.

Musisi jenius ini kerap menyoroti Ahok dan akhirnya tersandung perkara ujaran kebencian terkait twit-twitnya terhadap tokoh yang kemudian kalah di Pilgub DKI Jakarta dan harus masuk penjara lantaran kasus penodaan agama tersebut.


Gagal bertarung di ibu kota, Dhani akhirnya maju ke Pilkada Kabupaten Bekasi 2017 sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Sa'duddin yang diusung PKS, Gerindra, dan Partai Demokrat.

Akan tetapi, jumlah suara yang diraih pasangan Sa'duddin dan Ahmad Dhani kalah dari pasangan Neneng Hassanah Yasin dan Eka Supria Atmaja yang disokong oleh Golkar, NasDem, PAN, dan Hanura. Neneng kini menjadi tersangka dalam kasus suap Meikarta.

Menyongsong Pilpres 2019, Dhani kerap melancarkan komentar miring terhadap Jokowi yang menjadi Presiden RI ke-7 setelah memenangkan Pilpres 2014. Dhani yang lantas bergabung dengan Gerindra kini maju sebagai caleg untuk Pemilu 2019, bersama dengan istrinya, Mulan Jameela.

Namun, ambisi Dhani untuk bisa duduk di parlemen sebagai wakil rakyat di parlemen untuk Pemilu 2019 barangkali susah terwujud menyusul vonis 1,5 tahun penjara atas perkara ujaran kebencian yang diputuskan, kemarin. Ia kini bakal hidup di balik jeruji besi Lapas Cipinang Jakarta Timur, sembari menunggu proses banding berjalan di tingkat Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Baca juga artikel terkait KASUS AHMAD DHANI atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight