Kronik

Sejarah 3 Januari: Lahirnya Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan

Oleh: Iswara N Raditya - 3 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah lahirnya Aisyiyah sebagai bagian dari Muhammadiyah tidak terlepas dari peran sentral Nyai Ahmad Dahlan, sang pejuang emansipasi perempuan.
tirto.id - Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan lahir pada 3 Januari 1872, hari ini tepat 146 tahun silam, di Kauman, Yogyakarta. Ia adalah istri pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, juga salah satu tokoh emansipasi perempuan Indonesia abad ke-20 atau semasa era pergerakan nasional, yang diperjuangkannya melalui Aisyiyah. Berikut ini sejarah hidup Nyai Ahmad Dahlan.

Nyai Ahmad Dahlan selalu setia mendampingi suaminya dan Muhammadiyah. Bahkan, setelah Haji Dahlan meninggal dunia pada 1923, ia terus aktif di Muhammadiyah dan Aisyiyah. Nyai Ahmad Dahlan wafat pada 31 Mei 1946 setelah turut memberikan sumbangsih kepada tokoh-tokoh bangsa yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Berikut ini jejak-rekam dan sejarah hidup Nyai Ahmad Dahlan:

1872
Putri Kauman
Lahir dengan nama Siti Walidah pada 3 Januari 1872 di Kauman, kampung yang berada di dalam lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ayahnya, K.H. Muhammad Fadli, adalah seorang ulama besar dan masih berkerabat dengan keluarga istana.
_____________________________

1889
Menikah
Tahun 1889, Siti Walidah melangsungkan perkawinan dengan Ahmad Dahlan yang masih terhitung kerabat dengannya. Setelah menikah, ia lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan. Pasangan ini dikaruniai 6 orang anak.

_____________________________

1914
Sopo Tresno
Nyai Ahmad Dahlan bersama suaminya mendirikan Sopo Tresno pada 1914, atau dua tahun setelah Muhammadiyah dicetuskan. Sopo Tresno adalah semacam kelompok diskusi untuk mendalami makna Alquran, terutama ayat-ayat tentang perempuan. Selain itu, Sopo Tresno juga menjadi wadah bagi kaum perempuan untuk belajar membaca dan menulis serta mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
_____________________________

1917
Aisyiyah
Sopo Tresno semakin besar dan anggotanya pun kian bertambah. Maka, diputuskan untuk mengganti nama perkumpulan ini menjadi Aisyiyah, diresmikan pada 22 April 1917. Nyai Ahmad Dahlan ditunjuk sebagai pemimpinnya.
_____________________________

1922
Emansipasi Wanita
Tahun 1922, Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah secara organisasi. Berdirilah sekolah-sekolah khusus perempuan di bawah naungan Aisyiyah. Nyai Ahmad Dahlan pun semakin giat memperjuangkan emansipasi wanita. Ia tidak setuju dengan konsep patriarki dan menilai seorang istri adalah mitra bagi suaminya. Nyai Ahmad Dahlan juga menentang praktik kawin paksa.

_____________________________

1926
Memimpin Kongres
Tahun 1923, K.H. Ahmad Dahlan wafat. Nyai Ahmad Dahlan melanjutkan perjuangan suaminya, baik di Aisyiyah maupun Muhammadiyah. Pada 1926, ia bahkan memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya. Nyai Ahmad Dahlan adalah wanita pertama yang memimpin pertemuan besar seperti ini. Kiprahnya pun diberitakan oleh berbagai surat kabar kala itu.


Mengiringi Muhammadiyah yang kian berpengaruh dalam nuansa pergerakan nasional, Aisyiyah juga semakin besar. Anggotanya semakin bertambah banyak. Maka, dibukalah cabang-cabang Aisyiyah di berbagai daerah di Indonesia. Nyai Ahmad Dahlan memimpin Aisyiyah hingga tahun 1934.
_____________________________

1943
Dilarang Jepang
Sejak 1942, wilayah Indonesia bukan lagi di bawah penjajahan Belanda, digantikan oleh pemerintahan militer Jepang. Namun, Aisyiyah kemudian dilarang oleh pemerintah Dai Nippon pada 1943. Kendati begitu, Nyai Ahmad Dahlan tak lantas diam. Ia bekerja di sekolah-sekolah bentukan Jepang agar bisa mendidik langsung anak-anak Indonesia.


Selain itu, Nyai Ahmad Dahlan juga menentang sejumlah ritual-ritual yang dipaksakan pemerintah militer Jepang kepada rakyat Indonesia, termasuk menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, menghormat ke arah matahari serta bendera Jepang, dan lain-lain.
_____________________________

1945
Masa Revolusi Fisik
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Belanda datang lagi dengan maksud ingin kembali menguasai negara ini. Nyai Ahmad Dahlan turut berjuang mempertahankan kemerdekaan dan sering dimintai nasihat oleh para tokoh bangsa termasuk Presiden Sukarno atau Panglima Besar Jenderal Soedirman.



Tak hanya itu, ketika tentara dan rakyat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan, Nyai Ahmad Dahlan kerap menyediakan rumahnya sebagai tempat berlindung, juga menyiapkan masakan untuk para pejuang. Ia juga mengimbau kepada para mantan muridnya agar bergabung dengan angkatan perang RI.
_____________________________

1946
Meninggal Dunia
Nyai Ahmad Dahlan meninggal dunia di Kauman, Yogyakarta, tanggal 31 Mei 1946, dalam usia 74 tahun. Pemakaman jenazahnya di lingkungan Masjid Gede Kauman dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, juga para menteri yang mewakili pemerintah RI.

_____________________________

1971
Pahlawan Nasional
Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971, pemerintah RI menetapkan Nyai Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional, gelar serupa yang juga disematkan kepada suaminya. Aisyiyah yang didirikannya dan sempat dilarang pada masa pendudukan Jepang terus berkembang serta masih eksis hingga saat ini.

Baca juga artikel terkait KRONIK atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya