Kronik Hari Ini

Sejarah 20 Februari 1769: Lahirnya Sultan Hamengkubuwana III

Oleh: Iswara N Raditya - 20 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah mencatat, Sultan HB III dua kali bertakhta sebagai Raja Yogyakarta yakni pada 1810-1811 dan 1812-1814, berkat campur-tangan penjajah.
tirto.id - Sultan Hamengkubuwana III lahir di Yogyakarta tanggal 20 Februari 1769, tepat 250 tahun lalu. Sejarah mencatat, Sultan HB III dua kali bertakhta sebagai Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yakni pada 1810-1811 dan 1812-1814, dua-duanya berkat campur-tangan bangsa penjajah, Belanda kemudian Inggris.

Akhir 1810, Belanda menyerbu Keraton Yogyakarta yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwana II. Herman Willem Daendels selaku Gubernur Jenderal kemudian menurunkan sang sultan dari singgasana karena dituding terlibat dalam upaya perlawanan yang dilakukan Bupati Madiun, Raden Rangga Prawiradirja.

Belanda kemudian menaikkan putra HB II yang bernama Raden Mas Suraja sebagai raja baru dengan gelar Sultan Hamengkubuwana III. Namun, setahun kemudian, kekuasaan Belanda di Hindia (Indonesia) direbut oleh Inggris. Situasi ini dimanfaatkan HB II untuk naik takhta lagi menggeser anaknya.

Inggris di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles berusaha mengajak Sultan HB II bekerjasama. Namun, HB II menolak mentah-mentah. Baginya, baik Belanda maupun Inggris sama-sama bangsa asing yang memiliki ambisi menguasai tanah Jawa.

Akibatnya, Inggris memakzulkan HB II pada 1912 dan mengasingkannya ke Pulau Penang (kini wilayah Malaysia). HB III pun bertakhta untuk kedua kalinya berkat campur tangan penjajah. Dulu Belanda, kini Inggris.

Sultan Hamengkubuwana III meninggal dunia pada 3 November 1814 tahun, penyebabnya belum pasti. Salah satu putra Sultan HB III adalah Raden Mas Antawirya atau yang kelak dikenal sebagai Pangeran Diponegoro.


Berikut ini rekam-jejak Sultan HB III dalam kronik:

1769
Sultan HB III dilahirkan di lingkungan istana Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 20 Februari 1769 dengan nama Raden Mas Suraja. Ia adalah putra Sultan HB II yang nantinya dua kali didudukkan menjadi raja atas pengaruh penjajah.
__________________________________

1808
Herman Willem Daendels datang ke Hindia Belanda (Indonesia) awal Januari 1808. Kala itu, Belanda masih menjadi taklukkan Perancis. Daendels ditunjuk menjadi gubernur jenderal untuk mempertahankan Jawa dari ancaman Inggris.


Daendels menerapkan aturan baru terkait sikap raja-raja lokal yang harus lebih menghormati orang-orang Belanda. Sultan HB II menolak mentah-mentah aturan tersebut. Daendels pun menunggu kesempatan untuk menjungkalkan Sultan HB II dari singgasananya.
__________________________________

1810
Terjadi perlawanan –Belanda menyebutnya pemberontakan– oleh Raden Rangga Prawiradirja, Bupati Madiun sekaligus penasihat politik Sultan HB II. Daendels menuding Sultan HB II terlibat persekongkolan dengan Raden Rangga dan diturunkan paksa dari takhtanya.


Belanda kemudian menunjuk putra Sultan HB II, yakni Raden Mas Suraja sebagai raja baru di Yogyakarta dengan gelar Sultan HB III. Daendels juga mengembalikan posisi Patih Danureja II selaku penasihat utama raja (perdana menteri) yang sebelumnya dipecat HB II karena memihak Belanda.
__________________________________

1811
Belum genap setahun menjadi raja, Sultan HB III harus turun takhta karena Jawa diambil-alih Inggris dari Belanda. Situasi ini dimanfaatkan oleh Sultan HB II untuk berkuasa kembali. Status HB III diturunkan lagi menjadi putra mahkota.

__________________________________

1812
Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Thomas Stamford Raffles, mengasingkan Sultan HB II ke Pulau Penang (Malaysia), kemudian dipindahkan ke Maluku, karena tidak mau diajak bekerjasama. Raden Mas Suraja alias HB III naik kembali menjadi raja Yogyakarta.


Sebagai kompensasinya, Sultan HB III harus menyerahkan sebagian wilayah kerajaannya, meliputi Kedu, Jipang (Blora), Mojokerto, Grobogan, dan sebagian Pacitan, kepada Inggris.
__________________________________

1814
Sultan HB III meninggal dunia di Yogyakarta pada l 3 November 1814 dalam usia 45 tahun. Penyebab kematian sang sultan tidak diketahui secara pasti. Penggantinya adalah Raden Mas Ibnu Jarot yang naik takhta saat berusia 10 tahun, dengan gelar Sultan HB IV.


Putra tertua Sultan HB III sebenarnya adalah Raden Mas Antawirya. Namun, Antawirya lahir dari istri selir, R.A. Mangkarawati. Selain itu, ia juga tidak berminat menjadi raja. Kelak, Antawirya dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro dan melancarkan perlawanan terhadap Belanda yang menyebabkan terjadinya Perang Jawa (1825-1830).

Baca juga artikel terkait SULTAN HAMENGKUBUWANA III atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight