Misbar

Saya Menonton Dune (1984) agar Kalian Tidak Perlu Melakukannya

Oleh: R. A. Benjamin - 12 September 2021
Dibaca Normal 4 menit
"Gue kayak bangga gitu sama semua film gue, selain Dune." (David Lynch)
tirto.id - Saya tidak membaca Dune, novel karya Frank Herbert yang dipublikasikan pada 1965. Baiklah, saya membacanya barang dua halaman dan merasa, “Oh, ini akan menjadi sesuatu yang sangat menguras energi kalau saya bertekad menyerap ratusan halaman buku ini, yang belum apa-apa sudah menyebutkan nama-nama asing tanpa konteks.”

Begitulah Dune. Membacanya adalah pekerjaan rumah itu sendiri. Namun, novel itu laku keras dan terjual paling tidak 20 juta eksemplar di seluruh dunia. Saya simpulkan saja orang pada zaman sebelum internet punya lebih banyak waktu dan attention span-nya masih lebih baik dari ikan maskoki. Sebagai orang yang survive di 2021—dan, insyaallah, 2021—saya merasa tidak punya kemewahan macam itu lagi. Sialnya, karena Dune versi anyar baru akan dirilis bulan depan, editor meminta saya menuliskan soal Dune versi lawas.

Beruntungnya, kita punya Jodorowsky's Dune (2013) dan Dune (1984) arahan David Lynch. Atau, sialnya, kita punya Dune (1984) arahan David Lynch—dengan segala hormat untuk Lynch, yang filmnya Elephant Man (1980) saya sukai.

Sebetulnya, itu satu-satunya film dari katalog Lynch yang saya tonton sebelum Dune. Harap maklum, saya tidak punya cukup waktu luang untuk menonton semua film dalam katalog sutradara-sutradara yang diagungkan para penikmat film. Saya bahkan tertarik menonton Elephant Man lantaran Mastodon punya lagu yang terinspirasi dari kisah tersebut.

Saya dengar Mulholland Drive (2001) merupakan film Lynch yang sangat baik dan mungkin saya bakal menontonnya. Mungkin saya bakal menonton apa saja sehabis Dune.

Tadinya, ada nama-nama seperti Ridley Scott dan Alejandro Jodorowsky yang bakal membesut epos antariksa ini. Scott merasa mengerjakan Dune bakal memakan sangat banyak waktu. Ia menyerah dan memutuskan untuk membuat Blade Runner (1982). Syukurlah. Sementara, studio-studio Hollywood menolak proyek Dune yang disodorkan Jodorowsky, mungkin karena kegilaannya.


Ketika Dune lepas dari tangannya, Jodorowsky merasa Lynch adalah satu-satunya orang yang bisa menangani proyek ini. Dan ketika mendapati hasil akhirnya yang kurang mantap, ia meyakini bahwa itu pasti akibat ulah produser. Orang itu juga bersyukur lantaran film ini buruk.

Sekitar 37 tahun kemudian, giliran saya yang merasakan ketidakmantapan Dune.

Pengalaman Menyaksikan Dune versi David Lynch

Bagian ini memuat spoiler, sepertinya. Spoiler, menurut Cambridge English Dictionary: informasi di surat kabar, yang memberi tahu Anda apa yang terjadi di acara TV, yang dapat merusak kesenangan Anda jika Anda belum pernah melihatnya.

Nyaris tidak ada kesenangan dalam Dune (1984), maka bagian ini rasanya kurang tepat juga jika dibilang memuat spoiler.

Jadi, ada empat planet dalam semesta Dune. Di sini ada si ini, terjadi itu. Setidaknya, Dune diawali dengan narasi. Sebelumnya, berkat Jodorowsky's Dune, saya hanya punya sedikit bayangan: space pirate (oh itu keren), dan spice. Spice. Ada pula artikel-artikel teratas di mesin pencari yang mengaitkan Dune dengan Islam ketika saya mencoba (sedikit) mencari tahu apa itu Dune.

Setengah jam pertama (semuanya samar meski narator sudah menjelaskan beberapa hal):

• Nama-nama tanpa konteks
• Alien di dalam benda seperti lokomotif
• Ucapan May the hand of god be with you". Seperti pernah dengar yang serupa.
• Spice
• Cacing 450 meter
• Arrakis adalah Dune

Satu jam pertama:

• Duke Leto bakal melawan Baron Harkkonen
• Kata kunci "traveling without moving" akhirnya keluar. Entah apa maksudnya. Saya mulai tidak peduli pada ceritanya, jangan-jangan itu yang diinginkan Lynch.
• Ada adegan di mana seseorang menjelaskan fitur-fitur pada pakaian yg bisa bikin seseorang bertahan hidup di gurun. Film ini membuat saya tertarik dengan adegan remeh seperti ini.
• "Akankah kita melihat cacing?" tanya Paul Atreides. Ya, Paul saya jg menantikan sesuatu terjadi.
• "Apa hubungan cacing dengan spice?" tanya Paul lagi. Tidak ada jawaban.
• Cacing akhirnya muncul
• Kenapa Harkkonen harus dilawan? Dr. Yeuh akhirnya mengungkapkan alasan, setidaknya bagi dirinya sendiri. Yeuh.
• Wujud spice mulai terlihat

Satu setengah jam:

• Duke Leto ternyata ingin menikahi salah satu gundiknya, alih-alih pernikahan yang politis
• Pengkhianat muncul
• "Long live Duke Leto!" teriak Patrick Stewart muda saat pertempuran terjadi, saya tidak tahu pertempuran apa dan mengapa.
Saya berhenti sebentar dan membaca informasi mengenai film ini, siapa tahu membantu. Nggak tahu membantu apa. Film ini punya cult followers—kumpulan fans fanatik yang tidak terlalu meluas, yang mengikuti segala macam hal tentangnya, yang bahkan (kadang) hapal rentetan dialog. Mungkin saya memang harus menyaksikannya seperti The Room (2003), tanpa berpikir dan berharap apa-apa.
• Paul kembali bertanya-tanya apakah ada hubungan antara cacing raksasa dan spice
• Paul dipanggil Fremen sebagai Muad'Dib, sementara ibunya "Sayyadina"
• Fremen menyebut cacing sebagai 'Shai Hulud'.
Saya ingat ada band hardcore Amerika yang bernama serupa. Mungkin para personilnya juga anggota cult followers-nya Dune. Saya juga jadi terkenang akan, siapa itu namanya makhluk di pasir yang menelan orang di Star Wars? Barangkali dia terinspirasi dari Shai Hulud juga.

Sarlacc. Saya jadi ingat namanya lagi ketika mengingat-ingat lirik Fett, Sang Pemburu, lagu dari band keras lainnya, Seringai, soal Boba Fett. Menyala, melesat ke dalam mulut Sarlacc. Lagu yang bagus.

Seperempat Akhir:

• Muad'dib dan Fremen bisa menaiki cacing dan menghancurkan produksi spice
• "The worm is the spice, the spice is the worm," kata Paul. Wah.
• Cacing ikut perang besar diiringi musik Toto.
• Baron dimakan cacing, selayaknya Boba. Atau boba.

Masih ada beberapa hal yang terjadi sehabis itu, termasuk duel satu-lawan-satu antara Paul dan Sting. Alasan saya menuliskan rangkaian kejadian itu tadinya murni untuk membuat plotnya lebih mudah dipahami sekaligus membantu mereka—yang tidak mempermasalahkan spoiler—memutuskan menghabiskan dua jam dalam hidupnya untuk menonton Dune atau tidak. Kini, saya tetap memasukkannya ke sini hanya agar tulisan ini memenuhi jumlah kata saja untuk masuk ke dalam kanal Mild Report Tirto yang penuh tulisan serius ini.

Apapun itu, saya senang film ini selesai.

Infografik Dune
Infografik Dune (1984). tirto.id/Quita


Nekat

Paling tidak, makhluk-entah-apa di dalam sesuatu berbentuk lokomotif itu tampak keren. Di sekelilingnya, ada makhluk-makhluk dari planet lain yang mengenakan mantel mengkilap seperti yang sering dikenakan Flake (kibordis Rammstein). Mereka juga punya alat penerjemah antarbahasa antarplanet. 'Kesuksesan' Lynch lainnya adalah membangun dunia yang tampak betul-betul asing.

Bagi yang tidak terbiasa akan adegan-adegan grotesque, menjijikkan, perilaku dan karakter aneh tidak karuan dan masih ingin menyaksikan film ini, siap-siap saja. Syukurnya, saya tidak kaget-kaget amat lantaran sebelumnya sudah terpapar film-film seperti The Adventures of Baron Munchausen (1988) dan The City of Lost Children (1995). Oh, banyak lagi sebetulnya film dengan nuansa aneh serupa. Namun, saya memilih untuk tidak menontonnya kalau tidak sedang bahagia-bahagia amat.


Sekitar 30 tahun setelah Dune yang ini dirilis, Hollywood menemukan sutradara nekat lainnya yang bakal menggarap proyek ini, yang sejauh trailer-nya tidak tampak aneh-aneh. Denis Villeneuve akan berpegang pada bukunya, yang pernah ia baca, alih-alih film Lynch.

Lynch sendiri bahkan tidak mengakui Dune—oke, dia mengakuinya, tapi sama sekali tidak bangga. Orang ini bilang, "Gue kayak bangga gitu sama semua film gue, selain Dune."

Ketimbang masa awal ketika ia dirilis, belakangan Dune sebetulnya mendapatkan penilaian yang rada membaik. Di internet, kau bisa menemukan artikel-artikel yang menjelaskan mengapa Dune bikinan Lynch ini sejatinya tidaklah buruk-buruk amat. Kau bahkan bisa saja tak perlu membaca artikel-artikel tersebut, menonton film ini dan, entah bagaimana, berakhir menikmatinya.

Kau bisa saja menjadi cult followers anyar untuk Dune yang ini. Setelah dua jam 16 menit itu, saya sih enggak. Film—dan hidup—macam apa ini?

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Film)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight