Fallisa Putri
Penulis Seri ‘Hey, Tasya!’. Pengacara.

Satu Tahun Seri 'Hey, Tasya!'

26 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Penulis: Fallissa Putri

Awalnya bukan Tasya yang ingin saya tulis. Saya bertamu ke kantor Tirto dengan maksud memperkenalkan komik tentang seorang pengacara fiktif. Saya pikir, jika konsep hukum yang rumit didiskusikan dalam medium komik, mungkin masyarakat dapat mengaksesnya dengan lebih mudah. Lantas Tirto membawa ide itu lebih jauh: daripada membahas konsep, mengapa tidak komentari saja hukumnya sekalian? Tambah komentar sosial dan politik juga, biar lengkap.

Reaksi pertama saya adalah ragu. Apa tidak akan jadi masalah nanti? Sudah ada korban dari anak-anak karet Pasal 28 konstitusi kita. Orang yang menyalahgunakan kutipan ayat suci, bisa-bisa kena Pasal 156a Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Pasangan yang mengabadikan perpaduan cinta mereka atas dasar suka sama suka, bisa-bisa kena Pasal 29 Undang-undang Pornografi. Anda yang membuat meme lucu? Harus siap disatroni Pasal 27 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Pengalaman saya sebagai seorang pengacara tidak serta-merta membuat saya lebih vokal dalam mengekspresikan pendapat. Saya justru semakin hati-hati. Jika berkomentar soal ini, apa dia tidak tersinggung? Jika saya menertawakan dia, apa saya tidak dikriminalisasi? Meskipun saya tahu batas-batas kriminalisasi atas pengutaraan pendapat, tidak berarti saya semakin tenang.

Apa yang Tirto minta sebetulnya tidak aneh-aneh secara teknis. Ciptakanlah seorang anak kecil yang polos sebagai corong dari komentar kita. Trik ini bukan barang baru dalam komik. Calvin & Hobbes (Bill Watterson, 1985) dan Nancy (Ernie Bushmiller, 1938) adalah contoh strip komik yang dibintangi anak-anak dan memberikan hiburan sekaligus komentar sosial dalam 3-4 panel. Marvel yang masih produktif mencetak komik-komik pahlawan super juga gigih dalam menciptakan karakter-karakter baru yang inklusif dan menjunjung keadilan sosial. Komik bisa menginspirasi seorang ilmuwan, atau sebaliknya memicu kekerasan. Bahwasanya komik lebih dari sekadar bacaan bergambar.

Maka tak lama dari pertemuan pertama saya dengan Tirto, lahirlah Tasya, bocah berusia delapan tahun yang senang jajan. Tasya ini anaknya krits. Alih-alih membuat pernyataan, dia lebih senang melempar pertanyaan. Ada banyak kejanggalan dalam masyarakat yang sulit dia mengerti. Dia mempunyai dua orang teman: Sari yang setia kawan dan Iwan yang ingin jadi wartawan Tirto. Bersama-sama, mereka bertanya apakah orang-orang dewasa di sekelilingnya mampu memberikan masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya. Komik strip ini adalah distilasi sederhana dari proses pikir yang lebih rumit.

Tidak mudah menulisnya, tapi tahu-tahu, sudah setahun saja Tasya dan kawan-kawan menyapa pembaca setiap minggu. Kritik dan komentar datang bertubi-tubi, sebagaimana kami telah antisipasi. Tasya telah memantik percakapan, dan kadang ketersinggungan adalah sesuatu yang tidak dapat kami hindari. Meskipun kami tidak menyebut merek atau nama tertentu, tidak menuding pihak-pihak manapun secara nyata, bahkan tidak membahas isunya mentah-mentah, warganet itu tidak lamban. Mereka tahu persis apa yang kami bicarakan. Betapa jantung kami berdetak kencang melihat kobaran api yang telah kami sulut. Takut? Mungkin. Tegang? Sangat. Puas? Tentu saja. Maksud kami tersampaikan lewat bibir kecil Tasya, dan kami tidak bisa meminta lebih dari itu.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Tirto yang telah mempercayakan tugas ini kepada saya dan Wulan hingga hari ini. Kami berani, sebab Tirto berani. Saya juga ucapkan terima kasih kepada NaoBun Project, agen ‘Hey, Tasya!’ yang telah turut mengasuh kekayaan intelektual ini dari tahap abstrak. Saya pribadi berterima kasih banyak kepada Wulan, ilustrator yang senantiasa berada di samping saya dari skrip hingga panel. Terakhir, dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Anda yang telah membaca dan mendukung ‘Hey, Tasya!’ di setiap episodenya, baik setuju maupun tidak dengan pertanyaan Tasya.

Dirgahayu, Tasya dan kawan-kawan. Semoga kalian tidak pernah berhenti bertanya, hingga hari di mana tanda tanya dapat menjadi tanda titik tanpa mesti takut dipenjara.

Hey Tasya Kerusuhan
Hey Tasya Kerusuhan

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.