Sarkem Usai Kebakaran: Sepi Pengunjung dan Bau Mayat

Oleh: Irwan Syambudi - 6 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Salah seorang PSK menyebut Sarkem sepi karena masih "masih bau mayat" setelah sebuah gudang di sana terbakar menewaskan satu orang.
tirto.id - Gang sempit di selatan Jalan Pasar Kembang Yogyakarta, atau yang lebih dikenal dengan nama Sarkem, tak pernah sepi. Tidak ada waktu puncak orang berlalu-lalang. Siang, sore, malam, semua sama. Sama-sama ramai.

Saya berjalan kurang lebih 30 meter ke dalam dari pintu masuk gang ketiga yang berada di persis di seberang Stasiun Tugu.

Sabtu (5/10/2019) siang itu, ada empat perempuan duduk berjajar di pinggir kanan dan kiri gang. Tak ada yang mereka lakukan, kecuali mata mereka yang tak pernah berhenti memperhatikan siapa pun yang datang, terutama jika dia laki-laki.

Saya tidak luput dari perhatian. "Mampir, mas," kata salah seorang dari mereka. Saya menolak. Tujuan saya bukan untuk 'itu'.

Saya sampai di belokan gang. Penjual nasi rames sedang berbincang dengan seorang pembeli dan seorang penjual warung kelontong yang duduk tak jauh dari mereka.

"Lokasi kebakaran kemarin, di mana ya, bu?" saya bertanya kepada mereka, setelah sebelumnya bilang mau beli makan.


Penjual kelontong menjawab sambil menunjuk. "Di sana." Ia menunjuk gang kecil, menuju bangunan yang terbakar persis di samping warung kelontongnya.

"Pas kebakaran saya di sini, saya langsung lari. Tahunya [kebakaran] itu gelap banyak asap," katanya.

Penjual nasi rames menyahut: "yang terlihat hanya asapnya. Kalau apinya terlihat dari belakang. Kami langsung lari menyelamatkan diri."

Perempuan pembeli nasi rames, Ani, yang mengaku berusia 40, juga nimbrung. "Di tempat saya juga terbakar."

Titik kebakaran adalah sebuah gudang berisi kayu, besi, dan furnitur milik Hotel Abadi. Gudang mulai terbakar pada Rabu (2/10/2019) lalu pukul 10.30, kata Kepala Seksi Operasional dan Penyelamatan Dinas Kebakaran Kota Yogyakarta Mahargyo.

Satu orang meninggal terbakar. Namanya Yainudin, usia 41 tahun. Ia ditemukan di posisi pojok di dalam area gudang. Mahargyo memperkirakan korban tidur saat kebakaran terjadi.

Ismail, salah satu penjaga gudang, mengatakan api cepat membesar dan ikut membakar rumah di sekitar gedung meski tidak sampai ludes. "[Rumah] yang kena semua sekitar lima," kata Ismail.


Usai membeli sebungkus nasi rames, Ani menunjukkan kepada saya satu kamar yang terbakar itu. Kamar ini biasa dipakai temannya untuk bekerja. Temboknya gosong, lemari kayu masih utuh tapi hangus.

Menurut Ani, sang penghuni kamar mulanya tak sadar bahwa bangunan di samping kamarnya terbakar. Ia baru sadar ada kebakaran setelah sejumlah penghuni kamar lainnya lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

Namun karena panik, sang penghuni kamar tak sempat menyelamatkan barang berharga miliknya. Perhiasan dan ponsel yang masih ada di dalam kamar habis dilalap api.

Sepi Pengunjung

Ani sudah dua tahun terakhir bekerja di Sarkem sebagai pekerja seks komersial (PSK). Selama itu pula dia mengaku tempat kerjanya tak pernah sepi pengunjung, kecuali sejak terjadi kebakaran yang menyebabkan satu orang meninggal, Rabu (2/10/2019) lalu.

"Tiga hari ini masih sepi [pelanggan]. Mungkin masih bau mayat, soalnya yang meninggal persis di sebelah ini," kata Ani. "Kemarin kebetulan pas kejadian saya lagi palang merah (menstruasi). Baru kemarin ke sini lagi tapi sepi," tambahnya.

Di Sarkem ada ratusan orang seperti Ani yang berprofesi sebagai PSK. Ada yang menetap, tapi kebanyakan pulang pergi. Saat bekerja, mereka biasanya menyewa kamar.


Sarkem adalah tempat prostitusi yang sudah cukup tua di Indonesia. Sejumlah sejarawan menyebut lahirnya prostitusi di Sarkem beriringan dengan dibangunnya jalur rel pada masa Hindia Belanda.

Nur Syam dalam Agama Pelacur: Dramaturgi Transendental (2010) mengatakan: "selama pembangunan jalan-jalan kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa, seperti Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Cilacap, Yogyakarta, dan Surabaya tahun 1884, dunia pelacuran telah menjadi bagian penting penyedia jasa layanan seksual bagi para pekerja jalan kereta api."

Karenanya, sebut Nur Syam, "tidaklah mengherankan jika tempat pelacuran terletak dekat stasiun kereta api."

Menurut Terence Hull dalam Pelacuran di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya (1997), beberapa lokalisasi yang dekat dengan stasiun kereta dan punya keterkaitan sejarah dengan Hindia Belanda di Yogyakarta, selain Sarkem, juga Mbalokan dan Sosrowijan.

Hingga kini penyebab kebakaran di Sarkem, yang lantas memicu tagar #SarkemMemanggil, masih diselidiki.

Baca juga artikel terkait KEBAKARAN atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Rio Apinino
DarkLight