Menuju konten utama

SariWangi: Pelopor Teh Celup yang Kolaps di Tangan Generasi Kedua

Johan Alexander Supit memproduksi teh celup SariWangi sejak 1972 hingga 1989, sebelum mereknya dibeli Unilever.

SariWangi: Pelopor Teh Celup yang Kolaps di Tangan Generasi Kedua
Seseorang meminum es teh manis dalam plastik dengan merek SariWangi. tirto.id/Hafitz Maulana

tirto.id - Tondano, Sulawesi Utara, adalah tanah kelahiran Johan Alexander Supit. Ayahnya seorang pendeta—predikat yang dihormati masyarakat Kristiani Minahasa. Orang Minahasa tergolong yang paling sadar akan pentingnya sekolah. Tak heran jika Johan yang anak pendeta disekolahkan dengan sangat baik.

Laki-laki kelahiran 5 September 1932 ini harus hijrah ke Jakarta pada 1946 untuk bersekolah di Hogere Burger School (HBS), sekolah menengah elite sejak zaman kolonial. Ketika Johan bersekolah di sana, Jakarta adalah kota yang kacau. Pada 1947, Jakarta sudah menjadi daerah pendudukan tentara Belanda.

“Ia kemudian melanjutkan pendidikan di sebuah SMA di kawasan Dago, Bandung. Setelah itu, ia kuliah jurusan ekonomi di Universitas Krisnadwipayana. Karena kesulitan keuangan, ia terpaksa putus kuliah di tahun kedua,” tulis majalah Swa (Edisi 11/XXXIX/23 Mei-4 Juni 2013: 114).

Karena putus kuliah itulah Johan mendekatkan diri pada teh. Dia diarahkan mengambil spesialisasi dan tertarik menjadi tea appraisal (penilai teh).

Seperti dilaporkan Kontan, Johan sempat bekerja di perkebunan teh Francis Peek & Co. di Jawa Barat. Di daerah yang beriklim tidak jauh beda dengan Tondano itu, kariernya cukup bagus. Dia pernah diikutkan dalam pelatihan-pelatihan, bahkan sampai ke London, Inggris, untuk mendalami seluk-beluk bisnis teh. Belakangan, perusahaan tempatnya bekerja kena nasionalisasi era 1950-an.

Sepulang dari London, dia bekerja di Joseph Tetley & Company. Menurut situs avcj.com, perusahaan inilah yang memperkenalkan teh celup ke Inggris pada 1950-an.

“Saya telah jatuh cinta pada romantisme perkebunan teh, lanskapnya cantik luar biasa,” kata Johan kepada Swa.

Johan akhirnya tak sekadar jadi ahli teh di perusahaan milik orang. Uang tabungan hasil bekerja sebagai ahli teh yang makin menggelembung dibuatnya untuk membangun usaha.

Pelopor Teh Celup

Pada 1962, di usia 30, Johan memulai usaha teh miliknya. Dia mendirikan CV dengan nama Sariwangi. Usahanya pun berkembang.

“Saya konsultasi kepada ahli hukum. Kata mereka, untuk membuka cabang di mana-mana, tak bisa lagi dipakai CV, harus PT. Jadilah PT Sariwangi,” aku Johan kepada Swa.

PT Sariwangi pun berdiri pada 1964. Operasi bisnisnya semula sempat dijalankan di kawasan Kali Besar Barat, Jakarta. Bisnis perusahaan Johan Supit, menurut avj.com, mulanya adalah membeli teh dari petani-petani kemudian mengekspornya ke luar negeri.

Masa awal Johan Supit berbisnis teh adalah tahun-tahun yang sulit bagi pengusaha Indonesia. Seperti dicatat Swa, sejak 1969 operasi bisnisnya di Kali Besar Barat dipindah ke kawasan Kota Tua, keduanya di Jakarta.

Johan Supit dengan Sariwangi-nya pernah mengalami apes. Kantor beserta asetnya pernah kena banjir, yang memang rajin menyambangi Jakarta. Johan pun terpaksa menjual tanahnya di Palmerah. Beruntung, si pembeli tanah merelakan Johan memanfaatkan tanah itu. Johan pun merangkak lagi.

Awal 1970-an, Johan sedang berada di Inggris. Dia memang sudah biasa menyambangi negara yang orang-orangnya doyan minum teh itu. Johan datang ke kantor Joseph Tetley & Company untuk minta komisi pembayarannya. Di situlah dia menemukan sesuatu yang penting dalam hidupnya: sebuah mesin tak terawat.

“Ternyata itu mesin pembuatan kantong teh celup,” kata Johan pada Swa.

Kala itu sudah banyak orang di negara berkembang minum teh yang dimasukkan dalam kantung kertas alias teh celup. Tapi di Indonesia belum ada. Tanpa ragu lagi, Johan merelakan uang komisinya sebesar 1.200 poundsterling untuk membayar mesin itu.

Begitu tiba di Jakarta, mesin itu tak bisa dipakai lagi. Seorang laki-laki indo-Belanda bernama Dr. Zakir, lulusan kampus teknik di Belanda dan koleganya sejak zaman CV Sariwangi, diminta membuat mesin serupa.

Pada 1972, mesin rakitan Zakir pun mampu memproduksi suatu produk yang disebut Johan sebagai "teh celup". Pernah terpikir istilah teh kantong, tapi Johan kurang sreg. Johan bercerita pada Swa, suatu kali dirinya mendengar seseorang berteriak, “celupkan saja bajunya.” Dari situ, terpikirlah istilah teh celup. Merek teh celup itu adalah SariWangi.

SariWangi memang teh celup pertama di Indonesia. Dalam sejarah industri teh Indonesia, SariWangi yang diproduksi Supit sebenarnya bukan nama yang pertama kali dipakai. Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (26/11/1917) pernah memuat iklan yang menyebut teh rakyat dengan merek SariWangi. Teh ini didistribusikan NV Thee Distributie Maatschappij Juliana, yang juga berpangkalan di Kali Besar Barat, Jakarta.

Sejarah awal teh celup tidaklah mudah. Cemoohan adalah hal biasa di masa itu. Cara minum teh orang Indonesia masih banyak dengan teknik konvensional, bukan dicelup. Johan berkeyakinan, di kala perekonomian maju, teh celup akan menjadi konsumsi orang Indonesia.

Apa yang dipikirkan Johan benar adanya. Setidaknya setelah lebih dari dua dekade, teh celup banyak dikonsumsi orang Indonesia. Mereknya juga bermacam-macam. SariWangi adalah pelopornya. Hingga kini, merek itu termasuk teh celup yang dominan.

Infografik Semua Teh adalah SariWangi

Dibeli Unilever

Melihat teh celup SariWangi punya masa depan bisnis yang baik, Unilever pun tertarik padanya. Pada 1989, seperti dicatat Swa, Unilever membeli merek SariWangi. Hingga kini merek tersebut diproduksi PT Unilever Indonesia.

Apakah ini akhir cerita Johan Alexander Supit?

Ternyata tidak. Perusahaannya, PT Sariwangi AEA, masih berada di tangan. Uang hasil penjualan merek SariWangi digunakan untuk membeli lahan pabrik di Citeureup, Jawa Barat pada 1990. Tak hanya itu, pada 1992, pabrik berikutnya dibangun di Gunung Putri. Di tahun 2002, 4.000 hektare kebun teh pun dibelinya. Setahun kemudian, PT Sariwangi merilis teh celup Sedap Wangi.

Johan Alexander Supit tak hanya jadi bos besar dari PT Sariwangi AEA. Di luar perusahaannya, dia cukup berpengaruh dalam bisnis teh. Biar kata SariWangi yang sudah jadi legenda pindah ke tangan Unilever, Johan dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Pedagang Teh Indonesia (Aspegtindo) di era 1990-an. Johan Alexander Supit tutup usia pada 21 November 2015.

PT Sariwangi AEA saat ini dipegang oleh anak-anak Johan, salah satunya Andrew J. Supit. Tapi nasib perusahaan tersebut tidak sejaya legenda teh celup SariWangi. Pekan lalu, PT Sariwangi AEA dinyatakan pailit.

Meski perusahaan itu bangkrut, teh celup SariWangi yang diproduksi Unilever tetap ada di pasaran.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI TEH atau tulisan lainnya dari Petrik Matanasi

tirto.id - Marketing
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan