Sariwangi dan Teh Celup Temuan Abad ke-20 yang Mendunia

infografik teh celup
Seorang perempuan sedang membuat teh celup. iStockphoto/Getty Images
Oleh: Nindias Nur Khalika - 22 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Teh mengandung senyawa organik yang berfungsi menangkal berbagai macam penyakit.
tirto.id - Produsen teh PT Sariwangi Agricultural Estates Agency (Sariwangi A.E.A) dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (Indorub) dinyatakan pailit oleh pengadilan. Hal ini dikarenakan Sariwangi A.E.A dan Indorub tak menjalankan kewajiban membayar utang bunga sebesar $416 ribu dan $42 ribu kepada PT Bank ICBC Indonesia.

Pailitnya kedua perusahaan tersebut lantas menjadi sorotan sebab Sariwangi A.E.A adalah pelopor teh celup pertama di Indonesia. Pada 1973, Johan Alexander Supit memperkenalkan merek teh celup “SariWangi” di bawah payung Sariwangi A.E.A. Dua dekade kemudian, teh celup populer dan dikonsumsi oleh banyak orang Indonesia. Merek SariWangi, dalam hal ini, termasuk teh celup yang dominan.

Meski Sariwangi A.E.A pailit, teh celup tetap bisa dinikmati oleh penikmat teh di Indonesia. Pasalnya, Unilever telah membeli merek SariWangi pada 1989 dan memproduksi teh celup tersebut hingga sekarang dan tak ada kaitan antara Unilever dan Sariwangi A.E.A. Teh celup kini hadir dengan berbagai macam merek.



Teh celup merupakan temuan abad ke-20. TIME menjelaskan ada dua versi kisah yang menjelaskan bagaimana teh celup modern diciptakan. Namun, kedua cerita tersebut sama-sama terjadi pada awal 1900-an.

Salah satu kisah populer menurut TIME adalah tentang importir teh asal Amerika bernama Thomas Sullivan yang mengirimkan sampel produk teh dalam kantung sutra pada pelanggannya pada 1908. Saat teh diseduh, mereka justru tak mengeluarkannya dari kain pembungkus. Tapi, cara itu rupanya disenangi sehingga pelanggan meminta Sullivan untuk mengirim kembali teh yang dibungkus dalam kantung sutra.

TIME lalu mengatakan ada cerita lain yang mengisahkan bahwa teh celup telah ada tahun 1901, yakni sejak Roberta C. Lawson dan Mary Molaren dari Kota Milwaukee, Winconsin mematenkan “pemegang daun teh”. Kala itu, mereka membuat kain jala yang dijahit dan diisi oleh daun teh. Kantung tersebut, menurut mereka, berguna untuk menahan daun teh agar tak mengambang ke mulut sekaligus memungkinkan air meresap saat diseduh. Inovasi teh celup itu lantas diadopsi di luar Amerika, termasuk di Indonesia.





Endang, 50 tahun, adalah salah satu penikmat teh yang tiap hari mengonsumsi teh celup. Dalam satu hari, perempuan asal Yogyakarta tersebut biasa meminum teh sebanyak satu hingga dua kali sembari mengemil kue kering.

“Mengonsumsi teh karena suka dan terbiasa sejak kecil. Dulu saya makan roti biskuit sambil dicelup ke teh. Ada teh celup jadi praktis waktu minum teh,” ujarnya kepada Tirto.

Kebiasaan Endang kini menurun kepada dua anaknya yang duduk di bangku SD dan SMA. Mereka jadi rajin mengonsumsi teh sekali dalam sehari. Usai meminum teh, Endang mengaku badannya menjadi segar dan enak.

Menurut Diane L. McKay dan Jeffrey B. Blumberg dalam “The Role of Tea in Human Health: An Update” (2002), teh sejatinya mengandung senyawa polifenol jenis flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh. Banyaknya jumlah flavonoid pada teh, menurut McKay dan Blumberg, tergantung pada tipe teh (instan, dicampur, atau tak mengandung kafein) dan metode pengolahan (waktu menyeduh, temperatur, dan seberapa banyak teh yang digunakan).

McKay dan Blumberg mengatakan bahwa kandungan flavonoid dapat mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular. Mereka lalu merujuk pada penelitian “Preventive Effects of Drinking Green Tea on Cancer and Cardiovascular Disease: Epidemiological Evidence for Multiple Targeting Prevention” oleh Nakachi K, dkk yang melibatkan 8.552 warga Jepang. Nakachi K, dkk menyebutkan konsumsi lebih dari 10 gelas teh hijau per hari mereduksi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular pada laki-laki dan perempuan.

McKay dan Blumberg juga menjelaskan senyawa flavonoid bisa mencegah terjadinya aterosklerosis atau penumpukan lemak atau kolesterol di dinding arteri. Salah satu riset yang membuktikan hal ini dilakukan oleh Geleijnse J, dkk. Dalam penelitian tersebut, rasio ganjil aterosklerosis menurun saat konsumsi teh meningkat dari 125-250 mililiter (1-2 gelas) menjadi 500 mililiter per hari (lebih dari empat gelas).

Penyakit berat lain yang turut bisa dicegah dengan mengonsumsi teh adalah kanker. McKay dan Blumberg mengatakan studi yang dilakukan di Asia menunjukkan bahwa konsumsi teh dalam jumlah banyak dan sering dapat mencegah kanker. Di sisi lain, teh juga menurunkan risiko seseorang terkena karies gigi sebab mengandung fluorida natural dan mampu membuat tulang menjadi sehat.


Selain untuk kesehatan, teh mempunyai khasiat bagi kecantikan. Patricia Oyetakin White, Heather Tribout, dan Elma Baron yang mengatakan polifenol dalam tanaman seperti teh hijau bisa mencegah kanker kulit, penuaan dini, stres oksidatif, dan imunosupresif akibat sinar ultraviolet.

Baca juga artikel terkait TEH atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Suhendra
DarkLight