Sang Nabi dan Refleksi Cinta Kahlil Gibran

Kontributor: Tyson Tirta, tirto.id - 23 Sep 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Kahlil Gibran menawarkan spiritualisme universal dan visinya tentang spiritual tidak moralistik. Ia juga mendesak orang untuk tidak menghakimi.
tirto.id - Buku Sang Nabi karya Kahlil Gibran yang terbit pertama kali pada 1923 berisi dua puluh enam prosa-puisi. Bab-bab buku ini membahas secara universal berbagai tema kehidupan seperti cinta, pernikahan, anak-anak, dan lain-lain.

Narasi cerita dibangun dari karakter Al Mustafa yang telah tinggal selama 12 tahun di Pulau Orphalese. Ia yang dianggap sebagai orang bijak sedang menantikan waktu dan kapal yang tepat untuk membawanya pulang ke kampung halaman.

Ketika kapal yang dinantikan tiba, Al Mustafa justru bersedih karena harus meninggalkan orang-orang yang ia kenal baik. Para tetua di Orphalese pun memintanya menceritakan filosofi hidupnya sebelum pergi.

Buku itu banyak menarik perhatian publik. Penerbit Alfred A. Knopf berhasil menjual sebanyak 1159 dari total 2000 eksemplar cetakan pertama. Penjualan bertambah di tahun-tahun berikutnya hingga mencapai 1 juta eksemplar pada 1957.

Tak lama kemudian, di AS saja penjualannya mencapai lebih dari 9 juta eksemplar. Pada dekade 1960-an, angka penjualan rata-rata per minggunya mencapai 5 ribu eksemplar.

Pada 1926, Sang Nabi diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh Madeline Manson-Manheim. Hingga tahun 1998 buku ini telah diterjemahkan ke lebih dari 25 bahasa.


Berpaling ke Gibran

Sang Nabi mengusung nilai-nilai kemanusiaan dan menawarkan berbagai “inspirasi spiritual”. Meski demikian, tak satupun bagian naskah buku ini terafiliasi dengan ajaran agama tertentu. Maka itu, tak heran jika ungkapan-ungkapan dalam Sang Nabi banyak dikutip lalu disertakan sebagai pesan dalam acara-acara penting seperti permakaman, pernikahan, dan lain-lain.

Shoku Amirani dan Stephanie Hegarty menulis artikel mengenai Sang Nabi dan mencatat bahwa puncak popularitas buku ini terjadi di era 1930-an dan 1960-an.

Professor Juan Cole, sejarawan ahli wilayah Timur Tengah yang telah menerjemahkan banyak karya Gibran mengaku bahwa banyak orang berpaling dari gereja.

"Dia (Gibran) menawarkan spiritualisme universal yang bebas dogma sebagai lawan dari agama ortodoks, dan visinya tentang spiritual tidak moralistik. Bahkan, dia mendesak orang untuk tidak menghakimi."

Kahlil Gibran lahir pada 6 Januari 1883 di Bsharri, Lebanon. Konon, berbagai fenomena alam yang terjadi di kampung halamannya seperti badai, gempa, hingga petir, juga memengaruhi karya-karyanya.

Pada 1894 Gibran dan keluarganya pindah ke Boston, AS, karena konflik politik dan tekanan ekonomi di negaranya.

Menjalani kehidupan dengan bahasa Arab-Inggris, budaya Timur-Barat, dan pengalamannya melihat Kesultanan Usmaniyah yang semakin melemah, menjadi inspirasi dasar yang ia tuangkan dalam berbagai karyanya di kemudian hari.

Periode 12 tahun pengungsian keluarganya di Boston kerap dianggap sebagai inspirasi Gibran dalam membuat cerita untuk karakter Al Mustafa yang tinggal selama 12 tahun di pulau Orphalese.


Keyakinan yang Tak Tergoyahkan

Di AS, Gibran remaja tertarik mempelajari kebudayaan Barat dengan serius. Akan tetapi, Kamila Rahmeh, ibunya merasa Gibran perlu memahami kebudayaan dan tradisi keluarga besarnya dulu sebelum menekuni budaya Barat. Untuk itu, ia dikirim pulang ke Lebanon dan mendaftar di sebuah sekolah tinggi Katolik Maronit di Beirut.

Meski lahir di keluarga Arab Katolik Maronit, nilai-nilai yang dipegang Gibran remaja tidak hanya agama keluarganya tapi juga Islam dan mistisisme Sufi.

Pemahamannya mengenai sejarah Timur Tengah dan berbagai perang berdarah di negaranya membuat Gibran sadar bahwa untuk menciptakan kedamaian, secara fundamental diperlukan sikap saling menghargai.

Hal itu sebenarnya telah cukup ditanamkan sejak kecil ketika keluarganya kerap menerima tamu dari berbagai latar belakang agama

Salah satu karya sastra pertamanya lahir ketika Gibran mendapat kesempatan menulis naskah drama di Paris. Kala itu usianya baru 20 tahun. Di usia itu, ia tertarik pada banyak bidang seni-budaya.

Infografik Mozaik Sang Nabi
Infografik Mozaik Sang Nabi. tirto.id/Ecun


Pada 1904 ia menggelar pameran lukisannya di Boston. Pada pameran itu Gibran bertemu dengan Mary Heskell, seorang kepala sekolah perempuan yang delapan tahun lebih tua darinya.

Persahabatan akrab dengan Heskell sangat membantu Gibran terutama ketika ia membutuhkan seseorang yang bisa menyunting tulisannya yang berbahasa Inggris. Selain itu, Heskell juga kerap membantu Gibran mengatasi masalah keuangan.

Meski saling menyatakan ketertarikan, Gibran dan Heskell tidak menikah. Mereka sempat bertunangan pada sekitar 1910 namun keluarga Heskell selalu menentang hubungan mereka. Pada 1926 Heskell justru menikah dengan Jacob Florance Minis.

Beberapa peneliti sastra yang melihat kehidupan Gibran dan karya-karyanya sempat menemukan kecenderungan Gibran berimajinasi mengenai hubungan personal dengan orang lain. Barangkali inspirasi untuk tema percintaan seperti dalam Sang Nabi terinspirasi dari hubungannya dengan Heskell.

Di luar refleksi individu mengenai percintaan dan spiritualisme, Gibran juga punya kecenderungan memberontak pada ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.


Aura pemberontakan bisa dilihat dalam karya Roh Pemberontak (1908) yang ditulis di Boston dan diterbitkan di New York pada 1948. Karya itu berisi empat cerita kontemporer berbentuk sindiran keras terhadap orang-orang korup.

Karena karya itu, Gibran dikucilkan oleh komunitas Gereja Katolik Maronit. Padahal, menurut Haskell, Gibran pernah mengatakan bahwa ia menganggap Kitab Suci Katolik versi King James hampir selalu menjadi referensi dan inspirasi spiritualitasnya dalam menulis.

“Gibran sangat peka terhadap sifat bahasa dan ia menemukan Kitab Suci resmi versi King James adalah inspirasi yang tidak ada habisnya,” tulis Suheil Bushrui dan Joe Jenkins dalam buku Kahlil Gibran: Man and Poet (1998:107)

Segala pengaruh yang membentuk karakter dan cara menulis Gibran termasuk dalam Sang Nabi merupakan perpaduan berbagai ajaran moral agama-agama, serta nilai cinta dan kehidupan yang kental.

Al-Khazraji, Abdullah, & Eng dalam jurnal mereka di Universal Themes and Messages in Gibran’s The Prophet, mencatat ada pengulangan 64 kali tema leksikal tentang cinta dan 35 kali tema kehidupan.

Mereka menyebutnya sebagai sebuah "keyakinan yang tak tergoyahkan dalam cinta dan kehidupan."

Baca juga artikel terkait PENYAIR atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight