Sandiaga Jadi Oposisi: Kritisi Pemerintah atau untuk Pemilu 2024?

Oleh: Rio Apinino - 15 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sandiaga Uno pilih jadi oposisi. Bagi pengamat, ini bisa mempertahankan basis pemilihnya pada Pilpres 2019 kemarin.
tirto.id - Semua bisa jadi oposisi pemerintahan, termasuk kader partai, anggota organisasi masyarakat, atau bahkan individu. Dan Sandiaga Salahuddin Uno, calon wakil presiden gagal, memilih jadi oposan dari kelompok yang terakhir.

"Saya terhormat jika ada kesempatan untuk menjadi oposisi. Mengawasi kinerja pemerintahan," katanya kepada wartawan saat bertemu Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Erick Thohir, di kawasan Kemang, Jakarta, Sabtu (13/7/2019).

Sandiaga pernah tercatat sebagai kader Gerindra, lalu mengundurkan diri setelah menyatakan maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto. Tentu saja dia dekat dengan partai ini. Sandiaga juga sempat disebut-sebut bisa masuk ke PAN. Bagi PAN, ini penting karena partai berlambang matahari ini belum punya figur ideal sebagai ikon partai. Sandiaga dianggap cocok untuk itu.

Di luar partai, Sandiaga pun digoda untuk bergabung ke Gerakan Arah Baru Indonesia, ormas yang mungkin di masa depan akan jadi partai, didirikan oleh politikus senior PKS Anis Matta dan dipopulerkan Fahri Hamzah.

Semua pilihan-pilihan tersebut tak ia hiraukan. Dia bilang akan fokus membesarkan OK OCE dan Rumah Siap Kerja. Di sinilah dia akan memaksimalkan diri sebagai oposisi. "Itu bagian dari pendekatan agar terus berada di tengah masyarakat," katanya awal Juli lalu.

Sandiaga bahkan sesumbar dua program yang sempat jadi janji kampanyenya itu "lebih bagus daripada kartu-kartu pemerintah."

Pilihan politik Sandiaga didukung politikus Gerindra Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Dia bilang, jadi oposisi itu adalah hak setiap warga maupun organisasi. "Menjadi oposisi itu sikap, bukan posisi," katanya kepada reporter Tirto, Ahad (14/7/2019).


Demi Rebut Kelompok Islam?


Direktur Riset Charta Politika, Muslimin, mengatakan menjadi oposisi memang menguntungkan Sandiaga, alih-alih memilih bergabung ke pemerintahan. Dengan memilih posisi itu, Sandiaga bisa mempertahankan basis pemilih Muslim yang telah mendukungnya pada Pilpres 2019.

Sebagaimana dicatat Made Supriatma dari Liam Gammon, sejak berkampanye untuk jadi Wakil Gubernur DKI pada 2016, Sandiaga memang "mulai mengadopsi penampilan sebagai politikus Muslim." Lebih spesifik, Sandiaga berusaha menempatkan dirinya sebagai role model Muslim karena dia punya hidup yang sukses, kaya, dan berprestasi. Ini modal yang sangat baik, kata Made, bila dia serius ingin jadi Presiden.

"Sandi punya keunggulan tertentu, antara lain masih muda bahkan representasi milenial, didukung emak-emak, kalangan pengusaha, basis massa Islam dengan segmen tertentu," kata Muslimin kepada reporter Tirto, Senin (15/7/2019).

Untuk yang terakhir, pernyataan Muslimin dipertegas dengan temuan Drone Emprit. Saat bertemu Joko Widodo, Sabtu (13/7) kemarin, Prabowo banyak mendapat sentimen negatif di media sosial dari para pendukungnya sendiri. Prabowo dianggap mengecewakan mereka.

@ardi_riau, salah satu pendukung Prabowo, mengatakan: "mulai detik ini, saya tidak akan mencuit apa pun tentang @prabowo Iagi. Buat saya kalian hanya memanfaatkan rakyat untuk kepentingan kelompok dan partai kalian. Apa kalian enggak tahu perjuangan kami di bawah tanpa kalian bayar? Jangankan untuk memberi semangat, menjaga perasaan kami pun kalian enggak bisa."

Pertemuan itu juga ditanggapi sinis oleh Persaudaraan Alumni 212, ormas Islam yang bisa dibilang loyal kepada Prabowo-Sandiaga selama ini. Juru Bicara PA 212 Novel Bamukmin mengaku akan meninggalkan mantan Danjen Kopassus itu. Dia bahkan mengibaratkan Prabowo sebagai sopir mabok. Dan karena itu sudah semestinya mereka ganti kendaraan.


Segmen-segmen inilah yang bisa dirawat Sandiaga dengan tetap jadi oposisi. Dan itu adalah modal besar untuk maju di 2024--jika dia memang mau mengadu nasib lagi. Sebagai pengingat, Prabowo-Sandiaga memperoleh suara 68.650.239 suara atau 44,50 persen pada Pilpres 2019. Sementara Jokowi-Ma'ruf memperoleh 85.607.362 suara atau setara 55,50 persen.

Muslimin juga mengatakan lebih menguntungkan bagi Sandiaga untuk tidak terkait dengan parpol tertentu. Sebab, katanya, selama ini Sandiaga adalah tipe politikus yang "bisa masuk ke kalangan lintas parpol." Dengan memiliki kartu anggota partai tertentu, dia akan lebih sulit seperti itu.

Apa pun yang jadi motif Sandiaga, PDI P selaku pemenang pemilu legislatif sekaligus salah satu partai pengusung Jokowi-Ma'ruf, toh tak ambil pusing. Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan PDIP Eva Kusuma Sundari meyakini posisi Sandiaga selaku oposisi tak akan mengganggu roda pemerintahan.

"PDI P itu partai tua, siap segala cuaca apalagi koalisi pemerintah kali ini berkekuatan besar," kata Eva kepada reporter Tirto, Ahad (14/7/2019) kemarin.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Politik)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Rio Apinino
Editor: Jay Akbar
DarkLight