29 Juni 1995

Sampoong Roboh: Bencana Terbesar di Masa Damai dalam Sejarah Korsel

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah - 29 Jun 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pusat perbelanjaan Sampoong dibangun dan dikelola oleh pengusaha culas yang melibatkan pejabat korup.
tirto.id - Cho Sang-Ghu adalah anak sebatang kara yang tinggal di salah satu panti asuhan di kota Seoul. Hanya ada satu orang yang menyayanginya, yakni kakak tirinya bernama Han Jeong-U. Sekali waktu Jeong-U pernah berjanji akan memberikan kado di hari ulang tahun adiknya yang jatuh pada 29 Juni 1995. Janji itu sangat membekas di benak Sang-Ghu.

Ketika hari ulang tahun tiba, Sang-Ghu menunggu kedatangan kakak tirinya. Namun yang ditunggu tak kunjung datang hingga pergantian hari. Sang-Ghu marah dan memutus hubungan dengan Jeong-U yang dianggapnya telah berbohong.

Dua puluh tahun kemudian, amarah itu masih tesisa di benak Sang-Ghu. Meski kakak tirinya sudah tiada, ia masih menganggap Jeong-U pembohong. Hal ini kemudian diketahui oleh Han Geu-Ru, anak Jeong-U, yang kemudian menjelaskan fakta baru:

“Ayah pernah cerita. Sebetulnya, ia membelikan kado di hari ulang tahun paman di Sampoong Department Store. Tapi ketika ayah belanja, tempat itu runtuh hingga membuat ayah terjebak selama tiga hari. Dia luka berat dan harus dirawat di rumah sakit,” ucap Geu-Ru kepada pamannya.

Sang-Ghu terkejut dan bergegas ke kediaman kakaknya. Ia menemukan kado yang tersimpan rapi selama puluhan tahun. Isinya kotak berisi sepatu yang tertulis “Untuk Saudaraku”. Tangis Sang-Ghu pun pecah. Ia menyesal atas prasangka buruk yang dituduhkan kepada kakaknya selama ini.

Cerita di atas bukanlah kejadian faktual, melainkan cuplikan dari serial Move to Heaven (2021) yang tayang di Netflix, yang salah satu epidosenya mengangkat kisah nyata dari peristiwa ambruknya bangunan pusat perbelanjaan Sampoong. Keruntuhan itu sangat membekas di benak masyarakat Korsel dan telah diangkat ke dalam serial drama korea: Traces of Loves (2006), Reply 1994 (2013), dll.


Salah Sedari Awal

Kehadiran pusat perbelanjaan Sampoong adalah dampak pesatnya pertumbuhan ekonomi Korea Selatan pada tahun 1980-an. Selain itu, berdiri pula puluhan bahkan ratusan ruko, toko retail modern, dan pusat perbelanjaan lain. Namun, masifnya proyek konstruksi tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas. Aturan pemerintah dan standar konstruksi diterabas demi cepatnya pembangunan, demikian dicatat Brittanica. Hasilnya, banyak bangunan berdiri dengan kualitas buruk, termasuk pusat perbelanjaan Sampoong yang kemudian ambruk.

Sampoong dibangun pada tahun 1987 di atas tanah bekas tempat pembuangan sampah. Awalnya pihak kontraktor ingin membangun perkantoran empat lantai usai melakukan perhitungan matang. Namun kepala proyek, Lee Joon, menolak rencana itu. Ia ingin lahan dijadikan area komersil, yakni gedung lima lantai yang mampu menampung puluhan ribu orang setiap harinya. Ia juga ingin di lantai paling atas terdapat restoran dengan pemanas.

Usulan Lee Joon ditolak kontraktor. Alasannya jelas: sangat berisiko. Kondisi tanah tidak memungkinkan untuk dibangun gedung lima lantai. Apalagi di lantai paling atas terdapat pemanas yang membuat beban bangunan semakin besar. Tidak mau ambil pusing, Joon kemudian memecat kontraktor dan menggantinya dengan kontraktor baru yang mendukung rancangannya. Maka pembangunan pun dimulai dan selesai dalam waktu dua tahun.

Dengan luas 73.877 m2, bangunan terdiri dari sembilan lantai. Di dalamnya diisi oleh sejumlah gerai merek ternama. Sampoong diprediksi akan bertahan hingga 50 tahun ke depan. Namun, prediksi ini meleset.


Runtuhnya Ikon Kemewahan

Sejak dibuka pada tahun 1990, rata-rata pengunjung setiap hari sekitar 40 ribu. Tidak ada satu pun yang mengetahui jika mereka berada dalam ancaman besar. Mewahnya bangunan seakan menutupi mara bahaya. Ketidaktahuan ini, melansir The Guardian, berlangsung lama sampai akhirnya muncul malafungsi pada bangunan yang membuat orang-orang tersadar.

Pada April 1995, di lantai lima terdapat retakan panjang pada atap dan dinding. Pihak manajemen tidak mengetahui pasti penyebabnya. Meski begitu, mereka tidak mengusut lebih lanjut dan memberi solusi atas kerusakan. Mereka hanya memindahkan toko ke lantai bawah. Dan empat lantai sisanya tetap melanjutkan operasi tanpa mengetahui kerusakan di lantai lima.

Hari demi hari retakan itu semakin besar dan menganga. Pada 29 Juni 1995, tepat hari ini 27 tahun lalu, retakan struktur semakin melebar dan merembet ke lantai empat. Para pedagang dan pengunjung mulai menyadari hal ini. Pihak manajemen terpaksa menutup total aktivitas di lantai 4 dan 5 serta mematikan AC satu gedung.

Meski kerusakan sudah terlihat jelas, pihak manajemen tidak mau menutup operasional Sampoong secara keseluruhan dan mengeluarkan perintah evakuasi. Mereka tidak ingin kehilangan keuntungan dari besarnya perputaran uang yang berlangsung di Sampoong hari itu. Di sisi lain, pihak manajemen justru memutuskan keluar dari gedung sebagai bentuk pencegahan. Mereka sudah menduga keutuhan gedung tidak akan bertahan lama.

Memasuki sore, pegawai tetap bekerja untuk melayani ribuan pengunjung yang semakin memadati Sampoong. Mereka tidak mengetahui fakta-fakta kerusakan gedung, kecuali merasakan hawa panas dan pengap karena AC dimatikan.

Pukul 17.50, retakan di dua lantai semakin melebar yang dibarengi bunyi khas retakan. Orang-orang mulai panik dan berhamburan keluar. Alarm tanda bahaya dibunyikan. Tapi, itu semua terlambat.

“Dari seberang toko terdengar suara seperti kereta bawah tanah memasuki stasiun, dan ketika kami mendengar suara itu, orang-orang mulai berlarian ke sana ke mari. Tiba-tiba sepotong beton jatuh di kepala saya dan saya pingsan,” ujar Park Seung-Hyun kepada Greatdisaster.

Tujuh menit kemudian, terdengar bunyi ledakan besar. Bangunan roboh dalam waktu hanya 20 detik. Membuat lebih dari 1500 orang terjebak di reruntuhan.


Infografik Mozaik Pusat Perbelanjaan Sampoong
Infografik Mozaik Runtuhnya Pusat Perbelanjaan Sampoong. tirto.id/Tino


Proses evakuasi berlangsung lama. Apalagi di saat bersamaan timbul api dari dalam puing-puing bangunan. Tim SAR tidak bisa menggunakan alat berat karena berisiko melukai korban selamat. Pencarian terpaksa menggunakan sekop dan alat ringan lainnya. Tim SAR berhasil mengevakuasi 937 korban luka dan 502 meninggal. Sementara masih ada enam orang yang tidak dapat ditemukan jasadnya.

Publik langsung menyoroti Lee Joon dan anaknya yang jadi kepala Sampoong, Lee Han-Sang, sebagai orang yang paling bertanggung jawab. Di meja hijau terungkap fakta baru bahwa terdapat kasus penyuapan terhadap pejabat kota agar proyek Sampoong diberi jalan mulus.

Pengadilan memutuskan empat orang bersalah. Lee Joon dijatuhi hukuman 10 tahun dan anaknya divonis 7 tahun. Keduanya didakwa dengan pasal kelalaian dan penyuapan. Sementara dua pejabat kota yang menerima suap harus menjalani hidup di penjara selama lebih dari 5 tahun.

Berbagai teori penyebab keruntuhan muncul. Mulai dari kegagalan bangunan, ledakan gas, sampai aksi spionase agen Korut. Namun, dalam riset yang ditulis Tae Won Park dalam “Inspection of Collapse cause of Sampoong Department Store” (2012), ambruknya bangunan murni disebabkan buruknya perencanaan konstruksi dan lalainya pengelola gedung dalam memperhatikan aspek keamanan bangunan.

Peristiwa ini menjadi keruntuhan bangunan terbesar di Korsel sejak berakhirnya Perang Korea pada 1953, bahkan termasuk yang terbesar di akhir abad ke-20. Dan kejadian ini menjadi tamparan keras bagi para kontraktor yang kerap membangun dengan waktu cepat tanpa memperhatikan kualitas.

Baca juga artikel terkait PUSAT PERBELANJAAN atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight