Sambutan Tak Ramah untuk Bekas KNIL yang Masuk TNI

Oleh: Petrik Matanasi - 5 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Bekas KNIL yang masuk TNI tak jarang mendapat perundungan dari koleganya. Beberapa mampu bertahan dan sampai jadi jenderal.
tirto.id - Pada pengujung 1949 di Kalimantan, Kapten Slijkboom khawatir pada nasib bawahannya yang bernama Kopral Kemis bin Panus. Waktu itu, Kerajaan Belanda harus mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) tempat mereka bekerja akan dibubarkan. Kapten Slijkboom lantas mengajak Kopral Kemis hijrah ke Belanda.

Daripada dilanda ketidakpastian di Indonesia, pikir Kapten Slijkboom, tentu lebih aman di Belanda. Tapi, Kopral Kemis merasa Belanda itu terlampau jauh dan tak terjangkau pikirannya. Kopral Kemis malah khawatir bakal kedinginan atau bahkan mati di sana. Kalau pun bertahan, dia tak siap jika harus makan kentang setiap hari.

Kamu akan segera dibunuh di sini. Karena kamu telah mencapai sesuatu yang sangat istimewa untuk Belanda, mereka akan mengeksekusi kamu,” kata Slijkboom coba meyakinkan Kemis.

Kopral Kemis bin Panus, seperti diceritakan Het Parool (28/04/1990) dan De Telegraf (20/03/1982), adalah penerima bintang Militaire Willemsorde kelas empat. Penghargaan itu adalah buah aksinya dalam operasi penyelamatan konvoi 4 truk KNIL pengangkut senjata yang diserbu gerilyawan Republikan di Ciampea, Bogor, pada 3 Oktober 1946.

Kopral Kemis merasa dirinya tidak pernah membunuh orang Indonesia dan yakin tidak akan dibunuh jika tetap berada di Indonesia. Kemis akhirnya bergabung ke Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 1950. Sebagai bekas kopral KNIL, Kemis setidaknya bisa langsung berpangkat sersan mayor atau mungkin pembantu letnan.

Di tahap awal, Kemis ikut Sekolah Kader di Magelang. Beberapa siswa di sana rupanya mengenali Kemis sebagai bekas KNIL. Sebuah insiden pun tak terelakkan menimpa Kemis terjadi di ruang makan sekolah.

Ya! Anda biasa makan keju dan roti yang enak, sementara kami makan singkong dan daun-daunan dari hutan,” maki salah seorang siswa.

Si siswa itu merasa tak nyaman makan bersama bekas musuh macam Kemis. Siswa yang lain lalu menggertak bakal memasukan Kemis ke dalam karung lalu membuangnya ke sungai. Bukannya takut, Kemis malah naik darah.

Ayo, jika Anda pahlawan, satu per satu!” tantang Kemis.

Bukannya maju, para perundung itu justru pergi. Setelah itu, Kemis kembali ke kelas seperti biasa.

Kemis kemudian terus berdinas di TNI hingga pensiun dengan pangkat letnan. Setelah pensiun, Kemis tinggal di Cibinong dan sempat diongkosi ke Belanda terkait statusnya sebagai ksatria Militaire Willemsorde.

Orang Indonesia lain yang mendapat bintang Militaire Willemsorde adalah Julius Tahija. Di KNIL, Julius sempat mencapai pangkat kapten. Dia sempat sebentar menjadi anggota TNI dengan pangkat letnan kolonel sebelum akhirnya terjun ke dunia bisnis.

Prasangka Terhadap Bekas KNIL

Masalah seperti itu boleh jadi tak hanya menimpa Kemis seorang. Para bekas KNIL yang masuk TNI umumnya memang tak bisa lepas dari prasangka. Terlebih, para mantan KNIL itu biasanya dapat kenaikan pangkat dua tingkat lebih tinggi dan penyesuaian besaran gaji.

Sementara itu, prajurit TNI yang babak belur melawan Belanda selama Revolusi 1945-1949 harus turun pangkat. Ada pula banyak bekas laskar yang justru tidak diterima masuk TNI.

Kebijakan semacam itu jelas menyakiti hati TNI tulen dan mantan laskar. Namun, pemerintah RI tak bisa mengelak karena hal itu merupakan bagian dari poin-poin kesepakatan Konferensi Meja Bundar 1949. Ekses dari kebijakan itu pun tak main-main: pemberontakan. Salah satu contohnya adalah pemberontakan para bekas pejuang yang ditolak masuk TNI di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.

Mengapa ada orang Indonesia mau bergabung dengan KNIL setelah Proklamasi? Salah satu alasannya adalah ekonomi.

Pasca Perang Dunia II, banyak daerah di Indonesia yang dilanda krisis ekonomi. Banyak orang kemudian menjadikan KNIL sebagai jalan keluar dari krisis itu. Dengan masuk KNIL, dia jadi punya gaji dan itu artinya bertahan hidup.

Di era 1950-an, Presiden Sukarno tidak dendam kepada orang-orang yang pernah bekerja pada Belanda. Sukarno justu banyak melakukan rekonsiliasi dengan bekas musuh pemerintah. Tak hanya bekas KNIL, bekas pegawai kolonial pun diberi kesempatan bekerja untuk Republik Indonesia setelah 1950.

Bahkan, pentolan-pentolan PKI yang terlibat dalam Peristiwa Madiun 1948 pun memperoleh kesempatan untuk hidup pada 1950-an. Ada pula bekas pemberontak yang dapat ampunan dan boleh terus berkarir di TNI.

Meski begitu, banyak orang di pemerintahan sipil maupun militer tetap merasa aneh karena bekerja berdampingan dengan bekas musuhnya.

Infografik Sambutan kepada Bekas Musuh
Infografik Sambutan kepada Bekas Musuh. tirto.id/Sabit


Bekas KNIL Jadi Jenderal

Selain masalah posisi, tentara bekas KNIL juga dicemburui karena kemampuan dan keandalan mereka dalam bertugas. Tidak seperti mantan laskar yang minim pengetahuan militer, para bekas KNIL itu adalah tentara profesional dan terlatih.

Salah satu contohnya adalah Letnan Satu Gerrits Kakisina. Pada 1963, Lettu Gerrits menjadi salah seorang komandan kompi di Batalyon Infanteri 145 di Baturaja.

Seturut pengakuan Zain Ashar Maulani dalam memoar Melaksanakan Kewajiban kepada Tuhan dan Tanah Air (2005, hlm. 132-133), Lettu Gerrits adalah mantan sersan KNIL dan juga anggota kesatuan intelijen Netherlands Forces Intelligence Service (NEFIS).

Letnan Kakisina tidak begitu disukai oleh perwira-perwira batalyon, meski ia seorang perwira professional terbaik yang saya lihat di satuan itu,” tulis Maulani.

Menurut Maulani—lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) 1962, Gerrits Kakisina adalah sosok yang tidak banyak bicara dengan perwira-perwira bekas musuhnya. Gerrits Kakisina lalu pensiun dari TNI dengan pangkat kapten.

Contoh lain adalah Josef Muskita yang bergabung ke TNI pada 1950. Dalam Aku Ingat: Rasa dan Tindak Siswa Sekolah Kolonial di Awal Merdeka Bangsa (1996, hlm. 20), Muskita mengaku masuk TNI karena ingin mengabdi. Dia ingin bekerja lebih baik di TNI dan tidak menuntut macam-macam kepada pemerintah.

Muskita kemudian jadi anak buah andalan Letnan Jenderal Ahmad Yani. Menurut Mans Muskita alias Henriette Josephine Latuharhary, Yani memang menyukai orang Ambon. Hal itu mungkin karena Yani sendiri adalah bekas sersan KNIL.

Meski sering dirundung, Muskita mampu bertahan di Angkatan Darat. Setelah 14 tahun berdinas di TNI, Muskita dapat mencapai pangkat brigadir jenderal.

Bekas KNIL lain yang jadi jenderal adalah Jacobs Julius Sahulata. Dia pernah menjadi Kepala Staf Korps Komando (KKO)--kini dikenal sebagai Marinir—dan berhasil mencapai pangkat brigadir jenderal setelah 15 tahun bertugas di Angkatan Laut.

Baca juga artikel terkait KNIL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight