Salman Rushdie Ditikam, 34 Tahun Setelah The Satanic Verses Terbit

Penulis: Ahmad Zaenudin, tirto.id - 18 Agu 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Fatwa Ayatollah Khomeini, sebagaimana ramalan dukun terhadap tokoh utama dalam Midnight's Children, membuat Salman Rushdie "mati sebelum meninggal."
tirto.id - Suatu hari, sebagaimana dikisahkan novel Midnight's Children (1981), Amina Sinai--ibu muda yang tengah mengandung tokoh utama--menemui dukun guna menerawang masa depan calon anaknya. Ia tersenyum saat mendengar ucapan sang dukun bahwa bayi yang dikandungnya adalah laki-laki.

Namun di tengah kegembiraan itu, si dukun menambahkan bahwa bayi tersebut "tak akan berumur lebih tua dari tempat kelahirannya." Meski demikian, "si bayi akan menjadi sosok yang sangat terkenal."

Dukun ini melanjutkan bahwa si bayi kelak akan melihat "banyak orang yang mencoba mendorongnya! Saudari-saudari akan menangisinya; cobra akan merayapi tubuhnya seraya menyembunyikannya! Suara-suara samar nan meyakinkan akan membimbingnya! Hutan lebat akan mengklaimnya, tetapi penyihir-penyihir akan merebutnya kembali [meskipun] para prajurit akan coba menggapainya [karena] penguasa tirani ingin menggorengnya!"

Ia berhenti sejenak, seakan memberi waktu bagi Amina untuk mencerna serta menangisi prediksinya. Ia lalu mengakhiri penerawangannya dengan berkata: "Bu, kelak dalam kehidupan si bayi, anakmu ini akan mati sebelum meninggal."

Ucapannya itu mengentak jantung Amina. Dan ironisnya, mengentak pula jantung sang penulis novel tersebut: Ahmed Salman Rushdie.

Dari Grimus ke The Satanic Verse

Ia lahir pada 19 Juni 1947, dua bulan sebelum India, tanah airnya, merdeka dari Kerajaan Inggris. Menurut Ian Hamilton dalam "The First Life of Salman Rushdie" (The New Yorker Edisi 25 Desember 1995), Salman Rushdie lahir dalam kondisi sangat baik secara fisik dan status sosial.

Kedua orang tuanya, Anis Ahmed Rushdie dan Negin Bhatt, merupakan orang terpandang. Mereka kaya raya berkat usaha konfeksi yang dirintis kakeknya dan berpendidikan tinggi, lulusan Cambridge di Inggris.

Tinggal di lingkungan elite, Westfield Estate di Mumbai, Salman Rushdie tumbuh sebagai pribadi yang diidolakan anak-anak seusianya. Tampangnya menawan, berbeda dengan anak-anak pribumi India pada umumnya. Tetapi tak sama pula dengan anak-anak bangsa penjajah. Dan yang utama adalah kecerdasannya.

Menurut pengakuan saudaranya, Sameen Rushdie, "[Salman] Rushdie menerima semua penghargaan sekolah, baik di bidang matematika, sejarah, geografi, maupun bahasa Inggris."

Prestasi itu adalah buah dari kegemarannya membaca buku di perpustakaan mini milik sang ayah. Pojok baca itu dibeli dari "Mister Inggris" yang memutuskan pulang ke tanah air setelah merampas harta benda rakyat India.


Meski diidolakan, Salman Rushdie perlahan menjadi pribadi tertutup yang asik dengan hidupnya sendiri. Ini terjadi karena ibunya adalah "ensiklopedia dongeng" dengan pelbagai kisah fiksi yang menyenangkan. Ia akhirnya terlalu asik dengan alur cerita yang mengalir di kepalanya.

Khawatir sang anak tak memiliki kehidupan sosial yang baik, juga khawatir dengan situasi India pasca kemerdekaan yang tak menentu, ayahnya kemudian mengirim Salman Rushdie ke Inggris untuk menimba ilmu saat usianya baru 13 tahun.

Keputusan ini ditentang sang anak. Tanpa disadari keluarganya, Salman Rushdie jatuh hati dengan tanah airnya, India. Jatuh hati dengan segala aspek sosial-budaya, sejarah, serta kehidupan berwarna India, yang menurutnya mengalir harmonis dalam perbedaan.

Ia terutama tertarik dengan kultur Hindu yang dianut mayoritas masyarakat India, dan kultur Islam yang dianutnya beserta keluarga. Selain itu, meskipun tahu pendidikan di Inggris lebih baik dibandingkan India, sang ibu menginginkan Salman Rushdie tetap berada di sampingnya.

Namun, keputusan ayahnya tak bisa diganggu gugat. Ia akhirnya berangkat ke Inggris pada tahun 1961. Sebagai pemberontakan pada ayahnya, Salman Rushdie menjawab asal-asalan pelbagai ujian hingga memperoleh nilai buruk dari semua bidang studi yang sesungguhnya ia kuasai.

Setahun kemudian saat keluarganya ikut pindah ke Inggris, sang ayah berang. Kemarahannya kian menjadi-jadi ketika Salman Rushdie diterima di Universitas Cambridge dan menyatakan tak ingin melanjutkan pendidikan.

Hal itu adalah buah kekesalan Salman Rushdie karena ayahnya melepas kewarganegaraan serta kediamannya di India untuk menjadi warga Inggris. Juga mengikuti mayoritas kaum Muslim India kala itu yang menjadi warga Pakistan.

"Ini takdir kamu. Kamu harus pergi ke Cambridge, titik!" ujar ayahnya.

Di Cambridge, Salman Rushdie studi sejarah. Di penghujung masa kuliahnya, ia mempelajari kehidupan Nabi Muhammad atas bimbingan Arthur Hibbert, profesor sejarah yang mengaku tak terlalu paham soal sejarah Nabi Muhammad ataupun Islam.

Meski demikian, Hibbert berhasil meyakinkan Salman Rushdie bahwa pengetahuannya tentang abad pertengahan cukup untuk digunakan menelaah masa lalu.

Dilatarbelakangi Perang Dingin serta Perang Vietnam yang menyertainya, Salman Rushdie terbawa arus "radikalisasi". Ia menjauh dari pandangan-pandangan konservatif untuk menjadi "kiri", menjadi "radical chic".

Ia menentang kesewenang-wenangan negara serta kultur pengekangan dari bangsanya sendiri. Hubungan bilateral India dan Pakistan kala itu sangat panas dan dipenuhi amarah.


Setelah lulus dari Cambridge, ia disuruh ayahnya untuk melanjutkan usaha keluarga yang telah beroperasi di Pakistan. Namun lagi-lagi Salman Rushdie memberontak. Ia yang sudah dewasa memustuskan nasibnya sendiri dan kali ini tak bisa dihentikan sang ayah.

Ia mula-mula mencoba menjadi seorang aktor. Namun setelah mencoba sejumlah audisi yang diselenggarakan kawan-kawannya sesama almamater Cambridge, Salman Rushdie gagal mendapatkan peran apapun. Maka itu ia sementara waktu pulang ke Pakistan untuk bekerja di stasiun televisi Pakistan, Karachi TV, sebagai produser acara "The Zoo Story".

Di waktu luangnya, ia mencoba menulis untuk sebuah majalah kecil. Namun, karena tulisan-tulisannya terlalu menghantam penguasa Pakistan, maka tak ada satupun tulisannya yang dimuat.

"Tulisanmu tidak lolos Dewan Pers Pakistan," tutur redaktur majalah kepadanya.

Sensor dan pengekangan ini tak senada dengan ilmu serta iklim pers yang diperolehnya di Inggris. Maka itu, Salman Rushdie tak betah tinggal di Pakistan dan memutuskan kembali ke Inggris. Ia sepenuhnya berusaha menjadi seorang penulis sembari menjadi copywriter di Ogilvy & Mather, salah satu firma periklanan dan relasi publik termahsyur.

Salman Rushdie tinggal di sebuah rumah yang dibelikan orang tuanya di Fulham dan menikahi putri sosialita Inggris bernama Clarissa Luard. Warsa 1975, ia menerbitkan kisah fiksi pertamanya: Grimus. Novel ini dianggap terlalu berbelit hingga tak laku dan hanya menjadi tertawaan para kritikus.

Kenyataan itu membuatnya berhenti sejenak menulis dan pergi berlibur bersama sang istri ke Pakistan. Saat liburan inilah ia tersadar atas kesalahan novelnya, yakni tak menyentuh kehidupan sekitar alias terlalu menjauh dari kenyataan.

Usai liburan, ia mencoba memperbaiki kesalahannya dengan menulis Madame Rama. Novel ini bercerita tentang Indiri Gandhi (anak Jawaharlal Nehru) yang menurut Salman Rushdie mengkhianati pemikiran Mahatma Gandhi. Nahas, novel ini lagi-lagi dianggap masih terlalu berbelit.

Belajar dari kegagalan Grimus dan Madame Rama, ia akhirnya berhasil menciptakan novel yang benar-benar membuat namanya melambung: Midnight's Children. Diterbitkan oleh Knopf di Amerika Serikat, The New York Review of Book mendaulat novel ini sebagai "salah satu novel terpenting yang tiba di dunia sastra Inggris dari Dunia Ketiga."

Midnight's Children dianggap berhasil membawa kehidupan India dan Pakistan--dengan segala kultur serta aspek sosialnya--dengan baik dan dapat dicerna secara mudah oleh orang-orang Eropa atau penutur bahasa Inggris.

Pujian para kritikus sastra akhirnya membawa novel ini menjadi pemenangan Booker Prize pada 1981. Setelah itu, Salman Rushdie kembali menulis novel yang mendorongnya jatuh ke titik terendah dalam hidupnya. Itulah novel The Satanic Verse (1988).

Fatwa Mati dan Penikaman

Tahun 1989, dalam persembunyian yang didukung Pemerintah Inggris, Salman Rushdie menerima panggilan telepon dari jurnalis BBC. Saluran telepon itu sebenarnya dirahasiakan, hanya bagi keluarga dan penjaga yang diutus negara, bukan untuk jurnalis.

Menurut pengakuannya dalam tulisan berjudul "The Disappeared" (The New Yorker edisi 10 September 2012), jurnalis tersebut tanpa basa-basi langsung mengajukan pertanyaan yang menghunjam jantungnya.

"Rushdie, bagaimana rasanya menerima vonis hukuman mati dari Ayatollah Khomeini?"

"Rasanya tidak enak," jawabnya.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga, Salman Rushdie menyatakan bahwa sang penulis novel yang membuat kaum Muslim Khomeini marah, "kini [sedang] bertanya-tanya berapa hari yang tersisa, dan menebak bahwa jawabannya mungkin satu digit angka."

Mengutip dari novel Midnight's Children (1981), ia mengaku bahwa vonis Khomeini membuatnya sebagai "orang mati sebelum meninggal."


The Satanic Verse (1988) yang membuat ia dijatuhi fatwa mati oleh Ayatollah Khomeini, berlatar belakang dari kekesalan Salman Rushdie melihat India tengah berkutat dalam perang sipil antara kaum Hindu dan Muslim. Perang ini lahir dari sikap serampangan Kerajaan Inggris menarik garis pemisah antara India dan Pakistan tanpa memikirkan aspek kultural.

Namun, alih-alih melihat kecamuk di tanah airnya sebagai buah dari kolonialisme, ia justru menyalurkan kekesalannya kepada agama. Sikap ini muncul saat ia berada di India dan tengah menulis The Satanic Verse. Saat itu terjadi kerusuhan di sekitar Masjid Babri, di Ayodhya. Kekesalannya pada agama ia sambungkan dengan kisah Nabi Muhammad.

Karena memperoleh pengetahuan tentang Nabi Muhammad dan Islam dari Arthur Hibbert, yang jelas mengaku tak terlalu paham soal Islam tetapi dianggap jenius oleh Salman Rushdie, maka ia memasukkan kisah hidup Nabi Muhammad dan Islam secara serampangan.

Dalam The Satanic Verse, ia menulis Nabi Muhammad dengan sebutan yang disebut pendeta-pendeta Nasrani pra-Islam. Salman Rushdie pun tak menganggap Al Quran sebagai kitab suci. Akibatnya, novel yang diterbitkan oleh Viking Penguin dengan nilai royalti sebesar $850.000 yang membuat Salman Rushdie bak J.K. Rowling di zamannya, dikecam kaum Muslim di seluruh dunia.

Syed Shahabuddin, diplomat sekaligus anggota parlemen India pada 1979-1996, menyebut novel karangan Salman Rushdie sebagai "fitnah yang tidak senonoh terhadap Nabi Suci." Pada 5 Oktober 1988, Pemerintah India melarang peredaran buku ini.

Saat informasi pelarangan ini tersiar ke Inggris, pelbagai Kedutaan Besar negara-negara Muslim atau berpenduduk mayoritas Muslim, menyatakan kekecewaannya kepada Salman Rushdie. Delapan ribu penduduk Muslim di London berdemonstrasi di depan kantor Viking Penguin.


Infografik Ahmed Salman Rusdie
Infografik Ahmed Salman Rushdie. tirto.id/Tino


Selain itu, demonstrasi juga digelar oleh ribuan Muslim di seluruh dunia terutama di Pakistan dan India. Demonstrasi mengecam The Satanic Verse disiarkan di berbagai stasiun televisi yang akhirnya diketahui penguasa Iran, Ayatollah Khomeini, dan mengeluarkan fatwa mati.

Sikap Khomeini, seperti ditulis Robin Wright untuk The New Yorker, dilatarbelakangi "tantangan eksistensial gara-gara perang delapan tahun dengan Irak yang menelan setidaknya satu juta korban serta ketidakpuasan domestik yang meluas."

Selain itu, juga didorong oleh keberhasilannya mengilfiltrasi "perjuangan kaum muda Iran merangsek ke Kedutaan Besar Amerika Serikat yang sebetulnya tak tahu menahu soal Khomeini."

Fatwa mati itu lahir enam bulan setelah novel tersebut terbit. Dalam fatwanya, ia meminta Muslim di seluruh dunia untuk membunuh Salman Rushdie. Khomeini menjanjikan "syahid" serta uang senilai tiga juta dolar bagi siapapun yang berhasil membunuh pengarang The Satanic Verse.

Fatwa itu membuat orang-orang yang terlibat dalam novel tersebut menjadi target pembunuhan. Hitoshi Igarashi, penerjemah The Satanic Verse ke dalam bahasa Jepang, tewas ditikam pada Juli 1991. Dan penerjemah novel ini ke dalam bahasa Italia terluka parah setelah mengalami penusukan.

Sementara Salman Rushdie, hidup dalam pelarian. Ia tinggal di pelbagai rumah aman yang disediakan Pemerintah Inggris selama sepuluh tahun. Hal ini membuatnya mengidap klaustrofobia dan stres akut.

Selama dalam persembunyian, ia didampingi orang-orang asing, yakni empat anggota kepolisian Inggris serta dua pengemudi. Di masa-masa itulah ia menulis novel Haroun and the Sea of Stories (1990) dan The Moor's Last Sigh (1995).

Dan 34 tahun setelah The Satanic Verse terbit, saat menjadi pembicara di Chautauqua Institute, di New York, Salman Rushdie ditikam oleh Hadi Matar, pemuda 24 tahun keturunan Libanon.

Baca juga artikel terkait SALMAN RUSHDIE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight