Salju Palsu di Alam Asli

Oleh: Ahmad Zaenudin - 11 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Salju palsu tak hanya dibikin di Indonesia, tapi juga di Swiss dan Amerika Serikat.
tirto.id - Semalam
Salju turun dan menumpuk
Atap
Juga jalan dan ladang
Menggigil

Salju
Hanya turun di musim dingin yang beku

Puisi di atas adalah karangan penyair Korea Yun Dong-ju dalam antologi puisinya berjudul Langit, Angin, Bintang, dan Puisi. Salju hanya turun di musim yang beku, tulisnya.

Di Indonesia, rata-rata suhu udara di Indonesia berada di kisaran 26 hingga 36 derajat Celcius. Tak ada musim beku. Namun, tak ada musim beku bukan berarti tak bisa ada salju. Di Bekasi, Trans Snow World resmi dibuka pada 25 Maret 2019 lalu. Sesuai namanya, taman hiburan ini menyajikan satu menu andalan untuk dinikmati para pengunjung: salju.

Proses Membuat Salju

Membuat salju di iklim tropis seperti Indonesia bukanlah hal yang mustahil. Sebagaimana dipublikasikan Chemical & Engineering News, salju alami terbentuk di awan ketika molekul-molekul air mengorganisir diri di sekitar nukleator, partikel yang bertindak sebagai inisiator pembentukan kristal es atau nukleasi. Partikel-partikel nukleator cukup banyak. Ia bisa debu mineral, tanah, hingga bakteri.

Ada beberapa produk nukleasi buatan, seperti Snomax, bubuk protein beku-kering yang dijual oleh Snomax International di Denver dan Drift, aditif pembuatan salju yang diluncurkan pada 2001 oleh Aquatrols di Paulsboro, N.J. Salju terbentuk manakala suhu udara di sekitar telah berada di titik yang pas, di titik 0oCelcius.

Salju palsu dibentuk dengan mereka-ulang proses ini. Umumnya, dengan pompa bertekanan tinggi, mesin akan menyemprotkan pecahan-pecahan air ke udara dingin. Sebelum jatuh, air mengkristal, membentuk salju palsu. Untuk mempertahankan mesin bisa memproduksi salju dengan baik, suhu udara diatur untuk tetap berada di angka -8 derajat celcius.

Dalam bentuk yang sederhana, mesin pencipta salju tidak melakukan itu. Untuk membuat salju, pertama-tama harus disiapkan balok es. Kemudian, mesin mencacah balok es itu menjadi butiran-butiran salju.

Penciptaan salju palsu meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan salju dan semakin sukarnya alam menyediakan secara alami, dengan berbagai sebabnya seperti pemanasan global.

Pada Olimpiade Musim Dingin 2018 yang diadakan di Korea Selatan, 98 persen dari salju-salju yang berada di area-area pertandingan olahraga merupakan salju palsu buatan Snow Makin Inc, perusahaan pencipta salju asal Amerika Serikat. Salju palsu yang menyelimuti Olimpiade itu harus disediakan dengan membayar uang mahar seharga $6 juta, untuk mendatangkan mesinnya saja.

Sementara itu, Olimpiade Musim Dingin berikutnya, yang akan diadakan di Beijing, akan sepenuhnya menggunakan salju palsu.

Salju palsu di area Olimpiade sudah dimanfaatkan sejak 1980, kala Olimpiade Musim Dingin diadakan di Lake Placid, New York, Amerika Serikat. Selanjutnya, salju-salju palsu terus hadir di ajang akbar olahraga itu, misalnya di Vancouver (2010) dan Sochi (2014).

Kebutuhan salju palsu meningkat seiring berkurangnya kapasitas alam menyediakan salju alamiah, salah satunya, karena pemanasan global. Ada pula kebutuhan yang muncul karena kebutuhan hiburan, seperti yang terjadi di Indonesia.

Dalam paper “Ground Temperatures under Ski Pistes with Artificial and Natural Snow” yang terbit pada Arctic, Antarctic, and Alpine Research, Volume 36 (2004), disebutkan bahwa pada 1984, 59 persen resort ski yang ada di Amerika Serikat memanfaatkan salju palsu untuk menghibur para pengunjungnya. Lantas, pada 2001, persentasenya meningkat menjadi 90 persen.

Selain di Amerika Serikat, fenomena demikian pun terjadi di Swiss, negara yang terkenal dengan hiburan bertema saljunya.

Infografik Salju Palsu
undefined


Dilansir Popsci, gletser Morteratsch, yang berada di Swiss Alps, kehilangan 115 kaki luas salju saban tahunnya. Untuk tetap mempertahankan wajah gletser itu, pemerintah setempat menyelimutinya dengan salju palsu.

Salju palsu punya keunggulan dan kerugian. Masih merujuk “Ground Temperatures under Ski Pistes with Artificial and Natural Snow”, rata-rata wilayah yang diselimuti salju palsu lebih dingin dan bertahan lebih lama dibandingkan salju alami. Alasannya: wilayah yang diberi salju palsu, diselimuti lebih tebal.

Di wilayah bersalju alami, temperatur berada di angka -7,2 derajat celcius. Di wilayah bersalju palsu, temperaturnya lebih dingin -2 derajat dibandingkan angka itu. Akibatnya, salju palsu bisa membuat ekosistem sekitar bertahan lebih lama dibandingkan salju alami.

Namun, salju palsu membutuhkan biaya lebih besar, baik untuk menghadirkannya dan untuk merawatnya. Masuk akal jika biaya tiket masuk hiburan salju tidak dibanderol dengan harga yang terjangkau oleh kelas menengah ke bawah.

Baca juga artikel terkait SALJU atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani