Saksi-Saksi Yehuwa: Kristen tanpa Natal, Salib, Alkohol, dan Neraka

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 29 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Tekad pemurnian denominasi Kristen ini kurang populer; Penginjilan mendatangi rumah ke rumah atau tempat-tempat publik.
tirto.id - “Hamba Allah tak cari hidup nyaman. Bukan dunia yang mereka senangkan. Jaga dirimu tak bernoda, setia meski ujian melanda.”

Potongan lagu nomor 61 berjudul “Maju, Saksi Yehuwa!” berlandaskan ayat Lukas 16:16 itu membahana di ruangan lantai 9 salah satu mal di Jakarta Selatan. Semua yang hadir berdiri, kedua mata memandang salah satu dari dua layar di muka yang menyajikan lirik lagu. Nada lagu itu menghentak semangat dalam notasi tinggi dan rendah. Mereka menyebut tempat beribadah itu bukan gereja, melainkan Balai Kerajaan.

Setelahnya, seorang pengkhotbah berdiri di altar berundak. Seperti kebanyakan laki-laki lain di ruangan itu, ia memakai setelan jas dan dasi yang rapi. Ia mengutip ayat-ayat Alkitab yang dipegangnya. Alkitab ini telah direvisi dua kali dan diberi nama Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru.

Anggara Pardede, jemaat Saksi-Saksi Yehuwa, meyakini dalam Alkitab itu nama Yehuwa disebut lebih dari tujuh ribu kali. Tapi nama yang dianggap sebagai sang pencipta ini tak terdapat dalam Alkitab perjanjian lama dan baru.

“Jadi Saksi Yehuwa mengembalikan nama itu ke bentuk aslinya, seperti awalnya dan menyesuaikan dengan bahasa yang berkembang agar mudah memahaminya,” ujar Pardede. Di Rusia, Alkitab Saksi-Saksi Yehuwa dilarang karena dianggap memuat ajaran ekstremis.

Khotbah yang memuat tuntunan Alkitab berlangsung 30 menit, sesudahnya membahas soal Menara Pengawal selama satu jam. Referensi khotbah selalu disajikan dalam situsweb resmi mereka. Isinya sama di seluruh dunia, hanya beda bahasa. Di ruangan itu, lebih dari 80 orang yang mendengarkan pengkhotbah menunduk, membaca versi digital pada ponselnya masing-masing. Pertemuan itu ditutup dengan menyanyikan lagu, saling bersalaman, beramah tamah, dan bersih-bersih bersama.

Itu malam Natal. Tapi tak ada hiasan khusus maupun pernak-pernik merah meriah di altar maupun ruangan yang menandakan hari besar bagi umat Kristen. Bahkan tak ada sepatah ucapan pun tentang perayaan Natal. Tak ada juga simbol Yesus disalib.

Denominasi Kristen ini tidak merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. Meski begitu, mereka mengaku sebagai Kristen yang patuh.

“Murid-murid Yesus tidak juga merayakan Natal pada masa itu. Jadi Yesus hanya memerintahkan kematian, bukan kelahiran. Tidak ada catatan yang spesifik dalam Alkitab untuk merayakan Natal,” ujar Pardede.

Mereka percaya bahwa tuhan itu satu dan menanggalkan konsep Trinitas. Selain itu, mereka melarang pernikahan penganutnya dengan denominasi lain, harus sesama jemaat Saksi-Saksi Yehuwa.

Pedoman Saksi-Saksi Yehuwa

Sebutan Yehuwa sama dengan Yahweh atau YHWH. Tapi ini bukan agama Yahudi. Ajaran ini baru masuk Indonesia pada 1930. Tersebar di seluruh provinsi, jumlah mereka sekitar 26.741 orang pada 2016. Organisasinya terpusat di Brooklyn, New York. Jemaatnya ada di 240 negara dengan sekitar 8,3 juta pengikut.

Tak ada dana dari pemerintah daerah atau pusat. Mereka mengandalkan sumbangan sukarela dari jemaat. Tapi mereka selalu berupaya tunduk pada pemerintah, artinya: patuh hukum, bayar pajak rutin, hingga menuntaskan seluruh persyaratan mendirikan rumah ibadah. Tapi mereka enggan ikut campur urusan politik.

“Kami tidak akan dipilih sebagai salah satu anggota partai politik,” Pardede berkata. “Kami tidak juga akan mencalonkan sebagai pejabat atau kedudukan yang penting dalam pemerintahan. Kami tidak mengadakan lobi politik, tidak mendukung partai politik atau calon pejabat, dan tidak mencalonkan diri untuk menduduki jabatan di pemerintahan.”

“Kami juga tidak terlibat aksi unjuk rasa untuk mengganti pemerintah. Kami menghindari perpecahan politik, kami menghormati persaudaraan internasional,” imbuhnya.

Soal urusan memberikan suara dalam pemilu, Pardede mengatakan “terserah keputusan masing-masing Saksi-Saksi Yehuwa.”

Namun, mereka juga tak mengajarkan hormat secara fisik pada bendera Indonesia, meski mereka mengibarkan dan menyimpan dengan baik-baik bendera Merah-Putih.

“Bagaimana cara menghormati orangtua, apakah selalu menggerakkan bagian tangan tertentu atau sikap tubuh? Tentu tidak. Seperti itu kami menghormati lambang negara,” ujar Pardede.

Bagi Saksi-Saksi Yehuwa, kiamat atau hari akhir bukanlah kehancuran seluruh alam semesta, melainkan bencana besar yang melumatkan orang-orang jahat. Sisanya tetap akan selamat di bumi.

“Zaman dulu pernah ada kiamat,” demikian Pardede meyakini dengan merujuk kisah Nabi Nuh yang dilanda banjir maha dahsyat dan menyelamatkan orang-orang baik tapi membinasakan orang-orang jahat. Ia meyakini kiamat bakal terjadi untuk kali kedua. “Di kitab suci diberi tahu bahwa bumi ini tetap ada, dan bumi ini diberikan kepada manusia.”

Jika kiamat bukan dalam pengertian melumat bumi atau alam semesta, maka konsep neraka pun bagi mereka hanyalah kuburan, bukan tempat menghukum orang berdosa. Suatu saat, demikian Pardede, orang-orang baik akan dibangkitkan kembali dari kubur.

“Ada orang-orang yang tetap hidup tapi ada miliaran orang yang juga akan dibangkitkan,” ucapnya.

Mereka juga memilih untuk tidak mengonsumsi minuman beralkohol jika mengakibatkan orang-orang di sekitarnya terganggu. Bagi mereka, tuhan mengutuk kemabukan dan minuman keras, selain mencerminkan sikap boros. Begitupun dengan mengonsumsi babi.

Saksi-Saksi Yehuwa gencar melakukan penginjilan dari rumah ke rumah. Tak peduli agama atau kepercayaan penghuni rumah, mereka akan menjelaskan pokok ajaran Saksi-Saksi Yehuwa. Setelahnya mereka memberi majalah dan menunjukkan situsweb resmi mereka kepada penghuni rumah.

“Kalau kami datang bukan berarti kami mau mengubah agama orang, kami hanya memberitahukan sesuatu yang lebih baik,” terangnya.

Infografik HL Wajah Minoritas

Pelajaran Agama di Sekolah

Rhona Shinta menjadi penganut Saksi-Saksi Yehuwa sejak umur 11 tahun, tapi sejak SD hingga SMA, ia mengikuti pelajaran agama Kristen.

“Karena tidak ada ajaran Saksi Yehuwa. Ajarannya cukup sama karena dari Alkitab, cerita Adam, Hawa, Nabi Musa. Hanya kepercayaan seperti Yesus adalah Allah yang berbeda,” ujar Shinta.

Ia berkata banyak temannya gagal paham mengapa Saksi-Saksi Yehuwa tidak merayakan Natal dan sebagainya. “Setelah tahu Saksi Yehuwa, (teman) yang tadinya ramah jadi tidak ramah lagi,” ceritanya.

Adapun Yosafat, 26 tahun, baru menetapkan diri menjadi penganut Saksi-Saksi Yehuwa sejak umur 20 tahun. Sebagian besar keluarganya masih memeluk Protestan. Ia mantap menekuni pilihannya setelah sadar bahwa kitab suci tak sekadar dihapalkan.

“Memang awalnya mereka mengira ini ajaran menyimpang karena tidak mencerminkan orang Kristen pada umumnya yang biasa merayakan Natal, punya salib. Kami jelaskan perlahan dasar kami sama—yakni Alkitab. Akhirnya mereka bisa mengerti,” ujar Yosafat.

Anggara Pardede berkata pihak denominasi ini selalu berupaya menyiapkan agar ada mata pelajaran Saksi-Saksi Yehuwa di bangku sekolah. Sejauh ini mereka bersedia menjadi pengajar tanpa bayaran. Kebanyakan sekolah mengambil jalan tengah, meminta muridnya untuk mencatat dan meminta tanda tangan pengkhotbah.

“Jadi apakah anak tersebut mengikuti ibadah, itu menjadi referensi guru agama di sekolah mereka,” kata Pardede.

Baca juga artikel terkait SAKSI YEHUWA atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan