1 Februari 1968

Saigon Execution: Kisah Sebuah Foto yang Mengakhiri Perang Vietnam

Ilustrasi Mozaik Saigon Execution. tirto.id/Nauval
Oleh: Ahmad Zaenudin - 1 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Saigon Execution menggambarkan dengan terang benderang soal betapa brutalnya peperangan. Foto itu mengubah arah Perang Vietnam.
Tepat pukul 03.00 dini hari pada 30 Januari 1968, selepas orang-orang merayakan Tet, tahun baru dalam kalender Vietnam, Tentara Rakyat Vietnam beserta Viet Cong melakukan serangan ke Vietnam Selatan. Tet Offensive, demikian serangan itu dikenal, ditujukan untuk memprovokasi rakyat Vietnam Selatan agar memberontak terhadap rezim Nguyen Van Thieu, sekutu Amerika Serikat. Kala itu Perang Vietnam sedang panas-panasnya.

Keesokan harinya New York Times melaporkan, “Keberanian para penyerang Tet merambah ke jantung kota Saigon dan, yang paling mengejutkan, sampai ke batas-batas Kedutaan Besar AS. Segelintir orang Vietnam, mengenakan seragam Vietnam Selatan, hanya sanggup menahan beberapa bagian kedutaan selama enam jam pertama serangan. Darurat militer kemudian diberlakukan.”

Tet Offensive—kemudian disebut sebagai “yang terberat dan paling berkelanjutan” dalam Perang Vietnam—jelas tak bisa dibiarkan begitu saja oleh Vietnam Selatan dan AS. Mereka lalu melakukan perlawanan. Dua hari selepas diluncurkan, Tet Offensive relatif bisa dipadamkan. Setelah itu aparat kepolisian dan tentara Vietnam Selatan menyisir kota Saigon untuk menangkap anggota Viet Cong.

Salah satu orang yang tertangkap adalah Nguyen Van Lem alias Bay Lop, kapten pada salah satu kelompok gerilyawan Viet Cong, yang kala itu kebetulan sedang berbaju sipil.

Bay Lop kemudian dibawa ke 252 Ngo Gia Tu Street District 10, di mana Kepala Polisi Nasional Vietnam Selatan Mayor Jenderal Nguyen Ngoc Loan memimpin pasukan melakukan penyisiran. Tapi, tanpa diduga, ketika Bay Lop dihadapkan, Ngoc Loan, dengan revolver Smith & Wesson Bodyguard kaliber 38, menembak pesakitan itu secara spontan tepat di pelipisnya. Bay Lop tumbang seketika. Darah mengucur deras dari kepalanya.

“Jika kamu ragu, jika kamu tidak melakukan tugasmu, orang-orang itu tidak akan mengikutimu,” kata sang jenderal tentang tindakannya yang tiba-tiba itu.

Di saat bersamaan fotografer Associated Press (AP) Eddie Adams, yang ikut dalam penyisiran, memotret “aksi koboi jalanan” itu. Foto yang kemudian terkenal dengan sebutan “Saigon Execution” pun tercipta. Eksekusi itu terjadi pada 1 Februari 1968, tepat hari ini 52 tahun silam.

“Saya pikir dia hanya akan mengancam atau meneror orang itu,” kenang Adams, seperti dikatakannya pada BBC. “Maka, secara alami saya mengangkat kamera dan mengambil gambarnya.”


Menghentikan Perang

Saigon Execution, foto yang diambil Eddie Adams menggunakan Leica M4 itu, yang sukses merekam 1/500 siluet peluru yang menembus kepala Bay Lop itu, menyebar begitu cepat ke seluruh dunia.

New York Times menampilkan foto tersebut dan melaporkan bahwa “bentrokan di jalanan” Saigon kian brutal dan Vietnam Utara sukses “menguasai setengah kota Saigon.” Sementara pembawa acara berita CBS News Bob Schieffer menyebut foto itu “merangkum Perang Vietnam.”

Perang Vietnam secara resmi berakhir pada 30 April 1975. Namun Saigon Execution, yang terjadi tujuh tahun sebelumnya, seperti dikatakan Bill Eppridge, fotografer majalah Life, “adalah penanda perang akan berubah.” Foto itu, tidak dapat dipungkiri, merupakan simbol bahwa perang seharusnya berakhir sekaligus penanda AS dan Vietnam Selatan akan kalah.


Robert J. McMahon, sejarawan Ohio State University, sebagaimana diungkapkannya pada New York Times, menyebut bahwa Saigon Execution “membuat masyarakat mempertanyakan posisi AS, apakah sebagai orang baik atau penjahat dalam Perang Vietnam.” Lalu ia pun menyatakan bahwa Tet Offensive memberi tanda kepada AS dan sekutunya bahwa komunis Vietnam terlalu kuat.

Sementara Christian G. Appy, sejarawan University of Massachusetts, mempertegas bahwa Saigon Execution melahirkan pertanyaan moral: “Apakah kehadiran AS di Vietnam sah atau adil dan apakah AS melakukan perang dengan cara yang bermoral?”

Pertanyaan moral atas keterlibatan AS dalam Perang Vietnam itu muncul karena Nguyen Ngoc Loan berada di pihak AS dan Bay Lop, ketika eksekusi dilakukan, menggunakan baju biasa khas rakyat jelata Vietnam. Jika mengabaikan konteks dan latar belakang peristiwa, Saigon Execution dapat dibaca sebagai kesewenang-wenangan AS dan Vietnam Selatan terhadap masyarakat sipil. Atau dapat dibaca pula bahwa ia merupakan pertanda betapa frustrasinya AS dan Vietnam Selatan menghadapi Tet Offensive.

Laporan khusus Time menyatakan pada 1968, tahun ketika Saigon Execution terjadi, gelombang protes masyarakat dunia, khususnya AS, meminta Perang Vietnam dihentikan semakin besar. Jeannette Rankin, misalnya, memimpin demonstrasi 5.000 wanita yang meminta perang dihentikan di gedung Capitol.

Jajak pendapat publik AS pun menyiratkan bahwa dukungan masyarakat AS atas Perang Vietnam kian menipis. Pada Maret 1967 setengah penduduk AS masih mendukung Presiden Lyndon Baines Johnson soal perang. Namun, setahun selepasnya, dukungan pada LBJ menipis, menjadi hanya sepertiga penduduk AS yang mendukung perang.

Di sisi lain, Vietnam Utara menggunakan Saigon Execution dengan narasi yang berbeda. Foto itu dimanfaatkan Vietnam Utara sebagai klaim bahwa Amerika dan sekutunya merupakan pihak yang brutal dan karenanya Tet Offensive memang harus dilakukan untuk mengusir mereka dari Vietnam.

Secara umum Saigon Execution dipandang satu arah oleh publik dunia: kebrutalan dan kesewenang-wenangan Vietnam Selatan. Dalam laporannya, BBC menyebut Saigon Execution sebagai “simbol kebrutalan dan anarki perang.” Sementara itu Hal Buell, editor foto AP, menyatakan bahwa “dalam satu frame, Saigon Execution menyimbolkan kebrutalan perang. Dan sebagai ikon, ia sukses merangkum apa yang terjadi sebelumnya, menangkap peristiwa terkini, dan memberitahu apa yang akan terjadi di masa mendatang.”

Masalahnya, ada konteks yang tidak ikut menyebar dan tidak tertangkap masyarakat dunia pada Saigon Execution. Nguyen Ngoc Loan memang semena-mena, tetapi Bay Lop tidak kalah mengerikan.



Menghancurkan Sang Jenderal

Bay Lop, meski mengenakan pakaian sipil saat ditangkap, adalah kapten pada salah satu kelompok Viet Cong. Laporan BBC menyebut sebelum eksekusi itu terjadi, kelompok Viet Cong yang dipimpin Bay Lop telah memporak-porandakan desa dan menewaskan 30 penduduk sipil. Max Hastings dalam Vietnam: An Epic Tragedy (2018) pun menyebut bahwa sesaat sebelum Bay Lop ditangkap, ia mengeksekusi seorang letnan kolonel bernama Nguyen Tuan beserta istrinya, enam orang anaknya, serta ibunya yang berusia 80.

Sementara itu, berdasarkan kesaksian Kolonel Tullius Acampora, Nguyen Ngoc Loan merupakan sosok andalan Vietnam Selatan dan AS dalam menghadapi gempuran Tet Offensive.

Atas konteks yang tidak ikut serta dalam Saigon Execution, Eddie Adams menyesal. Salah satu yang membuat ia menyesal adalah hancurnya citra Nguyen Ngoc Loan, termasuk tatkala sang jenderal ditolak imigrasi AS ketika hendak masuk ke negeri Paman Sam selepas Perang Vietnam. Awalnya, Adams menyebut Nguyen Ngoc Loan “sosok dingin, pembunuh tak berperasaan.” Namun, selepas ikut berkeliling dengannya, Adams berbalik menyebutnya sebagai “pahlawan sesungguhnya.”

Dari sisi moral, ada rasa aneh yang muncul pada diri Adams. Katanya, “saya memperoleh uang dengan menampilkan orang yang saling membunuh. Dua nyawa melayang dan saya memperoleh uang karenanya.”

Lalu, dalam eulogi untuk Jenderal Nguyen Ngoc Loan yang terbit di majalah Time, Adams menulis: “Sang jenderal membunuh Viet Cong; saya membunuh sang jenderal dengan kamera.”

“Foto adalah senjata paling kuat di dunia,” tegasnya kemudian.

Baca juga artikel terkait FOTOGRAFI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight