Saga Facebook Hadapi Gelombang Kritik dari Soros, Apple & LSM

Oleh: Nindias Nur Khalika - 21 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Facebook menempuh banyak cara, salah satunya dengan menyewa PR untuk memproduksi artikel negatif tentang lawan.
tirto.id - Facebook dihujani kritikan tahun ini. Kabar terakhir menyebutkan perusahaan penyedia layanan jejaring sosial itu diprotes oleh grup yang menamakan diri sebagai Freedom from Facebook. Businees Insider mengatakan kelompok ini mengadvokasi privasi dan anti-monopoli yang terbentuk saat skandal Cambridge Analytica terjadi. Mereka ingin membubarkan Facebook.

Bulan Juli lalu, masih menurut Business Insider, empat anggota grup tersebut protes dengan cara memegang kertas yang menampilkan gambar gurita berkepala Mark Zuckerberg dan Chief Operating Officer Sheryl Sandberg. Mereka melakukan aksi itu saat eksekutif senior Facebook Monika Bickert memberikan penjelasan soal berita palsu serta penyaringan konten di Komite Kehakiman Dewan Perwakilan Amerika Serikat.

Juru bicara Freedom from Facebook, Sarah Miller, mengatakan gambar di atas terinspirasi dari lukisan Next! karya kartunis Udo J. Keppler tentang monopoli perusahaan Standard Oil.

George Soros dan Para Pengkritik Facebook Lain

Sebelumnya, kritik terhadap monopoli Facebook yang diusung Freedom from Facebook pernah dibahas oleh George Soros pada jamuan makan malam tahun di World Economic Forum awal tahun ini.

Seperti dilaporkan BBC, Soros mengungkapkan bahwa perusahaan internet besar seperti Facebook dan Google mempunyai kekuasaan membentuk perhatian masyarakat. Monopoli tersebut menurutnya menjadi ancaman bagi demokrasi.


“Butuh upaya nyata untuk menegaskan dan mempertahankan apa yang oleh Stuart Mill disebut ‘kebebasan berpikir’. Ada kemungkinan bahwa [sekali] kebebasan itu hilang, orang-orang yang tumbuh di era digital akan mengalami kesulitan untuk mendapatkannya kembali,” katanya.

Siapa Soros?

Nama ini sempat beredar dalam ingatan publik Indonesia saat krisis moneter dan ekonomi melanda Asia Tenggara pada 1997. Soros adalah miliarder yang dikenal salah satunya sebagai pendiri hedge fund atau perusahaan pengelolaan investasi global Quantum Group of Funds. Ketika krisis moneter melanda Indonesia dan negara lain tahun 1997, ia lewat aktivitas di Quantum Group of Funds dituduh sebagai biang keladi terombang-ambingnya nilai tukar sejumlah mata uang di Asia.

CNN melaporkan bahwa tuduhan tersebut muncul lantaran Quantum Group of Funds melakukan spekulasi dengan meminjam baht Thailand dalam jumlah besar saat negara itu dibayangi kepayahan ekonomi. Soros lantas mengeluarkan uang kurang dari US$1 miliar ketika ia menilai baht akan mengalami devaluasi parah.

Tak lama kemudian, nilai mata uang Thailand terhadap dollar memang terjun bebas ke angka 60 persen. Quantum Group of Funds pun mendulang untung sementara krisis yang terjadi setelahnya menyebar ke negara lain, termasuk Indonesia.

Selain Freedom from Facebook dan Soros, CEO Apple Tim Cook juga pernah mengkritik Facebook setelah perusahaan layanan jejaring sosial tersebut terlibat perkara dengan Cambridge Analytica. Dalam wawancara dengan Recode dan MSNBC bulan Maret lalu, ia menjelaskan dirinya lebih suka Facebook dan platform internet lain menghentikan penggunaan data pribadi untuk membangun profil rinci seseorang.

Menurut The Guardian, bukan kali ini saja Cook memperingatkan bahaya model bisnis milik Facebook. Ia telah lama menunjukkan perbedaan desain antara Apple yang menjual produk agar mendapatkan profit dengan platform internet seperti Facebook dan Google yang melahap informasi pengguna kemudian dimonetisasi.

“Sebenarnya kami bisa mendapatkan banyak uang dengan memonetisasi pelanggan—jika pelanggan kami adalah produk. Kami memilih untuk tidak melakukan hal itu ... Kami tidak akan memperdagangkan kehidupan personal anda. Privasi adalah hak asasi manusia, kebebasan sipil,” katanya.

Cara Facebook Melawan Pengkritik

The New York Times melaporkan bahwa Facebook tak tinggal diam menghadapi kritikan di atas. Perusahaan layanan jejaring sosial tersebut berusaha mengalihkan kemarahan publik lewat jasa konsultasi politik Definers Public Affairs yang mengkhususkan diri pada penelitian oposisi.

Seperti yang dilaporkan The Guardian, salah satu taktik yang dilakukan Definers Public Affairs adalah menerbitkan lusinan artikel negatif tentang perusahaan teknologi lain, termasuk Google dan Apple, agar perhatian pada Facebook terdistraksi.

Tulisan-tulisan itu dipublikasikan Definers di NTKNetwork.com, sebuah situsweb yang tampak seperti situs berita tapi sebenarnya dikelola oleh perusahaan PR. Konten yang ada pada NTKNetwork.com lantas biasa diambil oleh situs konservatif populer seperti Breitbart.


Definers juga berusaha menyalahkan George Soros sebagai otak di balik munculnya kelompok yang kritis terhadap Facebook. Menurut The New York Times, perusahaan PR tersebut mengedarkan dokumen penelitian yang mengaitkan Soros dengan “gerakan anti-Facebook yang luas” dan menekan wartawan untuk melihat hubungan keuangan antara Soros dan kelompok anggota Freedom from Facebook seperti Color of Change.

The New York Times menyebutkan bahwa Color of Change adalah organisasi daring keadilan sosial sekaligus grup progresif yang didirikan oleh putra Soros. Menurut The Guardian, Color of Change banyak mengkritik Facebook dalam hal diskriminasi rasial terkait iklan, privasi dan pengawasan, pidato kebencian rasis, dan lain-lain.


Infografik Facebook yang anti kritik


Facebook Kaitkan Pengkritik dengan Narasi Anti-Semitisme

Terkait aktivitas Freedom from Facebook yang membawa gambar gurita berkepala Mark Zuckerberg, The New York Times menjelaskan bahwa Facebook kemudian meminta respons organisasi hak sipil Yahudi bernama Anti-Defamation League (A.D.L).

A.D.L lalu memberikan pernyataan di Twitter: ”Menggambarkan orang Yahudi sebagai gurita yang mengepung dunia adalah kiasan anti-Semit klasik. Proteslah Facebook—atau siapa pun—semua pihak yang Anda inginkan tapi pilihlah gambar yang berbeda.”

Sejak 2017, Facebook dan perusahaan teknologi lain memang bekerja sama dengan grup hak sipil untuk memberantas ujaran kebencian di internet dan anti-semitisme. Kritik A.D.L itu kemudian, menurut The New York Times, bergema di media konservatif termasuk situs The Washington Free Baecon yang sebelumnya mengaitkan Freedom from Facebok dengan “kelompok ekstrem anti-Israel”.

Narasi anti-semitisme yang diasosiasikan kepada pengkritik yang disebut ditokohi George Soros ini sesungguhnya ironis, sebab Soros sendiri adalah seorang Yahudi.

Zuck Menjawab CEO Apple

Sementara itu, Mark Zuckerberg merespons CEO Apple Tim Cook pada Facebook dengan menyebut kritikan tersebut tak tulus dan dangkal.

Seperti dilaporkan The Verge, ia mengatakan perusahaannya tetap menggratiskan layanan sebab Facebook mempunyai fokus menghubungkan orang. Model bisnis ini didukung iklan sebagai pilihan rasional, agar harapan tersebut bisa terwujud.

“Di Facebook, kami secara jujur ada di dalam perusahaan yang bekerja keras untuk tak membebani Anda dan menyediakan layanan gratis yang bisa digunakan semua orang. Saya tak merasa bahwa hal itu berarti kami tidak peduli dengan pengguna,” katanya.


The New York Times mengatakan bahwa kritik Cook di atas membuat Zuckerberg memerintahkan semua karyawan Facebook untuk menggunakan ponsel Android alih-alih Iphone. Di samping itu, Cook juga jadi incaran artikel negatif buatan Definers. Di salah satu tulisan perusahaan PR tersebut, CEO Apple disebut munafik karena perusahaan itu juga mengumpulkan banyak data pengguna.

Tanggapan Facebook

Laporan media The New York Times, The Guardian, dan lain-lain terkait Definers Public Affairs, serta penggunaan ponsel Android, lebih lanjut ditanggapi oleh Facebook. Lewat situs resminya, Facebook mengatakan bahwa pihaknya meminta seluruh karyawan untuk memakai ponsel Android dikarenakan Android merupakan sistem operasi populer yang digunakan di seluruh dunia.

Terkait masalah Definers, Facebook menjelaskan pihaknya telah memutuskan hubungan dengan perusahaan PR tersebut. Perusahaan layanan jejaring sosial itu juga membantah telah meminta Definers untuk menulis demi kepentingan perusahaan atau menyebarkan informasi yang keliru.

Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani