Menuju konten utama

Saat Pelajar Ditugaskan Berkencan oleh Sekolah

Sebuah sekolah di Utah mengharuskan siswa-siswanya untuk berkencan. Kontroversi meruyak di tengah fenomena menurunnya kegiatan berkencan di kalangan pelajar Amerika.

Saat Pelajar Ditugaskan Berkencan oleh Sekolah
Ilustrasi kencan. Istock

tirto.id - Pernah membayangkan bila berkencan masuk dalam salah satu bahan ajaran di kelas? Sebuah kontroversi merebak di Salt Lake City ketika sebuah sekolah menengah atas melalui pengajarnya memberi pekerjaan rumah untuk berkencan dengan serangkai panduan bagi murid-muridnya.

Kencan adalah satu dari sekian banyak hal yang lekat dengan kehidupan remaja. Namun, tak semua remaja berkesempatan atau memilih berkencan di usia belasan. Fokus pada studi, ketidaktertarikan dengan sebaya yang ditemui dalam pergaulan sehari-hari, atau berada di lingkar luar para murid populer, sehingga kemungkinan mendapat pasangan saat sekolah menjadi kecil, menjadi sejumlah alasan yang melatari remaja-remaja yang tidak berkencan.

Lantas, jika dihadapkan dengan tugas sekolah yang mewajibkan untuk berkencan, apakah yang terjadi?

Lazimnya aturan berkencan dipelajari di luar sekolah, seperti perbincangan dengan teman atau keluarga. Jika dibicarakan di dalam kelas, tak akan jauh-jauh dari nasehat untuk berpacaran secara sehat, khutbah soal menjaga diri supaya tak melabrak batas-batas norma, dll.

Tidak heran jika diunggahnya lembar kertas yang berisi panduan berkencan bagi remaja kelas sebelas di Highland High School, Salt Lake City, di media sosial mengundang perhatian publik, terutama yang peduli terhadap isu gender.

Dilansir dari Huffingtonpost, orangtua salah satu murid Highland High School, Jenn Oxborrow, menyatakan sindirannya terhadap Departemen Pendidikan Negara Bagian Utah yang memasukkan tugas berkencan ke dalam kurikulum.

Ia mengunggah foto handout berisi panduan berkencan bagi remaja perempuan di laman Facebook-nya dan menyatakan kekhawatiran terhadap sejumlah poin dalam panduan tersebut yang dianggapnya tidak layak.

Tugas berkencan dengan lawan jenis ini merupakan komponen mata pelajaran Adult Roles and Financial Literacy. Dalam handout tersebut, para murid diminta untuk pergi berkencan dengan bujet maksimal lima dolar. Murid perempuan diberi panduan seperti: jadilah feminin dan bertingkahlah seperti perempuan dewasa, jangan menggunakan bahasa vulgar atau bersumpah serapah.

Mereka juga diminta tepat waktu saat berkencan, menunjukkan rasa hormatnya terhadap teman kencan, dan berusaha sebisa mungkin tidak mengkritik cara menyetir dan kebiasan personal lawan jenisnya itu. Urusan makan pun diatur dalam panduan berkencan itu. Perempuan diminta menghabiskan makan yang dipesan supaya tidak membuang sia-sia uang teman kencannya.

Sementara, murid laki-laki diminta untuk mengunyah makanan dengan mulut terkatup. Di samping itu, mereka juga disarankan mengekspresikan perasaannya dan tidak melebih-lebihkan seputar perempuan yang pernah diajaknya berkencan kepada teman-temannya setelah itu.

Lucy Mulligan, putri Oxborrow, mengatakan bahwa kencan yang ditugaskan gurunya merupakan suatu kewajiban, semacam tugas sekolah. Katanya, “Dia tidak memberi kebebasan bagi kami untuk melakukannya atau tidak.”

Ketika pihak Highland High School dimintai konfirmasi, kepala sekolah Chris Jenson mengatakan bahwa handout tersebut tidak ditulis oleh pengajar. Jenson meneruskan pernyataan salah satu pengajarnya itu bahwa tugas berkencan yang kontroversial didapat dari bank data materi pelajaran yang sudah disetujui pemerintah negara bagian. Selanjutnya, murid-murid diinstruksikan untuk menginterpretasikan sendiri tugas yang diberikan, baik dipandang sebagai kencan kasual maupun sekadar menghabiskan waktu dengan salah seorang teman.

Pernyataan ini kontradiktif dengan ucapan Lucy Mulligan yang menerima kesan bahwa kencan sungguhan merupakan suatu mandat pengajarnya. “Dia (pengajar) tidak pernah mengatakan bahwa yang kami ajak pergi bisa saja seorang teman,” tutur belia itu.

Terlepas dari fakta berbeda yang dituturkan masing-masing pihak, pihak Highland High School pun menunjukkan sokongan bagi Oxborrow yang melayangkan protes terhadap kurikulum bentukan negara bagian. Jenson sepakat bahwa ada bias gender yang tersirat dari tugas berkencan dan sepatutnya dihapuskan dari pengajaran.

Oxborrow merasa tugas ini berisiko bagi remaja yang tengah mencari identitas gendernya. Tidak pantas menurutnya bila sekolah mewajibkan murid-muridnya untuk berkencan demi memenuhi nilai akademis dan kejadian ini merupakan wujud ketidaksensitifan pembuat kurikulum yang mewajibkan murid untuk berkencan dengan lawan jenis.

Saat mengunggah handout tugas berkencan ini, Oxborrow mengatakan bahwa dirinya harus mengklarifikasi kepada teman-teman dan keluarganya bahwa informasi yang disebarkannya melalui Facebook tersebut bukan dibuat-buat. “Tanggapannya luar biasa. Orang-orang merasa terkejut dan cemas melihat betapa bias gendernya hal ini,” ujarnya.

Seiring banyaknya komplain terhadap tugas berkencan tersebut, Mark Peterson selaku juru bicara Dewan Pendidikan Utah, menyatakan bahwa materi “kencan lima dolar” diputuskan untuk dihapuskan dari kurikulum negara bagian. Lebih lanjut ia memaparkan bahwa pengajar-pengajar di sekolah-sekolah di Utah bisa menyumbangkan materi pelajaran mereka sendiri ke bank data untuk digunakan pendidik lain. Tugas berkencan ini merupakan salah satu bagian dari topik ajaran “Tujuan Berkencan” dalam bank data kurikulum negara bagian.

Di samping itu, terdapat pula tes “Apakah Ini Cinta?” beserta sejumlah daftar ide berkencan hemat. “Materi-materi (Tujuan Berkencan) ini tidaklah layak. Kami memutuskan untuk menurunkannya,” tukas Petterson.

INFOGRAFIK Kencan

Hal-hal trivial yang masuk ke kurikulum semacam ini, dalam pandangan Oxborrow, menunjukkan betapa meresapnya heteronormativitas dan misogini dalam masyarakat yang terejawantah lewat sistem pendidikan formal. Kepedulian orangtua murid, seperti Oxborrow, dengan mengungkap fakta materi ajar di kelas ini merupakan salah satu cara mengawasi bagaimana perilaku dan pola pikir para pelajar dibentuk pihak-pihak yang dianggap berkapasitas menentukan karakter peserta didik.

Opini murid pun patut didengarkan seperti ketika Mulligan menyatakan bahwa tugas berkencan bukanlah hal yang pantas diberikan kepada para murid.

Kesan umum mungkin menyatakan bahwa remaja/pelajar di Amerika sangat biasa berkencan, sebenarnya tidak tepat. Beberapa survei justru memperlihatkan tren berkencan di kalangan pelajar Amerika mengalami penurunan.

Data yang dilansir oleh childtrend.org menyebutkan bahwa kegiatan kencan di kalangan pelajar, khususnya yang duduk di kelas 8, kelas 10 dan kelas 12, pada 2013 cenderung menurun dibandingkan data pada 1991. Pergeseran angka paling signifikan terjadi pada siswa kelas 12. Siswa tahun terakhir di level SMA yang tidak berkencan meningkat dua kali lipat lebih, dari 14 persen pada 1991 menjadi 38 persen pada 2013.

Pada rentang periode yang sama, proporsi anak kelas 10 yang tidak pernah berkencan juga meningkat dari 28 persen pada 1991 menjadi 44 persen pada 2013. Sedangkan proporsi remaja kelas 8 yang tidak berkencan meningkat dari 48 persen pada 1991 menjadi 60 persen pada 2013.

Tren lain juga memperlihatkan bahwa proporsi pelajar yang kencan lebih dari sekali dalam seminggu juga mengalami penurunan. Antara 1991 dan 2013, persentase kencan lebih dari sekali dalam sepekan di kalangan pelajar kelas 12 menurun dari 34 persen menjadi 16 persen. Penurunan juga terjadi pada siswa kelas 10 yang proporsinya turun dari 17 persen pada 1991 menjadi hanya 9 persen pada 2013.

Baca juga artikel terkait KENCAN atau tulisan lainnya dari Patresia Kirnandita

tirto.id - Pendidikan
Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Zen RS