Sekolah Tatap Muka 2022

Saat Kasus Omicron Jakarta Meroket & PTM Sekolah Masih 100 Persen

Reporter: Riyan Setiawan - 24 Jan 2022 11:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Di tengah kasus COVID-19 makin meroket dan kasus Omicron mencapai ribuan, Pemprov DKI masih memberlakukan PTM terbatas 100 persen.
tirto.id - Penambahan kasus COVID-19 di DKI Jakarta kini kembali meroket. Bahkan, kasus virus COVID-19 varian Omicron pun saat ini tertinggi masih di Jakarta.

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI mencatat, pada empat hari terakhir, kasus Corona DKI memasuki angka seribuan lebih dan terus merangkak naik. Pada 19 Januari 1.012, 20 Januari 1.155 kasus dan 21 Januari 1.484 serta 22 Januari 1.825 kasus.

"Kasus positif baru berdasarkan hasil tes PCR hari ini bertambah 1.155 orang sehingga total 874.259 kasus," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes DKI, Dwi Oktavia di Jakarta, Kamis (21/1/2022).

Selain itu, Dwi juga mengatakan di Jakarta terdapat 1.027 orang yang terinfeksi virus Corona varian Omicron, sebanyak 747 orang adalah pelaku perjalanan negeri, sedangkan 280 lainnya adalah transmisi lokal.

Namun, di tengah pertambahan positif COVID-19 yang tinggi dan kasus Omicron yang mencapai ribuan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI masih memberlakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas 100 persen. Padahal, banyak kasus positif COVID-19 yang ditemukan saat PTM terbatas 100 persen.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Riza Patria mengatakan per Jumat (20/1/2022), terdapat 43 sekolah yang terpapar COVID-19 dengan jumlah 72 orang yang positif.

"Jadi total ada 72 kasus," kata Riza di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Jumat (21/1/2022). Namun, data ini sama seperti yang diberikannya pada Rabu (19/1/2022) lalu.

Terbaru, berdasarkan data yang dihimpun pada Jumat (21/1/2022), ditemukan satu kasus di SMPN 85, 11 kasus di SMKN 35 Jakarta yang terpapar COVID-19, dan empat kasus di SMPN 4 Jakarta.



Omicron Merebak, PTM Minta Dilonggarkan


Peneliti dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Mouhamad Bigwanto menyatakan, melihat kondisi naiknya kasus dan varian Omicron di Jakarta, sebaiknya Disdik DKI menurunkan kapasitas PTM terbatas menjadi 50 persen terlebih dahulu.

"Jadi risiko penularan di sekolah bisa kita kurangi, sementara hak mendapatkan pendidikan bagi anak lewat pembelajaran tatap muka langusng tetap terpenuhi," kata Bigwanto kepada Tirto, Jumat (21/2/2022).

Menurutnya, jika PTM terbatas tetap digelar 100 persen, akan berdampak buruk bagi siswa maupun tenaga pendidik. Apalagi, varian Omicron sangat menular dan masih banyak warga Jakarta yang belum divaksin.

Berdasarkan data Pemprov DKI per Jumat (21/1/2022), vaksinasi dosis 1 12.085.429 orang (119,9 persen), dengan proporsi 71 persen merupakan warga ber-KTP DKI dan 29 persen warga ber-KTP Non DKI. Sedangkan, total dosis 2 kini mencapai 9.611.229 orang (95,3 persen), dengan proporsi 72 persen merupakan warga ber-KTP DKI dan 28 persen warga KTP Non-DKI.

Vaksinasi dosis ke-3 juga dilakukan. Total dosis 3 sampai saat ini sebanyak 216.726 orang dan jumlah yang divaksin dosis 3 hari ini 28.481 orang.

Bigwanto khawatir, penularan yang terjadi di sekolah kemungkinan besar bisa terbawa ke rumah. Menurutnya, hal itu berisiko bagi mereka yang belum divaksin di lingkungan rumah.

"Kewaspadaan anak terhadap prokes tidak bisa disamakan dengan dewasa, sehingga penularan antaranak bisa lebih mudah terjadi," pungkasnya.

Sementara itu, LaporCovid-19 memandang sebaiknya PTM tidak diselenggarakan sementara waktu dan diganti pembelajaran jarak jauh (PJJ) sampai kasus mulai menurun dan kondisi dinyatakan aman secara epidemiologis.

"Tentunya prioritas pemerintah adalah keselamatan rakyat, secara khusus keselamatan anak. Jika kita mulai sadar bahwa target vaksinasi terhadap anak yang masih rendah dan timpang," kata Relawan LaporCovid-19 Yemiko Happy kepada Tirto, Jumat (21/1/2022).

Per 5 Januari 2022, Pemprov DKI mencatat capaian vaksinasi anak usia 6-11 tahun di Jakarta mendekati 50 persen atau 561 ribu orang berdasarkan KTP DKI dari target 1.173.972 orang untuk dosis pertama, sebagaimana diberitakan Antara.

Sementara dari data Polda Metro Jaya per 19 Januari 2022, pihaknya telah melakukan Vaksinasi Merdeka kepada 2.152.719 anak (96,32 persen) dari target 2,2 juta anak yang ada di wilayah DKI Jakarta dan daerah penyangga.

Kemudian Yemiko menuturkan, berdasarkan pernyataan Menkomarves, Luhut Binsar Pandjaitan, jika puncak varian Omicron terjadi pada Februari nanti, sehingga sudah sepantasnya PTM ditiadakan sementara waktu.

"Tapi mengapa tidak ada tindakan? PTM masih dibuka? Apakah itu kemudian tindakan yang disengaja?" pungkasnya.



Mengapa PTM 100 Persen di Jakarta Tetap Berjalan?


Wakil Gubernur DKI Jakarta, Riza Patria mengatakan PTM terbatas 100 persen tetap berlangsung meski ditemukan kasus COVID-19 di sekolah. Pasalnya, berdasarkan SKB 4 Menteri, DKI Jakarta berstatus PPKM level 2 dan diizinkan untuk menggelar PTM terbatas 100 persen.

"Jadi upaya kami ini sekarang, kita perketat. Apakah nanti kemudian kita akan ubah menjadi dua sesi, ini masih menjadi pertimbangan. Tapi yang pasti kita masih memenuhi syarat untuk melakukan PTM 100 persen terbatas," kata Riza di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Jumat (21/1/2022).

Namun, Pemprov DKI memberlakukan kebijakan penutupan sekolah sementara selama lima hari jika ditemukan kasus kurang dari 5 persen. Sedangkan jika kasus lebih dari 5 persen, sekolah akan ditutup selama 14 hari.

Untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19 di sekolah, kata Riza, Pemprov DKI akan memastikan adanya tim Satgas COVID-19 di setiap lembaga pendidikan agar dapat menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

"Lalu, kami percepat pelaksanaan vaksin yang ada apakah bagi booster atau bagi anak-anak yang masih belum atau siapa saja yang mungkin belum," pungkasnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbudristek, Anang tak menjawab apakah pihaknya akan mengurangi kapasitas PTM terbatas di DKI Jakarta.

Namun, dia mengatakan penyelenggaraan PTM terbatas sesuai dengan kebijakan SKB 4 Menteri yang mengatur tentang penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi telah disusun secara adaptif dengan mempertimbangkan perkembangan situasi pandemi terkini dan sudah mengatur secara rinci dalam pelaksanaannya.

"SKB disusun dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti para pakar epidemiologi, satgas Covid-19, serta lintas kementerian dan lembaga yang disusun secara seksama," kata Anang kepada Tirto, Jumat (21/1/2022).

Kendati demikian, Anang mengimbau kepada pengelola sekolah di DKI yang menerapkan PTM terbatas 100 persen agar tetap waspada terhadap penyebaran COVID-19, terutama varian Omicron. "Sekolah harus memastikan protokol kesehatan tetap terjaga," pungkasnya.

Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin mengatakan kegiatan PTM 100 persen bakal disesuaikan dengan kondisi kasus COVID-19 di masing-masing daerah. "Kalau terjadi [kasus] meninggi, ya tentu akan kita perketat. Kalau sudah turun, baru kami longgarkan termasuk PTM," kata Ma'ruf dalam siaran pers, Jumat (21/01/2022).

Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menekankan, saat ini kegiatan PTM 100 persen tetap berlaku dan tetap diselenggarakan selama kondisi penyebaran Corona terkendali.

"Kami akan terus sesuaikan dengan kondisi. Apabila situasi masih terkendali, tidak apa 100 persen. Tapi, daerah-daerah tertentu mungkin ya, itu akan kita sesuaikan nanti," pungkasnya.


Baca juga artikel terkait atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Maya Saputri

DarkLight