Saat Instagram Mulai Mengambil Peran Galeri Seni

MEDIA SENI BARU
Pengguna Instagram foto/shutterstock
Oleh: Arman Dhani - 9 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Media sosial mengubah lanskap industri seni. Galeri-galeri tak lagi jadi andalan menjual benda seni. Instagram dan jejaring media sosial lain kini jadi tempat yang biasa untuk menjual benda-benda seni, bahkan yang berharga mahal sekalipun.
tirto.id - Mata Leonardo DiCaprio terpikat oleh lukisan berjudul “Nachlass" (2015) karya Jean-Pierre Roy yang dipajang di Instagram. Bintang Titanic yang memiliki koleksi lukisan mahal itu kemudian membeli langsung lukisan tersebut via jejaring sosial. Ia tak lagi melulu mengandalkan galeri-galeri seni untuk melengkapi koleksinya.

Jual-beli lukisan yang mahal memang tak lagi kaku, tak terbatas di galeri-galeri mewah. Sudah banyak lukisan bernilai mahal diperjualbelikan melalui platform media sosial. Situs berita Independent menyebutkan, sebuah lukisan senilai 20 juta euro baru saja terjual melalui Instagram. Angka ini tentu besar dan menjadi sangat istimewa karena ada peran makelar seni dalam proses itu.

Brett Gorvy, makelar dari balai lelang Christie’s, menyebut beberapa klien terbesarnya ada di Instagram. Kepada Bloomberg ia mengaku bahwa transaksi melalui media sosial mempermudah banyak hal. Saat ini Gorvy memiliki 56,9 ribu pengikut di Instagram. Ia belajar bahwa media sosial menjadi sangat penting dan berpengaruh ketika lukisan dari Jean-Michel Basquiat yang merespons petinju Sugar Ray Robinson diunggah melalui akun Instagram-nya.

Dalam perjalanan menggunakan pesawat dari New York menuju Hong Kong yang berdurasi 16 jam, tiga pesan sampai pada Gorvy. Mereka bertanya apakah lukisan Basquiat itu bisa dibeli? Dalam transaksi singkat dua hari kemudian, lukisan itu terjual dengan nilai mencapai 19,5 juta poundsterling. Meski jual beli melalui Instagram bukan hal baru, tapi nilai transaksi ini sangat besar. Pada 2007 sebuah lukisan terjual dengan nilai 5,9 juta poundsterling.

Pelaku lelang Simon de Pury, yang memiliki 175.000 pengikut di Instagram, berkata kepada Bloomberg, penjualan Brett Gorvy melalui lukisan Basquiat itu yang termahal di Instagram. Gorvy sendiri mengundurkan diri dari balai lelang Christie’s tahun lalu dan ia percaya bahwa ada platform yang lebih ramah dan berbeda untuk pasar seni. Instagram menyediakan itu semua. Menurutnya, kita hanya perlu menemukan pasar dan orang yang tepat untuk menjual produk kita.

Farah Wardani, pengamat seni yang kini bekerja sebagai asisten direktur untuk Resource Centre National Gallery Singapore, punya pandangan menarik tentang fenomena ini. Ia menganggap media sosial ialah perangkat yang merespons perkembangan zaman; seluruh aspek kehidupan yang ada saat ini nyaris bersinggungan dengannya.

“Kalau aku sih lihatnya sebuah keniscayaan, ketika sekarang kampanye politik dan gaya hidup publik aja apa-apa lewat medsos, ya pastilah merambah ke art market juga. Praktis, cepat, mobile, dan keuntungannya juga bisa mengukur popularitas atau demand,” katanya.

Farah menyadari tren ini jadi tantangan bagi pelaku pasar untuk menata ulang strategi dalam memperkenalkan karya seni kepada publik. Ia memperkirakan saat ini orang akan berpikir dua kali untuk membuka galeri/ sarana jual fisik. Ini sangat berbeda dengan kondisi Indonesia pada 2008 yang mengalami 'Art Boom', ketika banyak galeri baru bermunculan. Perlu dipahami bahwa media sosial memberi ruang seni dikenal publik lebih luas.

“Tentu kesannya ini menjadi lebih demokratis buat pekerja seni atau pelaku industri kreatif independen, di mana mereka bisa lebih banyak peluang meraih pembeli lewat media sosial,” katanya.



Karya Seni Tak Melulu Jual Beli

Asep Topan, kurator dan penulis seni rupa asal Jakarta, tidak kaget soal penjualan karya seni lewat media sosial. “Beberapa tahun lalu saya mengamati ada juga orang yang menjual karya seni di situs-situs belanja daring seperti Kaskus, Bukalapak.com,” katanya. Bahkan beberapa orang telah memulai bisnis penjualan karya seni daring dalam bentuk situsweb yang dibuat khusus. Biasanya ditujukan untuk penjualan affordable art dan menjaring pembeli-pembeli baru atau muda.

Meski penjualan lukisan lewat media sosial sudah menjadi tren, tetapi hal itu tidak lantas menafikan rumah lelang atau galeri kehilangan pamor. Mereka bisa tetap hidup, meski juga menggabungkan bisnis konvensional dengan media sosial. “Mereka justru memakai Instagram sebagai salah satu media promosinya. Untuk sebuah transaksi jual beli karya seni juga dibutuhkan kepastian, keamanan, dan kepercayaan yang tidak main-main, karena nilainya yang bisa sangat tinggi,” jelas Asep.

Mungkin perlu dilihat lebih jauh apakah skema penjualan karya seni di Instagram ini bisa menjadi ancaman atau sekadar alternatif dari rumah lelang atau galeri seni.

Alia Swastika, direktur program Ark Galerie, mengatakan pemanfaatan teknologi bukanlah hal yang perlu ditakuti. Ia menilai di zaman sekarang sangat mungkin sebuah karya seni dijual secara bebas melalui media sosial, tetapi biasanya itu bersifat karya-karya yang lebih ringan, seperti gambar atau ilustrasi. "Kalau instalasi, video, patung, bahkan lukisan, sebagian kolektor masih merasa perlu melihat langsung," ujar Alia.

“Banyak kolektor bahkan masih merasa penting bertemu dengan seniman untuk menambah pengetahuan tentang ide-idenya. Tapi Instagram lebih menjadi cara branding bagi seniman ketimbang jualan,” katanya.

Alia menambahkan, relasi kolektor-seniman-karya seni rupa itu lebih kompleks ketimbang soal transaksi jual beli semata, sehingga tempat mereka membeli itu sebenarnya sangat mungkin tak mengambil peranan penting. Beberapa kolektor pemula mungkin memang belum terlalu mempelajari sistem seni, jadi membeli lewat Instagram atau media sosial lebih berdasarkan amatan visualnya. Tetapi galeri, pameran atau art fair akan selalu punya fungsi yang tak melulu jual beli.

“Galeri atau art fair yang baik selalu mencoba membangun relasi mendalam antara seniman dan klien, yang berbasis pada keinginan mendorong pemikiran dan inovasi baru dalam seni, bukan hanya keuntungan ekonomi,” katanya.

Itu mengapa fungsi kurator sangat penting. Farah berkata, secara sederhana kurator adalah pemberi nilai. Nilai ini pertama-tama adalah nilai kontekstual, entah itu konteks budaya, sejarah, ilmiah, sosial-politik dan sebagainya. Intinya, ia berhubungan dengan kemasyarakatan, yang menentukan signifikansi karya dalam konteks publik.

“Ketika ini bersinggung dengan market, tentu saja seperti halnya semua hal, nilai kontekstual ini jadi dihubungkan dengan nilai ekonomi atau pasar, alias jadi ada harganya. Kurator bisa atau tidak menjadi penentu harga sebuah karya, itu tergantung situasi atau pilihan si kurator,” katanya.

Sementara untuk galeri, Alia berpendapat ia jadi institusi untuk mengembangkan seni rupa dan bukan sekadar ruang pameran. “Ark Galerie sendiri lebih menggunakan gagasan institusi untuk menjalankan galerinya. Jadi, selain pameran, ada program-program pendidikan publik atau edukasi alternatif untuk para seniman, dan ini juga penting untuk mendekatkan wacana kami ke publik di Yogya,” katanya. Alia masih melakukan kerja art dealer, manajer seniman, dan fungsi komersial lain.

"Tetapi bagi kami, itu hanya sebuah cara bertahan hidup, bukan visi dan spirit dari Ark Galerie. Kerja komersial juga penting untuk membangun pasar ekonomi seni yang sehat, dan ini cukup krusial untuk menopang dinamika seni," lanjutnya.

Peran kurator, kata Farah, dalam institusi permuseuman konvensional, sejatinya untuk memberi nilai dan secara alamiah memilih objek atau karya yang dianggap penting, sekaligus menjaga kelestarian si benda tersebut. Ini termasuk menilai otentisitas dan menentukan prosedur restorasi. Karya seni yang dipajang ialah produk kebudayaan masyarakat dan museum sendiri berfungsi sebagai tempat preservasi benda bersejarah konvensional.

Akses terhadap karya seni bisa membuat apresiasi publik terhadap seni rupa meningkat. Menurut Asep, seni tidak melulu soal transaksi penjualan dan pembelian. Sebagai karya dan produk kebudayaan, karya seni sudah pasti memiliki nilai-nilai termasuk di dalamnya nilai ekonomi. Namun, yang paling penting, karya seni itu adalah produk pengetahuan, yang dipilih sebagai medium oleh senimannya. “Kita bisa melihat apresiasi seni ini dari publik atau penontonnya, institusi yang memamerkannya, dan lainnya,” tambahnya.

Contohnya, seorang seniman mungkin akan lebih merasa sangat diapresiasi jika karyanya dipamerkan di museum-museum besar, ketimbang dibeli dengan harga tinggi. Orientasi seniman dalam berkesenian juga sangat beragam, yang juga mempengaruhi bagaimana apresiasi ini dilakukan. Banyak juga seniman yang 'tidak menjual karya seni' atau tidak berorientasi pada hal tersebut. "Karena itu ada metode-metode lain yang bisa dipakai untuk melihat tingkat apresiasinya," ujar Asep.

Baca juga artikel terkait LUKISAN atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Fahri Salam
DarkLight