Saat Gerakan Berkebaya Dituduh Agenda Permurtadan Terselubung

Infografik Kebaya
Sejumlah perempuan yang tergabung dalam Gerakan Nasional #SelasaBerkebaya melakukan kampanye berkebaya di Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta, Selasa (25/6/2019). tirto.id/Andrey Gromico.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 13 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pegiat gerakan berkebaya menampiknya sembari menunjukkan fakta: perpaduan jilbab dan kebaya di kalangan perempuan Indonesia itu hal yang biasa.
tirto.id - “AWAS MURTAD!!!” menjadi frasa paling menonjol dalam unggahan Instagram Ustaz Jafar Salih, Rabu (23/7/2019). Ia melanjutkannya dengan dua kalimat peringatan:

Kampanye selasa berkebaya adalah gerakan pemurtadan terselubung. Karena disamping sebagai kampanye menampakkan aurat muslimah, ia juga menghembuskan kebencian terhadap busana Islam yang sesuai syariat.”

Dalam keterangannya Jafar menjelaskan bahwa pesan tersebut didasari oleh rasa sayang terhadap saudara seiman. Kebaya, menurutnya, bertentangan dengan busana muslimah yang telah diatur dalam aturan Islam.

Pegiat gerakan berkebaya, Lea Tanjung, berkata pada Tirto jika dirinya tidak habis pikir dengan tuduhan tersebut. “Ya enggak lah (tertawa kecil). Itu jauh banget, saya juga heran kok bisa arahnya ke situ,” ujarnya melalui sambungan telepon, Minggu (11/8/2019).

Indonesia Berkebaya adalah gerakan yang mengajak perempuan Indonesia agar mengenakan kebaya sebagai busana keseharian, terang Lea. Gagasannya bermula sekitar lima tahun yang lalu, muncul dari kalangan perempuan yang tergabung dalam Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia.

Pendiri komunitas, Rahmi Hidayati, mengatakan gerakan mengandung misi untuk mengembalikan semangat mencintai kebudayaan Indonesia. Caranya dengan memakai kebaya minimal seminggu sekali. Kalau bisa bersama-sama pada Hari Selasa—sesuai kampanye Selasa Berkebaya.

Pemakaian kebaya juga tidak terbatas untuk kegiatan tertentu. “Baik ke kantor, ke pasar, dan berbagai aktivitas lainnya,” kata Rahmi sebagaimana dikutip Antara, Selasa (16/7/2019).


Ada empat tujuan utama Indonesia Berkebaya. Pertama, memperkenalkan budaya sebagai bagian dari sejarah Indonesia yang perlu diketahui oleh generasi muda. Kedua, meningkatkan kreativitas dalam mendesain kebaya tanpa meninggalkan pakem budaya yang merupakan warisan leluhur.

Ketiga, menjadi medium pemersatu bangsa. Keempat, mampu menjalankan fungsi ekonomi, yakni menyejahterakan produsen, konsumen, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam industri kebaya. “Untuk memajukan ekonomi kerakyatan,” kutip Rahmi.

Lea menambahkan dua target jangka panjang. Pertama, memperjuangkan kebaya ke Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia. Kedua, pemerintah menetapkan salah satu tanggal sebagai Hari Kebaya Nasional.

“Jangan sampai keduluan Malaysia, misalnya, Mereka juga makin gencar mempromosikan kebaya sebagai milik mereka.”

Sejak beberapa minggu belakangan kampanye Selasa Berkebaya viral di media sosial. Pada Selasa (25/6/2019), misalnya. Sejumlah perempuan yang mengenakan kebaya dengan beragam warna melakukan kampanye di Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta.

Foto-foto mereka menyebar di berbagai platform media sosial, dan menuai pujian warganet. Aksi tersebut mengundang orang lain untuk melakukan gerakan yang sama dan mengunggah foto di akun masing-masing dengan tagar #SelasaBerkebaya.


Lea tidak sepakat jika gerakan “Indonesia Berkebaya” adalah upaya Jawanisasi atau gerakan yang Jawasentris. Meski lahir dari masyarakat Jawa, sejak 1940-an Presiden Soekarno sudah menetapkan kebaya sebagai busana nasional.

“Hampir semua masyarakat di Indonesia bisa menerima kebaya. Kebaya, katakanlah, punya karakteristik yang meng-Indonesia,” jelasnya.

Lea lebih tidak sepakat dengan tuduhan bahwa gerakan Indonesia Berkebaya mengandung agenda terselubung untuk mempengaruhi keyakinan perempuan muslim di Indonesia. Namun, ia, sekaligus menjadi pesan untuk anggota komunitas lain, tidak mau reaktif terhadap pendapat-pendapat kontroversial.

“Kami berusaha untuk menjalaninya dengan positif saja. Enggak salah, kan? Wong mau melestarikan kembali budaya kita yang sudah ada sejak dulu. Saya bilang ke teman-teman untuk jangan terpancing.”

Jafar Salih mengunggah konten mengenai kebaya setidaknya satu kali lagi pada hari yang sama. Isinya kalimat “Silahkan berbeda, tapi jangan ganggu tradisi kami!!”. Di bawahnya diberi imbuhan penegas: “Gerakan pemurtadan selasa berkebaya”.

Dosen Sosiologi UNY, Grendi Hendrastomo, mengaku bingung saat dimintai pendapat. “Apa yang membuat berkebaya kemudian murtad? Tidak berjilbab kan tidak otomatis membuat seseorang keluar dari Islam sebab keyakinan tidak diwujudkan melalui busana saja?” katanya, Minggu (11/8/2019).


Grendi menerangkan kebaya telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia baik di lingkup nasional maupun lokal. Promosi pemakaiannya pada hari ini ia nilai sebagai upaya melawan stigma bahwa kebaya adalah busana lawas yang hanya dipakai oleh orang tua.



Mengangkat kebaya sebagai tren di kalangan generasi muda, menurutnya, tidak akan lepas dari polemik keagamaan. Pasalnya, ada sebagian orang yang meyakini bahwa produk kebudayaan lokal tidak bisa diselaraskan dengan syariat Islam. Pendeknya: harus memilih salah satu.

“Padahal, secara historis, penyebaran mula-mula Islam di Jawa tidak mempertentangkan keduanya,” kata Grendi, melalui sambungan telepon.

“Bukan purifikasi seperti yang terjadi di Arab. Budaya justru jadi jalan dakwah. Hal ini dilakukan oleh Walisongo, misalnya, sehingga Islam di Indonesia bisa nampak ramah dan relatif sedikit memancing konflik antar warga” lanjutnya.

Ada banyak motif mengapa seseorang mengenakan kebaya, kata pengajar bidang Sosiologi Budaya itu. Beberapa orang menyukai modelnya, ada yang ingin melestarikan budaya, mengikuti tren, yang intinya bukan niatan melanggar ajaran agama.


Grendi maupun Lea kemudian menyodorkan fakta penting: banyak perempuan Indonesia yang mengenakan jilbab sekaligus kebaya. Hal tersebut mereka pandang sebagai akulturasi yang mengkompromikan busana muslim dan busana nasional.

“Tanggapan positif juga banyak, lho. datang dari teman-teman muslimah yang berhijab. Pernah juga saya lihat ajakan untuk bikin gerakan berkebaya bagi perempuan yang berhijab. Menurut saya kombinasi kebaya dan jilbab jadinya bagus banget,” tutur Lea.

Lea menambahkan keanggotaan Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia tidak berdasarkan pemakaian jilbab atau tidak. Komunitas membuka kesempatan untuk semua kalangan, dari berbagai latar belakang suku atau agama, asal cinta kebaya dan setuju dengan perjuangan organisasi.

“Belakangan muncul gerakan kembali ke pakaian daerah masing-masing. Kami senang. Kalau ada yang ingin kembali melestarikan baju kurung, silakan. Malah kita bergandengan tangan. Yang laki-laki ada yang menyerukan gerakan memakai sarung, kami juga senang.”

Grendi menambahkan polemik kebaya dan pemurtadan bisa hadir karena mengakarnya eksklusivitas dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap ini, baginya, membuat orang minimal tidak mau mendengarkan yang liyan, lalu muncul dikotomi kelompok luar dan kelompok dalam (insider dan outsider).

“Akhirnya, mereka yang berbeda pandangan, sekecil apapun itu, akan dipandang sebagai orang luar. Ruang dialog perlu dibuka lebih lebar. Eksklusivitas kan selalu jadi ancaman, dan akan membesar jika dipolitisasi,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KEBAYA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Hobi)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight