Saat Ekonomi Cina "Batuk", Indonesia Ikut Terantuk

Oleh: Dea Chadiza Syafina - 23 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Cina jadi negara yang banyak dibicarakan, pengaruhnya terhadap ekonomi Asia juga cukup signifikan termasuk Indonesia.
tirto.id - Jika karyawan perusahaan biasanya sebal dengan jam kerja lembur, tidak demikian dengan Ye Minghua. Perempuan 25 tahun ini justru menggantungkan hidup dari tambahan upah jam lembur. Sayang, penurunan pesanan dan pengurangan jam kerja di pabrik Kam Pin Industrial Ltd di Dongguan provinsi Guangdong, Cina bagian selatan, memaksa Ye Minghua hanya mengandalkan gaji pokoknya yang kecil untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari.

“Tanpa lembur, kami tidak memiliki gaji yang tersisa jika harus dikurangi oleh pembayaran jaminan sosial dan biaya makan. Yang kami pedulikan hanyalah uang tunai nyata yang bisa kami lihat, bukan uang jaminan hari tua nanti,” kata Minghua melansir Asahi Shimbun.

Kam Pin Industrial Ltd., pabrik pelapis logam di kota manufaktur Dongguan Provinsi Guangdong, Cina, telah meliburkan seperlima dari 200 pekerjanya. Sementara, beberapa jalur produksi juga telah ditangguhkan. King Lau, asisten Direktur Pelaksana di Kam Pin bilang, pesanan baru diperkirakan turun 30 persen, jika Amerika Serikat (AS) secara penuh menaikkan tarif bea masuk impor menjadi 25 persen pada Maret 2019 mendatang.

Melemahnya manufaktur pabrik Kam Pin Industrial Ltd menjadi potret kecil soal gambaran turunnya kinerja ekspor Cina. Melansir data Administrasi Umum Kepabeanan Pemerintah Cina, total ekspor pada Desember 2018 melemah menjadi hanya $221,25 miliar. Angka itu turun 1,4 persen dibanding November 2018 dan terpangkas 4,4 persen dibanding Desember 2017.

Turunnya ekspor Cina dibarengi lemahnya impor, menjadi hanya $164,19 miliar pada Desember 2018. Angka itu turun 10 persen dibanding November 2018 dan terpangkas 7,6 persen dibanding periode tahunan Desember 2017. Penurunan impor Desember 2018 menjadi yang terburuk sejak Juli 2016. Penurunan impor merupakan pertanda buruk bagi prospek ekonomi Cina, yang mengindikasikan melemahnya permintaan domestik negara pimpinan Presiden Xi Jinping itu.

“Perlambatan impor konsisten dengan data-data lain bahwa pertumbuhan ekonomi domestik Cina terus melemah,” jelas Louis Kuijs, Kepala Ekonomi Asia di Oxford Economics melansir Financial Times.


Penurunan praktik perdagangan internasional Cina ini memberikan indikasi awal atas dampak penuh praktik perang dagang AS-Cina yang terjadi sejak medio 2018. Kinerja manufaktur yang selama ini jadi mesin ekonomi juga membuat pontang-pantingya ekonomi Cina.

Bank Dunia dalam Global Economic Prospects Januari 2019 berjudul Darkening Skies memperkirakan pertumbuhan ekonomi Cina pada 2019 akan turun 0,1 basis poin. Ini akibat kekhawatiran lebih lanjut atas pelemahan ekspor negeri Tirai Bambu tahun ini.

“Pertumbuhan ekonomi Cina diproyeksikan melambat menjadi 6,2 persen tahun ini, sedikit di bawah proyeksi sebelumnya akibat ekspor yang lemah,” tulis World Bank dalam laporan tersebut.


Infografik Relasi Segitiga Asean Cina AS
Infografik Relasi Segitiga Asean Cina AS


Cina Batuk, Indonesia Terantuk

Di AS ada idiom ‘What Happens in Vegas, Stays in Vegas’. Namun, di Cina idiom ihwal lokalisir masalah ini nampaknya bakal tak berlaku. Secara historis bila terjadi sesuatu pada ekonomi Cina maka berpotensi merembet ke negara lain, terutama mitra dagang terutama di Asia.

Negara berkembang menderita akibat pelemahan ekonomi Cina sepanjang 2018. Banyak analis memperkirakan pelemahan ekonomi Cina masih akan terjadi pada 2019. Malaysia, Myanmar, Taiwan, dan Thailand misalnya, juga menunjukkan pelemahan produksi industri manufaktur selama kuartal IV-2018.

“Ruang optimisme sangat sedikit tersedia di tahun ini. Ekonomi AS juga mulai menunjukkan perlambatan. Zona Uni Eropa berjalan di tempat dan Asia mengalami banyak ketidakpastian terkait global,” ucap Jayant Menon, Kepala Ekonom di Asian Development Bank mengutip South China Morning Post (SCMP).

Khusus Indonesia misalnya, telah menderita penurunan ekspor non migas pada Desember 2018 sebesar 17,95 persen dibanding November 2018. Devisa yang didapat Indonesia dari hasil ekspor non migas ke Cina hanya sebesar $1,67 miliar, jauh di bawah ekspor per November 2018 yang mencapai $2,03 miliar.

"Ekspor non migas Desember 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu 1,67 miliar dolar AS, disusul Amerika Serikat 1,48 miliar dolar AS, dan Jepang 1,16 miliar dolar AS,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto.

Data BPS (PDF) menyebut, rata-rata harga agregat barang ekspor Indonesia secara total pada Desember 2018 juga mengalami penurunan sebesar 6,94 persen dibanding November 2018. Ini dipengaruhi oleh penurunan harga rata-rata ekspor non migas sebesar 8,41 persen dan migas sebesar 7,67 persen. Penurunan dikarenakan harga ekspor hasil minyak dan minyak mentah turun masing-masing sebesar 17,61 persen dan 19,72 persen.

Penurunan harga komoditas ekspor terutama didorong oleh penurunan harga batu bara dan logam. Ini karena, Cina meningkatkan kapasitas produksi batu bara dalam negeri daripada impor, serta menerapkan kebijakan pengendalian penggunaan batu bara secara bertahap.

“Penurunan harga komoditas ekspor Indonesia ini diperkirakan masih berlanjut di tahun 2019,” tulis Bank Indonesia dalam Tinjauan Kebijakan Moneter edisi Januari 2019.

Indonesia pernah mengalami kondisi serupa pada 2014. Pada tahun itu ekonomi Indonesia hanya tumbuh di bawah 5 persen, karena juga faktor ekonomi global.

Saat itu, harga batu bara di pasar internasional anjlok sebesar 24,21 persen, lantaran Cina mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sebagai negara pengguna batu bara terbesar di dunia, goyahnya ekonomi negeri Panda memengaruhi penurunan permintaan global, sehingga harga emas hitam ini meredup. Selain itu, Cina juga mulai beralih dari penggunaan batu bara ke energi yang lebih ramah lingkungan, untuk mengantisipasi pencemaran lingkungan.

Ada catatan dari apa yang terjadi di Cina, mau tak mau berdampak pada ekonomi Indonesia. Sektor komoditas seharusnya tak lagi jadi andalan ekspor, selain tak bernilai tambah tinggi juga rawan gejolak harga.

Penelitian Mona Haddad dan Ben Shepherd yang tertuang dalam laporan World Bank berjudul Managing Openness Trade and Outward-Oriented Growth After the Crisis (PDF) menunjukkan perbandingan harga produk manufaktur tidak jatuh sedalam harga komoditas saat terjadi krisis, meski terjadi penurunan permintaan. Ini seperti yang terjadi pada krisis 1997-1998, di mana harga komoditas terjun payung dengan penurunan paling parah terjadi pada minyak mentah.

Baca juga artikel terkait CINA atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra