Saat Bali United 'Sukses' Bikin Persija Tiga Kali Lepas Pelatih

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 21 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejak Januari 2019 lalu, Persija sudah kehilangan tiga pelatih. Satu hengkang ke Bali United, dua lainnya pergi setelah kalah dari klub yang sama.
tirto.id - Pertandingan ke-17 Persija dalam lanjutan Shopee Liga 1, Kamis (19/9/2019), berujung tragis. Tampil di hadapan puluhan ribu pendukungnya yang memadati Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Macan Kemayoran kalah tipis 0-1 dari tim tamu Bali United.

Kiper Persija Andritany Ardhiyasa gagal mencegah striker Bali United Melvin Platje untuk mencetak gol ke-13-nya di ajang Liga 1 musim ini.

“Sebenarnya kami sudah berjuang luar biasa di pertandingan tadi,” sesal Andritany setelah pertandingan.

Kekalahan itu tidak hanya jadi pukulan telak bagi Andritany dan para pemain lain, tapi juga pelatih mereka, Julio Bañuelos. Tepat setelah laga usai, Persija memecat Bañuelos beserta asistennya, Eduardo Perez.

“Baru saja kami berkonsultasi dan berkomunikasi dengan keduanya dan hasilnya kurang baik, dan juga sudah diberikan kesempatan dua kali. Mau tidak mau, kami ambil keputusan tersebut,” ungkap CEO Macan Kemayoran, Ferry Paulus.

Sinyal pemecatan Bañuelos sebenarnya sudah terdeteksi sejak beberapa pekan terakhir. Dalam 17 laga sebelum bersua Bali United, di bawah asuhan Bañuelos, Persija cuma menang lima kali, imbang delapan, dan sisanya kalah.

Catatan minor itu bikin Macan Kemayoran seolah kehilangan taring. Marko Šimić dan kolega terbenam di peringkat ke-15 klasemen sementara Shopee Liga 1 2019 dengan koleksi 17 poin.


Dari Teco Sampai Kolev


Ini adalah kali ketiga Persija berpisah dengan pelatih dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir. Dan, antara menarik atau menyedihkan, semuanya terkait dengan Bali United.

Stefano Cugurra Teco, yang pada musim lalu sukses mengantarkan Persija menjuarai Liga 1, hengkang dengan dalih mencari pengalaman baru. Dan pengalaman baru yang ia maksud ternyata ada di Bali.

“Tugas saya di sana [Persija] sudah selesai, jadi saya cari tempat baru. Bali United kemudian kontak saya, saya pikir tim ini bagus,” kata Teco saat diperkenalkan Bali United Januari lalu.

Persija lantas mendatangkan Ivan Kolev,pelatih yang tidak asing bagi publik Indonesia karena pernah melatih timnas.

Kolev sempat diterpa isu miring. Ada kabar kalau dia dilimpahi jabatan itu oleh Bakrie—pemilik saham Persija—supaya eks pelatih Sriwijaya FC itu tidak melaporkan penunggakan gaji yang dia alami selama melatih Timnas Indonesia.

Isu ini dibantah oleh Ferry Paulus. Ferry berkata Kolev ditunjuk murni karena kapasitasnya.

Walau demikian, nyatanya di bawah asuhan Kolev secara bertahap Persija mengalami penurunan performa.

Kolev memulai semuanya dengan meyakinkan. Di laga perdana, pada 32 besar Piala Indonesia 2019, dia sukses mengantarkan Persija menang telak 8-2 atas Kepri Jaya.


Namun setelahnya, skema 4-2-3-1 racikan pria kelahiran Bulgaria itu semakin mudah dibaca. Memimpin Macan Kemayoran dalam 21 laga di semua kompetisi, Kolev cuma bisa menang delapan kali, lima kali imbang, dan delapan kali menderita kekalahan.

Lagi-lagi Bali United yang jadi penentu nasib sang pelatih. Kolev mengundurkan diri pada 3 Juni 2019, tepat setelah Persija kalah 1-0 dari Bali United dalam pertandingan Liga 1 yang dihelat di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.

Tumbal dari Ritme Padat Liga 1


Kolev maupun Bañuelos sebetulnya cuma bagian kecil dari daftar panjang pelatih yang berguguran sepanjang 18 pekan awal perhelatan Liga 1 2019. Jika dihitung dari semua tim, sudah ada 11 pelatih yang terdepak atau mengundurkan diri.

Sembilan lainnya adalah Jacksen F Tiago (Barito), Aji Santoso (Persela), Luciano Leandro (Persipura), Syafrianto Rusli (Semen Padang), Jan Saragih (Badak Lampung), Jafri Sastra (PSIS), Djadjang Nurdjaman (Persebaya), Alfredo Vera (Bhayangkara), dan Dejan Antonić (Madura United).

Tiap klub dan pelatih tentu punya cara berbeda untuk mengungkapkan alasan perpisahan dengan tim masing-masing. Tapi hampir semua selalu mengeluhkan hal sama sebelum dipecat: jadwal yang padat.

“Ini jadwal sangat berat. Setiap tiga hari sekali kami harus menjalani pertandingan,” keluh Dejan Antonić 29 Juni 2016 lalu, tak sampai sebulan sebelum dia mundur dari Madura United.

Pelatih-pelatih yang masih bisa bertahan pun tidak menampik sulitnya menyesuaikan diri dengan ritme tak masuk akal Liga 1.

Pelatih Tira-Persikabo, Rahmad Darmawan, mengaku mulai jarang memikirkan taktik karena jadwal sangat padat. Prioritas RD lebih ke recovery nyaris tiap jeda pertandingan. Berinovasi dengan pendekatan baru, menurutnya, hampir mustahil.


RD menjelaskan: “recovery menjadi hal yang lebih penting ketimbang persiapan. Karena semakin kami berusaha menjelaskan kepada pemain apa yang harus dilakukan, mungkin justru semakin berat tugas mereka,” kata RD.

“Tapi kami tidak bisa menyerah dengan situasi ini, mau bagaimana lagi. Semua tim pasti mengalami ini,” ucap dia.

Tak cuma klub, Timnas Indonesia pun kerap mengeluhkan cara operator liga menyusun jadwal. Akibat menurunnya kebugaran para pemain Indonesia yang bermain di kompetisi domestik, pelatih timnas Simon McMenemy sampai tak berani mengadakan latih tanding di luar negeri.

“Jika katakanlah kami menghadapi tim besar atau bertandang ke negara lain, terlalu riskan. Karena jadwal kompetisi lokal [sampai satu pekan sebelum Indonesia tampil] begitu padat. Saya memposisikan yang utama. Prioritasnya adalah kondisi pemain. Bagaimana tim kami harus fit", kata Simon, Rabu (4/9/2019) lalu.

Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) sebenarnya sempat mengevaluasi cara LIB menyusun jadwal. Namun output dari evaluasi itu cuma sebatas teguran. Hingga kini tak ada langkah konkret untuk membikin jadwal liga lebih manusiawi.

Baca juga artikel terkait LIGA 1 2019 atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Rio Apinino
DarkLight