29 Juni 2005

Ruslan Abdulgani: Berjaya di Era Sukarno, Bertahan di Masa Soeharto

Oleh: Petrik Matanasi - 29 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ruslan Abdulgani adalah tetangga jauh Sukarno yang ikut pergerakan dan masuk pemerintahan. Di zaman Soeharto dia jadi tokoh penting indoktrinasi Pancasila.
tirto.id - Nama Ruslan Abdulgani disebut dalam arsip rahasia Kedutaaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Dalam dokumen 5 disebutkan Ruslan Abdulgani, anggota Partai Nasional Indonesia, yang disebut Adam Malik sebagai "bekas propagandis pengikut Sukarno", telah ditunjuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Disebutkan dalam arsip tersebut, Ruslan dan dan asistennya, Raden Mas Sutarto, adalah bagian dari kelompok anti-komunis.


Pada 1965 Ruslan Abdulgani adalah Menteri Penerangan RI. Di masa transisi Sukarno ke Soeharto dia pernah jadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam). Kala itu bekas tetangga jauhnya, Sukarno, sudah di pengujung kekuasaan. Pada akhir era Sukarno nasib Ruslan di pemerintahan makin suram. Dia pun kemudian sempat di-dutabesar-kan ke PBB dan jabatan strategis di dalam negeri tak dalam genggamannya.

Jubir Usman, lalu Agen Pancasila

Ketika Ruslan menjabat Menteri Penerangan dari 1962 hingga 1965, mau tidak mau dia mesti membumikan apa yang disebut Manifesto politik/Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia—biasa disingkat Manipol/Usdek. Hingga dirinya dikenal sebagai 'Jubir Usman' (Juru Bicara urusan Manifesto Politik).

Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik, 1961-1965 (2006: 198) mencatat dalam ceramah di Seskoad pada 4 Desember 1962 soal pemberontakan yang pecah sejak 1950-an, Ruslan menyebut: “runtuhya kekuatan kaum pemberontak di Indonesia disebabkan karena konsepsi politik mereka tidak tahan terhadap konsepsi Manipol/Usdek kita.”

Di masa Soeharto, Ruslan yang jago menulis dan berpikir—berkat sekolahnya yang lumayan tinggi di zaman kolonial—tidak disia-siakan Orde Baru. Tapi bukan untuk melanjutkan Manipol/Usdek yang sudah sangat ketinggalan zaman.

Soeharto sangat butuh Pancasila. Seperti dicatat Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983 (2003: 15), pada sabtu 29 April 1978, Soeharto menerima Ruslan Abdulgani, Djatikusumo, Harsono Tjokroaminoto, dr. Satrio, Maskun Sumadiredja, dan dr. Soedjono di Bina Graha.

Dua jam pertemuan itu dihabiskan untuk membicarakan pembentukan Team Penasihat Presiden tentang Pelaksanaan P4 (Team P7) dan Tap. MPR No. II/1978 mengenai P4. Mereka yang hadir itu dijadikan anggota Team P7 dan Ruslan Abdulgani ditunjuk sebagai ketuanya. Maka sejak 1978 Ruslan resmi menjabat Ketua Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7).

Sebelum dan sesudahnya, Ruslan menuliskan beberapa pemikirannya soal Pancasila. Mulai dari Pengembangan Pancasila di Indonesia, Pemikiran Pembudayaan Ideologi Pancasila (1976), Pancasila sebagai Metode (1986), Proses Pengembangan Pancasila (1993), hingga Pancasila: Perjalanan Sebuah Ideologi (1998). Di zaman Manipol/Usdek berjaya, Ruslan pernah menulis Pendjelasan Manipol dan Usdek (1961). Terkait pembangunan ideologi warga negara, baik di zaman Sukarno maupun Soeharto, Ruslan punya andil sebagai corongnya.

Usaha membumikan Pancasila itu kemudian dilakukan di berbagai lini, terutama lini pendidikan. Penataran P4 adalah hal yang lazim di zaman Soeharto. Di kantor-kantor dan di sekolah P4 merupakan makanan wajib. Semua orang harus punya pikiran, ucapan, dan tindakan sesuai Pancasila. Terkait P4, Ruslan ingin selalu ada penyegaran dari sisi isi dan cara.

“Untuk mencapai soal-soal itu kini diperlukan adanya demiliterisasi, deideologisasi dan dengan demikian berarti pula demokratisasi. Saya kira ini memang langkah penting untuk kita lihat dalam kerangka Pancasila,” sambung Ruslan seperti dikutip Antara (14/11/1989) dalam buku Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita Buku XI (1989: 351-353).

Ide demiliterisasi—dengan memangkas hal berbau tentara—tampaknya agak sulit diwujudkan karena Orde Baru adalah rezim yang dibekingi tentara. Menghilangkan militerisme berarti memperlemah kekuasaan Soeharto.

Dulunya Tetangga Jauh Sukarno

Haji Abdulgani tidak hanya dikenal sebagai pedagang tajir, dengan tujuh mobil Fiat untuk taksi, tapi juga anggota Sarekat Islam. Orang-orang Peneleh, Pandean, dan Plampitan mengenalnya. Sukarno sering belanja, bahkan berutang ke warungnya.

Istri pertamanya tinggal di Plampitan Gang II. Sementara istri keduanya, Siti Moerad, yang tinggal di Jalan Plampitan Gang V Nomor 15 (kini Plampitan VIII Nomor 34) Kelurahan Peneleh, tak lain adalah ibu dari Ruslan Abdulgani. Di rumah Siti Moerad itulah Ruslan lahir pada 24 November 1914.

Di sebelah rumah itu tinggal seorang penjahit terkenal yang di antara langganannya adalah orang-orang Belanda. Penjahit yang anggota Parindra ini kini sudah jadi nama jalan yang melintasi Plampitan dan sebagian tepi Kali Mas, Jalan Ahmad Jaiz. Ahmad Jaiz tentu bukan satu-satunya tetangga Ruslan yang terlibat pergerakan nasional. Selain Sukarno, orang macam Tjokroaminto atau Djohan Sjahroezah pernah tinggal di sekitar Peneleh.



Infografik Mozaik Roeslan Abdulgani
Infografik Mozaik Roeslan Abdulgani. tirto.id/Nauval


Ruslan juga ikut pergerakan nasional. Sebagai orang berpendidikan, dia tentu dipandang. Waktu muda di zamah kolonial, dia salah satu pemimpin Indonesia Moeda (IM). Di zaman Jepang dia jadi pimpinan Angkatan Muda Indonesia (AMI). Menurut Suhario Padmodiwirio dalam Memoar Hario Kecik (1995: 84), AMI kemudian dilebur ke Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang dipimpin Soemarsono setelah Ruslan berdebat dengan pemuda lain soal pengambilalihan kekuasaan.

Pada awal 1945 Ruslan bertugas di Biro Kontak, yang menjadi perantara antara pemerintah Indonesia dengan tentara Sekutu. Ruslan terlibat mewakili Indonesia untuk berdiplomasi dengan tentara Inggris dalam kemelut menjelang Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.


Setelah pertempuran Surabaya, Ruslan Abdulgani bekerja di Kementerian Penerangan. Dia sudah jadi Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan dari 1947 hingga 1949. Kariernya sebagai orang terpelajar—yang kala itu jumlahnya tidak banyak—menanjak dengan baik. Tak hanya di Departemen Penerangan, di Departemen Luar Negeri pun dia pernah.

“Bulan Maret 1954 secara mendadak saya ditunjuk sebagai sekretaris jenderal kementerian luar negeri,” aku Ruslan dalam Roeslan Abdulgani, Tokoh Segala Zaman (2002: 52). “Saya bahkan ditunjuk pula sebagai sekretaris jenderal konferensi Asia-Afrika yang akan diselenggarakan pada tahun 1955 di Bandung.”

Ruslan kemudian jadi Menteri Luar Negeri pada 1956-1957. Setelah Muhammad Yamin meninggal dunia, dia ditunjuk menggantikannya sebagai Menteri Penerangan.

Ruslan Abdulgani meninggal pada 29 Juni 2005, tepat hari ini 14 tahun lalu.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan