9 November 1989

Runtuhnya Tembok Berlin: Sejarah dan Memori Para Eks Jerman Timur

Oleh: Tika Ramadhini - 9 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Orang-orang eks Jerman Timur kini mengenang runtuhnya Tembok Berlin dengan perasaan campur aduk.
tirto.id - Sabtu, 2 November 2019 adalah hari bersejarah bagi warga Berlin. Untuk pertama kalinya sejak reunifikasi Jerman, Berlin menyaksikan Berlin-Derby antara Hertha BSC dari Westend (Berlin Barat) dengan FC Union Berlin yang berkandang di Köpenick (Berlin Timur) pada liga kelas satu Bundesliga. Pertandingan ini mengingatkan banyak orang pada laga persahabatan pertama antara kedua tim pada 1990 di Olympiastadion, dua bulan sejak tembok Berlin runtuh.

November memang punya tempat spesial di hati warga Berlin, ibu kota yang kini ditinggali hampir empat juta penduduk yang setengahnya merupakan pendatang. Tembok Berlin yang memisahkan bagian barat dan timur kota secara resmi diruntuhkan pada November 1989.

Tahun ini ada puluhan perayaan di berbagai penjuru Berlin untuk memperingati 30 tahun runtuhnya tembok kota; mulai dari pameran, seremoni, aksi damai di depan Brandenburger Tor, sampai pesta di kelab-kelab malam yang tidak pernah sepi. Saya mewawancarai empat orang warga eks Berlin Timur yang bersedia duduk bersama, bernostalgia, dan berbagi pengalaman mereka.

Seperti apa Berlin ketika temboknya baru saja runtuh?


Pidato Schabowski: "DDR öffnet Grenze!"

Tembok yang membentang sejauh lebih dari 140 km dengan tinggi 3,6 m itu, yang memisahkan Berlin selama hampir tiga dekade itu, tidak berarti apa-apa setelah pidato bersejarah Günter Schabowski.

Pada 9 November 1989, tepat hari ini 30 tahun lalu, Schabowski, juru bicara Politbiro Republik Jerman Timur dari Sozialistische Einheitspartei Deutschlands (SED), menyampaikan pidato untuk mengklarifikasi hasil perundingan terkait peraturan perjalanan dan emigrasi di Jerman Timur. Para wartawan telah berkumpul sejak pukul 6 sore. Dan mereka semua menanti.

Sedari Oktober situasi di Jerman Timur memanas. Puluhan ribu orang turun ke jalan menuntut reformasi dan membawa slogan Wir sind Ein Volk! di Leipzig pada 9 Oktober 1989. Demonstrasi ini kemudian disusul oleh Revolusi Alexanderplatz pada 4 November 1989 di Berlin. Revolusi Alexanderplatz merupakan demonstrasi terbesar—hampir satu juta demonstran—yang pernah digagas masyarakat sipil Jerman Timur.

Situasi di perbatasan Jerman Timur juga tegang karena banyak pengungsi yang ingin pergi ke Jerman Barat melalui Cekoslowakia. Karena itu Jerman Timur perlu mengubah peraturan untuk mengontrol arus lalu-lalang manusia yang sulit terdeteksi oleh pemerintah.

Dalam konferensi pers 9 November, Schabowski menyatakan Republik Jerman Timur membolehkan warga negaranya untuk pergi dan masuk ke Jerman Timur melalui pos-pos tertentu, termasuk antara Berlin Timur dan Berlin Barat. Persyaratan dan pengecekan tidak diperlukan lagi. Orang yang bepergian tidak akan kehilangan kewarganegaraan Jerman Timurnya ketika menyeberang ke Jerman Barat dan ingin kembali lagi.

Lucunya, Schabowski sempat salah bicara ketika ditanya seorang jurnalis tentang mulai berlakunya peraturan itu. Alih-alih berkata besok pagi, seperti yang tertulis di nota hasil rapat, Schabowski malah bilang "sofort" yang berarti "langsung". Kurang dari satu jam, kabar "DDR öffnet Grenze" (Jerman Timur membuka perbatasan) disebarkan stasiun radio ARD dan Associated Press. Reaksi dari pernyataan yang agak keliru ini menjadi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah dunia.


Pada malam itu juga jutaan orang berjalan kaki menuju gerbang-gerbang yang membatasi Berlin Barat dan Berlin Timur. Para aparat Stasi, polisi politik Jerman Timur, yang berjaga di pos-pos perbatasan sempat menolak membuka gerbang dengan alasan belum ada perintah resmi dari atasan. Terjadi banyak cekcok mulut, namun pada akhirnya warga Berlin lah yang menang.

Menurut BR, 60 tahun, kebanyakan orang dari Berlin Timur hanya ingin melihat rupa Berlin Barat setelah 28 tahun dibatasi tembok. Ia masih ingat betapa tercengang dirinya ketika mendengar kabar siaran konferensi pers 9 November tersebut. Ia tidak percaya bahwa gerbang antara Berlin Timur dan Berlin Barat akan dibuka.

Esok paginya, 10 November 1989, ia berjalan dari Potsdam menuju Brücke der Einheit (jembatan Einheit) yang menghubungkan Potsdam dengan Berlin. Ribuan orang berusaha membuka paksa gerbang jembatan ini. Gerbang itu akhirnya terbuka dan orang-orang saling berpelukan penuh suka cita. "Seperti sebuah pesta besar," ujarnya.



Infografik Mozaik Sejarah Tembok Berlin
Infografik Mozaik Sejarah Tembok Berlin. tirto.id/Nauval

Berlin yang Warna-Warni & Tak Melulu Abu-Abu

Ketika ditanya perihal impresi pertama saat menginjakkan kaki di Berlin Barat, AR, 55 tahun, mengaku bahwa ia terkesima dengan warna-warni yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Bangunan di Berlin Timur semuanya abu-abu, di sini warna warni. Mobil juga banyak macamnya dan warna warni juga," ucapnya.

Warna-warna itu kemudian seperti menular ke arah timur. Menurut SF, 37 tahun, toko-toko di Berlin Timur menjadi ikut-ikutan berwarna. Pusat perbelanjaan di Berlin Timur juga turut dipenuhi produk dalam berbagai merek dan warna, bukan hanya laci kosong. "Untuk pertama kalinya saya lihat telepon dan cokelat. Saya belum pernah makan cokelat sebelumnya," kenangnya.

Sementara HZ, 74 tahun, mengingat bukan hanya warna, tapi juga aroma. "Ada bau yang amat nostalgis untuk saya… Bingung juga bagaimana harus menjelaskannya, tapi seperti aroma manis; aroma buah."

Untuk pertama kalinya pula, banyak produk segar masuk ke Berlin Timur dari Jerman Barat. Warga Berlin Timur berebut berbelanja setelah mendapat uang hadiah dari Berlin Barat. Setiap orang yang pergi ke Berlin Barat diberi hadiah senilai 100 deutsche mark. "Saya sempat kaget betul dan tidak percaya. Di Berlin Timur uang 100 deutsche mark bisa dipakai untuk beli banyak barang. Saya beli kopi, gorden, dan pot tanaman," ujar HZ.


Sejak konferensi pers 9 November, arus perpindahan manusia bertambah deras. Di hari pertama saja, tercatat hampir 800.000 orang dari Berlin Timur pergi ke Berlin Barat. Orang-orang bahkan mulai berani meruntuhkan tembok dengan membawa martil dan godam.

Banyak pula yang buru-buru pindah karena takut periode itu hanya sementara: gerbang akan ditutup dan tidak ada lagi kebebasan bergerak. Karena itu, selagi ada kesempatan, banyak keluarga maupun lajang yang berbondong-bondong pindah ke Berlin Barat. "Banyak orang berhenti bekerja di Berlin Timur karena ingin bekerja di Berlin Barat. Mereka langsung bolos kerja dan pindah saja," ujar AR.

Bagi orang-orang eks Berlin Timur itu, memori tentang tembok Berlin 30 tahun lalu dipenuhi rasa bahagia, tapi juga ketidakpastian. Mau kemana Berlin setelah ini?

"Meskipun damai, periode ini merupakan periode yang membingungkan dan tidak pasti," tutur HZ sambil tersenyum.

==========

Tika Ramadhini adalah peneliti pada Leibniz-Zentrum Moderner Orient, Berlin dan kandidat doktor sejarah di Humboldt Universität. Saat ini sedang menulis disertasi tentang kehidupan para perempuan Jawa di Makkah awal abad ke-20. Ia lahir di Jakarta, 23 Maret 1992.

Baca juga artikel terkait SEJARAH EROPA atau tulisan menarik lainnya Tika Ramadhini
(tirto.id - )

Penulis: Tika Ramadhini
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight