Menuju konten utama

Runtuhnya Kejayaan Baja Inggris

Inggris sedang dilanda krisis industri baja. Kejayaan industri baja mereka terancam berakhir. Tingginya biaya produksi dan banjirnya baja impor asal Cina, jadi badai yang sempurna menghantam industri vital mereka. Lesunya industri baja ini juga berdampak pada sektor tenaga kerja. Di masa kejayaannya, industri baja Inggris mampu menaungi pekerja hingga ratusan ribu orang pekerja.

Runtuhnya Kejayaan Baja Inggris
Pekerja industri baja di Cina. shutterstock

tirto.id - Pertandingan Manchester United melawan Middlesbrough baru berjalan 10 menit, secara mengejutkan ribuan cahaya lampu dari ponsel para penonton bertebaran di seluruh stadion. Spanduk bertuliskan “Save Our Steel” muncul di Stadion Old Trafford, Inggris.

Aksi unik para fans The Boro, julukan Middlesbrough ini merupakan bentuk solidaritas terhadap nasib ribuan pekerja industri baja Sahaviriya Steel Industries (SSI) yang kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Peristiwa ini terjadi pada 28 Oktober 2015, saat krisis industri baja Inggris semakin dalam.

Badai yang menghantam industri baja Inggris kali ini cukup dahsyat. Media The Financial Times bahkan menyebutnya dengan istilah “perfect storm”. Badai ini terjadi karena akumulasi beragam faktor mulai dari mahalnya tarif listrik, hingga desakan baja dari Cina. Kondisi ini diperparah oleh kelesuan ekonomi yang menyebabkan permintaan baja menurun drastis.

Serbuan dari Cina

Harga baja dunia sudah mengalami kejatuhan sejak 2008. Bloomberg melaporkan penurunan harga baja akan berlanjut hingga 2016. Rata-rata harga baja (HRC) Cina diperkirakan hanya 267,5 dolar per ton, atau turun 13 persen dibandingkan harga tahun lalu sebesar 309 dolar per ton.

Salah satu faktor yang dianggap menyebabkan turunnya harga baja adalah gelontoran produksi Cina. Negeri Tirai Bambu tersebut sejak 2000 mulai menggencarkan produksi bajanya. Pada waktu itu, kontribusi produksi baja Cina terhadap global hanya 15 persen. Namun, angkanya melonjak tajam menjadi 50 persen di 2014.

Dengan kontribusi dari Cina yang cukup besar, produksi baja global naik nyaris 100 persen selama kurun waktu 2000-2014. World Steel Association mencatat produksi baja dunia mencapai 1,6 miliar ton di 2014.

Cina mulai merangsek ke pasar baja dunia setelah mengalami surplus produksi. Sejak 2009, terdapat kenaikan ekspor baja Cina hingga 300 persen. Sementara impor baja asal Cina ke Uni Eropa mengalami lonjakan hingga 50 persen.

Banjir baja dari Cina tentu saja membuat negara-negara produsen lainnya cemas. Apalagi, Cina diduga melakukan dumping. Itulah sebabnya produk baja buatan lokal semakin terdesak.

"Uni Eropa harus bertindak keras terhadap ketidakadilan produk baja impor," seru Chief Executive of Tata Steel European Operations Karl Koehler dikutip dari BBC.

Runtuhnya Baja Inggris

Inggris merupakan produsen baja terbesar ke-18 dunia. Berdasarkan data World Steel Association, produksi baja Inggris pada 2014 mencapai 12,1 juta ton. Namun, kejatuhan industri baja Inggris ini patut dicermati.

Industri baja sempat memberikan kontribusi besar pada perekonomian Inggris. Sayangnya, kontribusi tersebut semakin surut seiring krisis yang mendera industri. Kontribusi industri baja terhadap perekonomian Inggris turun dari 0,5 persen di 1990, menjadi hanya 0,1 persen di 2014.

Lesunya industri baja ini juga berdampak pada sektor tenaga kerja. Di masa kejayaannya, industri baja Inggris mampu menaungi pekerja hingga ratusan ribu orang pekerja. The Telegraph menyebut, pada 1971 tercatat ada 320.000 orang yang bekerja di sektor ini. Dalam 7 tahun, angkanya turun jadi 271.000 orang. Berselang 20 tahun, pada 1991 jumlahnya menyusut hanya 44.000 orang. Hingga dua tahun lalu masih ada 18.000 pekerja yang mengantungkan hidupnya di sektor industri baja Inggris.

Penyumbang terbesar adalah Tata Steel. Tata memiliki lokasi pabrik baja terbesar termasuk di Inggris yang berada di Port Talbot yang menaungi pekerja 4.104 orang. Namun, angka itu bakal menurun drastis karena Tata mengumumkan mem-PHK 1.050 pekerja pada Januari 2016. Sebanyak 750 pekerja dari pabrik Port Talbot terkena dampaknya. Pabrik Tata di Port Talbot harus menanggung kerugian 1 juta poundsterling setiap hari.

"Saya tahu ini merupakan berita yang tak menyenangkan bagi mereka yang kena dampak, tapi ini keputusan yang sangat penting dalam menghadapi kondisi pasar yang sulit, yang mana diperkirakan akan terus berlanjut di masa depan," kata Karl Koehler.

Tata berniat menjual bisnisnya di Inggris setelah melihat perkembangan harga baja dunia yang terus turun, ditambah ada faktor domestik. Keputusan Tata ini tentunya sudah diputuskan masak-masak. Padahal pabrik baja Tata di Inggris menyumbang 26 persen dari total pendapatan mereka secara global di 2011/2012. Kontribusi pendapatan dari pabrik-pabrik di Inggris turun jadi 24 persen berselang hanya setahun.

Kontribusi Inggris bagi Tata nyaris menyamai sumbangan pabrik mereka di negara-negara Eropa lain sebesar 28 persen. Namun, penurunan produksi baja Tata di Eropa sudah terlihat sejak 2013, pada waktu itu produksi baja Tata hanya 13,3 juta ton atau turun dari tahun sebelumnya yang hanya 14,2 juta ton. Produksi baja di Inggris juga turun cukup dalam, pada 2015 ada penurunan produksi 10 persen dari 12,1 juta ton jadi 10,9 juta ton. Penurunan produksi baja Inggris lebih tinggi dari penurunan rata-rata dunia yang hanya 2,9 persen di tahun yang sama.

Tata Steel bukan satu-satunya perusahaan yang harus melewati badai krisis di Inggris. Pada September 2015, produsen baja Sahaviriya Steel Industries (SSI) asal Thailand berkemas menghentikan operasi di Inggris. Sebanyak 1.700 tenaga kerja kehilangan pekerjaannya karena kebijakan itu. Caparo Industries juga mengalami nasib yang sama. Diperkirakan ada 5.000 pekerja industri baja yang terkena akibat krisis industri baja Inggris yang sudah sampai titik nadir.

Save Our Steel

Dampak krisis industri baja Inggris sempat memunculkan gagasan bailout terhadap pabrikan baja terbesar di Inggris tersebut. Alasannya, skema menjual aset ke investor baru bakal sulit karena tak mudah mencari pemilik modal yang mau membeli perusahaan yang merugi 1 juta poundsterling per hari. The Guardian menulis, kebutuhan dana yang diperlukan untuk menyelamatkan pabrik Tata Steel di Port Talbot setidaknya mencapai 1,5 miliar poundsterling per tahun. Angka ini memang jauh lebih kecil dari bailout perbankan yang pernah terjadi di Eropa.

Pemerintah Inggris terus memutar otak mencari jalan dari kebuntuan krisis industri baja mereka. Perdana Menteri Inggris David Cameron angkat suara soal nasib industri baja Inggris. "Kami akan melakukan apapun untuk membantu industri yang vital ini," kata Cameron dikutip dari www.parliament.uk

Melalui menteri bidang usaha kecil, industri, dan kewirausahaan, pemerintah Inggris menyiapkan beberapa "obat" bagi industri baja. Inggris akan menyiapkan kompensasi dalam bentuk kebijakan insentif di bidang energi. Tak hanya itu, kebijakan antipersaingan tak sehat berupa antidumping juga jadi disiapkan. Inggris akan mendorong Uni Eropa menerapkan antidumping terhadap baja Cina.

Inggris juga menggencarkan upaya penggunaan produk dalam negeri khususnya baja dalam setiap belanja pemerintah seperti pengadaan rel kereta. Kampanye "Buying British" dikumandangkan. Pemerintah juga mendorong belanja sektor swasta untuk memaksimalkan penggunaan produk dalam negeri seperti industri otomotif. Rancangan jangka panjang untuk sektor infrastruktur hingga 2030 disiapkan, untuk memberikan gambaran kebutuhan kepada industri baja dalam menyiapkan rencana kapasitas produksi beberapa dekade ke depan.

Runtuhnya industri baja Tata Steel merupakan sebuah ironi. Sebuah negara maju seperti Inggris ternyata tak bisa bersaing dan harus takluk dengan keperkasaan industri baja Negeri Tirai Bambu. Kisah mereka tentu menjadi pelajaran berharga bagi industri sejenis, terutama dari negara berkembang seperti Indonesia.

Baca juga artikel terkait CINA atau tulisan lainnya

tirto.id - Bisnis
Reporter: Suhendra