Ruang Aman dalam Keluarga Penting untuk Cegah Kekerasan Seksual

Oleh: Joan Aurelia - 26 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Kasus kekerasan seksual dalam ranah keluarga terus terjadi setiap tahun. Anak perempuan yang jadi korban dirundung dilema kala hendak melapor.
tirto.id - Bagi sebagian besar orang Indonesia, nama dan persona Dylan Sada sebagai selebritas nisbi jarang dibicarakan. Dia tenar di kalangan terbatas, yakni para orang muda pencinta fesyen, khususnya yang tertarik dengan gaya kelam dan edgy. Majalah-majalah mode yang menjadikannya model pun terbatas majalah yang menerima gaya eksentrik, seperti Clara, Elle, L’Officiel, dan Nylon.

Hal yang juga membuat ketenaran Dylan terbatas di kalangan tertentu adalah domisili. Pada 2016, Dylan berkata kepada majalah L’Officiel bahwa sang ibu membawanya pindah ke Amerika Serikat ketika dirinya masih anak-anak. Namun, dia dan keluarga tak selamanya menetap di sana. Dylan sempat berkuliah di Jakarta dan Malaysia serta tinggal berpindah-pindah antara Jakarta dan Amerika.

Model bernama asli Aldila Wulandari Kusumashanti itu mulai dikenal publik Indonesia sekitar lima tahun lalu, ketika dia sesekali jadi model majalah dan mengampanyekan beberapa gerakan fesyen. Pada 2018, Dylan semakin sering diperbincangkan setelah berbagi tentang kasus kekerasan seksual yang pernah dialaminya dari pasangannya.

Beberapa minggu setelah kasus itu ramai, nama Dylan kembali lindap. Publik hanya bisa mengetahui kabarnya dari unggahannya di Instagram. Namanya lagi-lagi jadi perbincangan pada 9 November lalu melalui cara yang tragis: Dylan ditemukan tewas di kediamannya di New York.

CNN Indonesia yang mengutip pernyataan adik Dylan, Aldita Namira, mengabarkan bahwa penyebab pasti kematian masih diselidiki. Sejauh ini, yang bisa dipastikan ialah Dylan ditemukan tidak sadarkan diri di kamar mandi. Aldita menduga Dylan mungkin tengah sakit kala itu.

"Kami belum tahu apakah almarhumah sakit atau enggak, karena almarhumah jarang menginformasikan apa pun terutama terkait kesehatannya. Mungkin kemarin almarhumah dalam kondisi lemas terus jatuh di kamar mandi dan meninggal dunia," terang Aldita.

Namun, kematian Dylan yang tiba-tiba itu memunculkan beberapa spekulasi di tengah publik. Dylan yang juga cucu dari Pranadjaja—pendiri sekolah musik Bina Vokalia—adalah individu yang berulang kali mengalami kekerasan seksual. Dalam salah satu unggahan Instagram, dia bercerita pernah mengalami kekerasan seksual oleh ayah kandungnya sendiri ketika masih anak-anak. Peristiwa itu menyisakan trauma yang begitu besar. Dylan bahkan pernah sangat membenci dirinya sendiri hingga beberapa kali berupaya mengakhiri hidup.


Kasus Kekerasan Inses

Kasus yang pernah dialami Dylan hanyalah satu dari sekian bentuk kasus kekerasan seksual dalam ranah keluarga yang terjadi setiap tahun. Laporan Komnas Perempuan (PDF) yang dirilis pada 6 Maret 2020 menyebutkan bahwa kasus kekerasan inses menempati peringkat tiga teratas dalam kategori kasus kekerasan di ranah rumah tangga atau relasi personal. Ia disusul oleh kasus perkosaan di posisi kedua dan persetubuhan di posisi ketiga.

Sepanjang 2019, kekerasan inses yang dilaporkan mencapai 822 kasus. Angka tersebut memang mengalami penurunan dibanding 2018 yang mencatatkan 1.017 kasus. Namun, penurunan kasus kekerasan inses ini tidak bisa hanya dilihat dari naik turunnya statistik karena ia adalah bentuk kekerasan seksual yang sulit dilaporkan oleh korban.

Komnas Perempuan menjelaskan bahwa kekerasan inses menyangkut relasi keluarga. Korban biasanya adalah anak perempuan dan pelaku inses tertinggi adalah ayah dan paman. Dalam kondisi demikian, ibu korban biasanya mengalami dilema untuk melaporkan kasusnya karena pelaku adalah suaminya sendiri.

Harus dipikirkan bagaimana kesulitan korban melaporkan kasusnya karena menjaga nama baik keluarga masih menjadi budaya di Indonesia. Kasus inses dengan pelaku ayah dan paman sama seperti tahun lalu (CATAHU 2019) menunjukkan baik ayah maupun paman adalah dua orang yang belum tentu menjadi pelindung dalam keluarga,” terang Komnas Perempuan.

Pada 2019, ayah kandung adalah pelaku kekerasan seksual terbanyak, mencapai 618 kasus. Jumlah ini meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 365 kasus. Posisi kedua pelaku kekerasan seksual ditempati oleh ayah tiri atau ayah angkat yang tercatat mencapai 469 kasus—meningkat dari tahun sebelumnya yang mencatat 163 kasus.

Dari testimoni salah satu penyintas kekerasan seksual inses yang didapat oleh Komnas Perempuan, kita bisa sedikit mengerti gambaran kasus yang biasa terjadi. Penyintas itu mengatakan bahwa ayahnya kerap memaksa masuk kamarnya dan melakukan percobaan perkosaan.

Ayahnya tetap memaksa masuk meski penyintas itu sudah mengganjal pintu kamarnya dengan lemari. Penyintas mengaku tidak berani melaporkan kasusnya karena merasa kasihan dan tidak tega kepada ibunya.

Terkait kasus ini Komnas Perempuan menekankan, “Ini menunjukkan bahwa persoalan inses dan kekerasan seksual dalam keluarga bukan soal infrastruktur kamar yang terpisah atau tidak, melainkan tindakan keji predator seksual yang dilakukan Ayah kandung sendiri.”


Infografik Kasus Inses di Indonesia
Infografik Kasus Inses di Indonesia. tirto.id/Quita



Ruang Aman dalam Keluarga

Untuk mendalami penyebab terjadinya kekerasan seksual dalam lingkungan keluarga, Tirto bicara dengan psikolog dan pendiri Yayasan Lentera Sintas Indonesia Wulan Danoekoesoemo. Menurut Wulan, ketidakmampuan manusia untuk mengendalikan diri adalah alasan dasar di balik setiap kasus kekerasan seksual.

Langkah pencegahan terhadap kekerasan bisa dilakukan dengan menciptakan ruang aman bagi anak di dalam rumah. Ruang aman itu bisa dimulai dengan merealisasikan kesetaraan di antara kedua orang tua.

Orang tua harus satu suara karena bila tidak demikian, anak bisa menganulir otoritas salah satu pihak. Kedua gender harus mempraktikkan equality, fairness, dan justice. Contoh sederhananya, kala anak tidak bikin PR dan salah satu orang tua menyita gawai anak selama dua hari, maka jangan ada yang curi-curi waktu memberikan gawai sebelum waktunya,” tutur Wulan.

Dengan demikian, tidak akan ada persepsi salah satu orang tua terlihat lebih punya kuasa dibanding yang lain. Wulan juga menyarankan para orang tua untuk melatih anak mengutarakan hal yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Beri kesempatan mereka bicara soal yang mengganjal dalam diri mereka. Tentu dengan cara yang sopan dan orang tua wajib mendengarkan, meski mungkin ada kalanya si anak berpikir atau bertindak secara berlebihan,” lanjut Wulan.

Lain itu, para orang tua harus memastikan dirinya mudah didekati oleh anak.Be a friendly parents, but not their friends karena tetap saja anak adalah tanggung jawab orang tua,” tutur Wulan.

Ruang aman dalam keluarga sangat penting untuk mencegah terjadinya kekerasan dan trauma yang jadi eksesnya. Pasalnya, proses pemulihan trauma psikologis bukanlah jalan yang mudah dan mulus

Trauma berkepanjangan yang dialami
anak penyintas kekerasan seksual inses disebabkan oleh pelanggaran kepercayaan yang terjadi sebelum si anak bisa membedakan mana kawan atau lawan. Hal ini kemudian membuat anak sulit memercayai orang lain maupun diri sendiri. Tidak ada resep generik untuk menyembuhkan trauma dan kepercayaan yang rusak itu.

Setiap trauma memiliki proses pemulihannya sendiri. Pilihan seseorang untuk menerima bantuan itu sebetulnya juga sebuah aksi melatih rasa kepercayaan. Baiknya, para penyintas memang merasa nyaman dengan hal yang jadi pilihan,” tutur Wulan.

Wulan bercerita bahwa sebagian korban kekerasan seksual inses yang menjadi kliennya punya pilihan yang berbeda dalam merespons penderitaan yang terjadi dalam hidupnya. Ada yang memilih untuk pergi dari rumah bersama ibunya untuk memulihkan diri bersama. Ada pula yang memutuskan untuk tidak membicarakan kasus.

Tidak semua orang mau dan siap untuk memulihkan diri sehingga tidak bisa dipaksakan. Tidak semua orang juga siap untuk menerima kenyataan dan melakukan konfrontasi terhadap hal yang dia alami,” pungkas Wulan.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight