Rovshan Janiyev dan Lika-Liku Mafia Azerbaijan

Oleh: Eddward S Kennedy - 16 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kisah singkat mengenai lika-liku mafia Azerbaijan.
tirto.id - Rovshan Janiyev masih berusia 17 tahun ketika suatu hari ia mendatangi sebuah ruang persidangan, lalu menembak mati para terdakwa yang telah membunuh ayahnya. Atas hal tersebut, Janiyev kemudian dijatuhi hukuman dua tahun penjara, namun dibebaskan lebih cepat karena keputusan pengadilan.

Delapan tahun berselang, Janiyev sudah menjadi salah satu penjahat kawakan di Baku, ibukota Azerbaijan. Penjara dan dendam telah merumuskan jalan hidupnya. Sosoknya makin disegani ketika ia menghabisi nyawa Keramat Mammadov, bos mafia di Baku. Janiyev pun harus kembali mendekam di penjara. Di sana, dia harus merasakan balasannya: komplotan mafia tersebut memukulinya hingga sekarat di dalam penjara. Bahkan sebab itu pula Janiyev sampai menderita penyakit mental.

Usai masa tahanannya habis, Janiyev yang masih takut kemudian melarikan diri dari Azerbaijan menuju Moskow. Di sanalah ia kemudian mulai membentuk jejaring bandit dari etnis Azeri. Seiring berjalannya waktu, komplotan tersebut berhasil memiliki tempat tersendiri dalam bisnis gelap (seperti jasa keamanan dan narkotika) di dunia bawah tanah Eropa Timur. Sosok Janiyev pun makin berpengaruh.

Tentu saja komplotan Janiyev bukan tanpa saingan. Di Moskow, kompetitor utama mereka adalah geng Kaukasia yang dipimpin oleh Aslan Usoyan. Berkali-kali kedua komplotan ini berseteru, terutama karena masalah rebutan wilayah--sebuah hal umum yang menjadi bahan utama keributan antar geng manapun di seluruh dunia. Dan sepanjang itu pula timbul korban jiwa.

Aslan Usoyan, yang lebih dikenal dengan nama samaran ‘Grandpa Hassan’, adalah salah seorang bos mafia di Rusia yang notabene berasal dari etnis Kurdi Yazidi. Bisnisnya berkutat di pencurian dan narkotika. Ia memulai wilayah operasinya di Georgia, lalu ke Moskow, kemudian berturut-turut ke Ural, Siberia, Uzbekistan, Krasnodar, Sochi, hingga daerah bekas Uni Soviet lain.



Pada tahun 2007, geng Usoyan terlibat perang dengan komplotan mafia Georgia di bawah pimpinan Tariel Oniani (dikenal pula dengan nama Tariel Mulukhov) yang juga tengah membangun jejaring bisnisnya di Moskow. Banyak anak buah Usoyan yang terbunuh dalam perang ini, termasuk Alek Minalyan, salah satu orang kepercayaannya, penjahat dari Armenia yang kerap memeras perusahaan-perusahaan konstruksi pemegang proyek di Olimpiade Musim Dingin 2014.

Seiring dengan tingkat kekerasan yang kian meningkat, kedua pihak kemudian sepakat melakukan pertemuan di sebuah yacht milik Oniani. Namun, Usoyan menolak hadir. Di luar dugaan, rupanya ada yang membocorkan pertemuan tersebut kepada pihak kepolisian. Maka tak butuh waktu lama bagi mereka untuk melakukan penggerebekan. Seluruh pihak yang berada di sana pun ditangkap, termasuk Oniani.

Usoyan menyangkal keterlibatannya dalam pertemuan tersebut, demikian ia mengaku kepada sebuah surat kabar di Rusia yang juga turut dikutip New York Times.

"Kami kelompok damai dan tidak pernah mengganggu siapa pun. Kami di sini untuk perdamaian sekaligus mencegah pelanggaran hukum,” ujar Usoyan. Dengan mengatakan hal seperti ini, Usoyan sejatinya hanya ingin mengatakan: tidak pernah ada perdamaian antara kelompoknya dengan kubu Oniani.

Gagalnya pertemuan tersebut membuat kekerasan antar kedua pihak tak mereda. Mereka pun kemudian melapor kepada Vyacheslav Ivankov, seorang mafia kakap lain yang dikenal punya banyak koneksi di lingkar dalam pemerintahan Rusia. Ivankov ditugasi sebagai mediator agar kedua pihak tidak terus bersitegang.

Namun, yang terjadi justru ia memihak kepada Usoyan karena lebih tua dan lebih berpengalaman. Sementara ia menganggap Oniani tak lebih dari mafia pemula yang masih suka cari pamor. Dan entah karena sikapnya tersebut atau bukan, pada Juli 2009 Ivankov ditembak oleh seorang sniper ketika meninggalkan sebuah restoran. Ia meninggal beberapa bulan kemudian.

Empat tahun berselang giliran Usoyan, yang ketika itu telah berusia 76 tahun, tewas dengan cara serupa: ditembak dari jarak jauh oleh seorang sniper misterius. Ketika jenazahnya hendak dikuburkan di kota asalnya, Tbilisi, pihak bandara setempat menolak kedatangan pesawat yang membawanya. Akhirnya Usoyan pun dimakamkan di Moskow.

Siapa yang kemudian diduga kuat menjadi dalang pembunuhan Ivankov dan Usoyan? Tentu saja: Oniani dan Janiev.

Dianggap Pahlawan Lokal

Tewasnya Usoyan membuat dunia mafia di Rusia gonjang-ganjing dan intensitas kekerasan kian meningkat. Demikian yang dikatakan oleh Sergey Galoyan, seorang pakar kriminal asal Rusia, kepada media lokal Armenia, Tert.am:

“Di dunia kriminal, jika satu pihak kalah, mereka akan menggunakan senjata. Dan pihak yang menang, demi melindungi teritori dan pencapaiannya, juga menggunakan senjata. Jadi akan melihat lebih banyak pertumpahan darah.” Galoyan juga menambahkan tidak hanya di Rusia saja situasi yang memanas, tetapi juga di Georgia dan Armenia, mengingat pengaruh besar Usoyan di wilayah tersebut.

Hal senada juga turut dikatakan oleh Mark Galeotti, profesor ilmu kriminal di New York University sekaligus pemilik blog “In Moscow's Shadows” dalam sebuah edisi podcast di Radio Free Europe/Radio Liberty yang bertajuk ‘Power Vertical Podcast’.



Dibunuhnya Usoyan (ia memakai istilah "the last of the old dinosaurs") akan “mengakibatkan turbulensi di dunia bawah Rusia antara mafia gaya lama dengan generasi mafia yang lebih muda, lebih mencolok, dan lebih kurang ajar yang telah muncul dalam beberapa dekade terakhir."

Galeotti juga mengatakan bahwa posisi mafia lama menjadi terdesak sejak Usoyan tewas. Itulah kenapa kemudian Dmitry Chanturia, sepupu Usoyan yang diberikan mandat untuk memegang kendali bisnisnya, menahan diri untuk tidak langsung membalas gerombolan Janiyev dan Oniani dan lebih fokus mengonsolidasikan kekuatan. Untuk sementara pihak mafia mudalah yang kini menguasai bisnis menggiurkan seperti heroin Afganistan atau proyek-proyek basah untuk Olimpiade Musim Dingin 2014.

Namun demikian, pada Januari 2013, Janiyev dan Oniani mulai mendapat teror melalui tewasnya Astamur Guliya, seorang pimpinan gangster Abkhazia yang juga sekutu Janiyev. Ia tewas ditembak di Sukhum, ibu kota Abkhazia, sebuah negara pecahan Georgia yang tidak diakui dunia internasional. Bahkan, Janiyev sendiri dilaporkan tewas di Istanbul pada 6 Februari 2013, sebelum kemudian kabar tersebut dibantah oleh seorang saudaranya, Emil. Ia mengklaim Janiyev masih hidup dan tinggal di Uni Emirat.

Infografik Rovshan Janiyev
undefined


Klaim Emil tersebut rupanya diketahui oleh penegak hukum Italia yang lantas melaporkannya ke Interpol. Laporan tersebut merincikan segala kejahatan Janiyev selama ini, mulai dari penyuapan, pencucian uang, narkotika, hingga pemalsuan dokumen. Sadar dirinya menjadi target buruan, Janiyev pun bersembunyi. Konon, para kompetitornya sampai menawarkan sebesar 5 juta dolar bagi siapa saja yang berhasil menghabisi nyawa Janiyev.

Setelah kucing-kucingan dengan aparat dan musuh-musuhnya, Janiyev akhirnya dinyatakan tewas betulan pada 17 Agustus 2016 di Besiktas, Turki, ketika baru tiba dari Dubai. Ia diberondong senapan ketika berada di dalam mobil Range Rover mewahnya yang berplat nomor Azerbaijan. Janiyev menghembuskan nafas terakhir ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat dari lokasi. Tiga orang ditangkap terkait pembunuhan tersebut.

Jenazah Janiyev kemudian diterbangkan ke Azerbaijan dengan menggunakan pesawat pribadi Mübariz Mansimov, seorang miliarder pemilik perusahaan Palmali Group. Berdasarkan laporan media lokal, sekitar 25.000 orang turut mengantar jenazah Janiyev hingga ke pemakaman di Lenkoran. Jumlah yang tentunya luar biasa banyak bagi seorang bos mafia kelas kakap. Mengapa demikian?

Ilgar Kamil, seorang kolomnis di sebuah media di Azerbaijan, Yeni Musavat, sempat membahas hal tersebut dengan menggunakan teori dari efek pratfall: bagaimana seseorang akan makin disukai justru karena ia telah membuat kesalahan atau menunjukkan ketidaksempurnaannya. Namun dengan catatan, jika mereka yakin orang tersebut kompeten.

25.000 orang yang mengantar Janiyev hingga ke pemakaman menganggap sosoknya kurang lebih seperti Robin Hood atau pahlawan lokal. Misalnya saja dari bagaimana ia melindungi para pedagang pasar etnis Azeri yang berdagang di Moskow dari gangguan geng Rusia, Georgia, atau Armenia--kendatipun ia juga mematok bayaran untuk itu. Dan yang jelas, kejahatannya bisa dipahami karena berasal dari dendam kesumat atas kematian ayahnya.

Baca juga artikel terkait MAFIA atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Eddward S Kennedy