Rote Zora

Rote Zora: Ketika Feminis Jerman Melawan Pemerkosa dengan Teror

Infografik Rote zora
Ilustrasi ROTE ZORA. FOTO/tirto.id
Oleh: Eddward S Kennedy - 29 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Mengenal Rote Zora, kelompok feminis radikal dari Jerman Barat.
tirto.id - Setelah nyaris 20 tahun berada dalam pelarian, Adrienne Gershäuser akhirnya menyerahkan diri ke pihak kepolisian Berlin, Jerman, pada 2006 lalu. Dia adalah anggota terakhir Rote Zora: kelompok feminis revolusioner sayap kiri dari Jerman Barat.

Dilansir Guardian pada 2007 silam, dalam persidangan yang digelar di Berlin, Gershäuser mengakui bahwa sepanjang 10 tahun ia terlibat secara sadar dalam serangan yang dilakukan oleh Rote Zora. Bersama kelompok tersebut pula ia melakukan serangkaian pengeboman dan pembakaran yang targetnya berfokus kepada nilai/simbol patriarki serta kapitalisme: mulai dari toko-toko seks, lembaga medis, pengadilan, kedutaan besar, hingga pabrik-pabrik yang mengabaikan hak pekerja serta melanggar kebijakan publik.

Ditangkap ketika usianya 58 tahun, Gershäuser sejatinya merupakan seorang teknisi radio yang berkualifikasi. Laporan Kate Connoly untuk Guardian menyatakan, dengan latar keilmuannya itulah Gershäuser beberapa kali membantu membuat bom untuk Rota Zora, kendati tidak semuanya berhasil meledak. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran bom Gershäuser adalah Max-Planck-Institut für molekulare Genetik (Institut Max Planck untuk Teknik Genetik Berlin) pada 1986 dan sebuah pabrik pakaian di Bavaria pada 1987.


Menurut pengacaranya, Edith Lunnebach, Gershäuser memutuskan untuk menyerahkan diri karena “ingin mengakhiri situasi ilegalitas yang telah menjadi beban hidupnya". Lunnebach juga menambahkan bahwa “sudah tidak ada lagi koneksi apapun” antara Gershäuser dengan kelompok Rote Zora. Dalam pernyataan tertulisnya, Gershäuser turut menyatakan bahwa segala penyerangan dan aksi ekstrim lainnya merupakan bagian dari pandangan politiknya miliki saat itu.

Atas keterlibatannya dengan kelompok yang dikategorikan sebagai teroris tersebut, Gershäuser menghadapi hukuman maksimum 10 tahun penjara. Namun karena ia telah kooperatif dengan menyerahkan diri, Gershäuser akan dikenakan hukuman percobaan selama dua tahun. Hakim di persidangan pun menganggap bahwa Rota Zora sudah tidak lagi "termotivasi untuk mewujudkan pandangan politiknya dengan keras."

Lantas, apakah Rote Zora? Bagaimana sejarah terbentuknya kelompok tersebut? Seperti apa cita-cita politiknya?

Feminis Revolusioner Sayap Kiri

Rote Zora/Red Zora/Zora Merah adalah kelompok feminis sayap kiri Jerman Barat yang aktif dari tahun 1974 hingga 1995. Kelompok yang melakukan serangkaian serangan bom dan pembakaran terhadap musuh-musuh ideologis mereka, termasuk individu maupun organisasi yang dianggap seksis, melakukan eksploitasi perempuan, pro-masyarakat patriarki, rekayasa genetika, percobaan tenaga nuklir, hingga kebijakan anti-aborsi.

Nama Rote Zora ditakik dari judul buku karangan Kurt Held yang terbit tahun 1941, Die Rote Zora und ihre Bande (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai The Outsiders of Uskoken Castle). Buku ini berkisah tentang seorang gadis Kroasia berambut merah bernama Rote Zora ("Rote" berarti merah dalam bahasa Jerman) yang memimpin sekelompok anak yatim untuk melawan ketidakadilan yang menimpa mereka.

Pada mulanya, Rote Zora merupakan organ sayap feminis otonom dari Revolutionäre Zellen [RZ], pasukan kombatan urban atau urban guerilla sayap kiri radikal di Jerman Barat, yang pada periode 1980-an diklasifikasikan sebagai kelompok teroris oleh Kementerian Dalam Negeri setempat karena berbagai serangan yang mereka lakukan. Pamor RZ mulai dikenal sejak bekerja sama dengan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) kala membajak pesawat Air France dan mengalihkannya ke Bandara Entebbe di Uganda.

Selama berada di bawah payung RZ, Rota Zora berkali-kali melakukan aksi penyerangan. Dimulai pada 1975, mereka menyerang Pengadilan Konstitusi Federal Jerman di Karlsruhe. Tahun 1977, Rote Zora mengebom luar kantor Asosiasi Dokter Jerman sebagai bagian dari aksi protes hukum anti-aborsi. Tahun 1978, kelompok tersebut membakar berbagai toko seks di Cologne. Lalu pada 1981, Rote Zora membakar mobil seorang pengacara di Cologne dan membagikan tiket palsu angkutan umum di daerah Ruhr.

Dua tahun berikutnya, Rote Zora melakukan serangan bom di empat lokasi berbeda sebagai upaya menentang perekrutan agen warga asing: bom di kedutaan Filipina, bom di kantor Siemens, bom di kantor Nixdorf Computer, dan bom di pusat data Association of Clubs Creditreform. Tahun 1984, Rote Zora melakukan aksi pembakaran dua perusahaan di Gutersloh yang mempekerjakan tahanan dari penjara untuk kepentingan pribadi.

Setahun setelahnya, tepatnya pada 1985, Rote Zora menyerang kantor Institut Max Planck untuk Penelitian dan Pengembangan Tanaman di Cologne, sebuah lembaga medis di Universitas Heidelberg, serta Institut Genetika di Universitas Cologne. Inilah aksi terakhir mereka sebelum bersitegang dengan internal RZ dan memutuskan untuk memisahkan diri selamanya dari kelompok tersebut.

Alasan Rote Zora memisahkan diri dari RZ diakibatkan kekecewaan terhadap metode kekerasan yang memakan nyawa korban tak bersalah. Kendati berpisah, Rote Zora tetap melakukan berbagai macam aksi penyerangan namun dengan ketentuan ketat: sebisa mungkin jangan ada korban tak bersalah. Mereka memegang teguh sikap tersebut, demikian catat Katharina Karcher untuk laman Dangerous Women Project, sebuah program penelitian Institute for Advanced Studies in the Humanities, Universitas Edinburgh.

Serangan pertama Rote Zora sebagai organisasi independen adalah pembakaran Institut de Génétique Humaine [IGH] di Universitas Münster pada tahun 1986. Selain itu, mereka juga menjarah dokumen-dokumen sensitif dari sana untuk kemudian diterbitkan secara cuma-cuma. Pada tahun yang sama, mereka melakukan pengeboman di Helmholtz Centre for Infection Research—sebuah lembaga riset bioteknologi di Braunschweig.


Pada 1987, Rote Zora melakukan pembakaran terhadap pabrik pakaian Alder, termasuk kantor pusat mereka di Haibach, sekaligus berbagai cabang lain yang tersebar di Halstenbeck, Bremen, Oldenburg, Isernhagen, Kassel, Holzwickede, Neuss, Frankfurt, hingga Aachen. Tahun berikutnya, mereka melakukan pengeboman di Institut Biologi di Universitas Teknik Berlin.

Serangan terakhir mereka diketahui terjadi pada 24 Juli 1995, ketika mengebom galangan kapal milik perusahaan Lürssen GmbH di Bremen. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap pejuang Kurdi dalam konflik Turki-Kurdi. Lürssen GmbH adalah perusahaan yang biasa membuat kapal untuk Turki, namun dalam konflik tersebut mereka diduga kuat juga turut “memasok senjata untuk rezim Turki dalam melawan Kurdi."



Menurut Ulrike Helwerth dari German Women’s Lobby dan juga penulis buku Von Muttis und Emanzen. Feministinnen in Ost- und Westdeutschland (1995), masa ketika Rote Zora beraksi adalah masa di mana kaum muda di Eropa terpesona oleh militansi dalam segala jenis gagasan revolusioner. Kekerasan pun menjadi populer dan dianggap inheren dalam tindakan-tindakan politis yang diambil.

Tak heran jika kala itu kelompok feminis turut menganggap kesetaraan seksual sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan semilitan mungkin, termasuk dalam propaganda. Simak apa yang dikatakan salah seorang anggota Rote Zora dalam wawancaranya dengan majalah Emma—majalah feminis Jerman—tahun 1984 ketika menggambarkan masa depan versinya (sebagaimana dikutip dari catatan Katharina Karcher):

"Kami bermimpi ada kelompok-kelompok kecil perempuan di mana-mana; dan bahwa seorang pemerkosa, penyelundup wanita, penyiksa istri, pengedar pornografi, ginekolog brengsek akan merasa ketakutan ketika kelompok-kelompok ini menemukan, menyerang, dan mempermalukan mereka di depan umum”.

Rote Zora kini sudah tak ada lagi, tapi bukan berarti peninggalannya turut musnah. Di beberapa ruas jalan di Berlin, masih mudah ditemui orang memakai kaos atau grafiti sesosok wanita di tembok tengah memegang pistol dengan dibubuhi tulisan besar-besar: “Hati-hati, pemerkosa, kami akan datang dan menyeret Anda.”

Sebuah pesan yang akan relevan sampai kapan pun.

Baca juga artikel terkait FEMINISME atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Windu Jusuf
DarkLight