Ronaldo Tak Gagal di Turin, tapi Tidak Sukses-Sukses Amat

Oleh: R. A. Benjamin - 1 September 2021
Dibaca Normal 4 menit
Cristiano Ronaldo meninggalkan Juventus tak seperti ketika ia pergi dari Madrid. Tiga tahun di Turin, cukup banyak hasil yang tak sesuai harapan.
tirto.id - Cristiano Ronaldo menyundul bola kiriman Federico Chiesa ke gawang Udinese pada menit ke-94 dan merayakannya dengan membuka baju; meluapkan emosi. Selebrasi yang menyiratkan bahwa ia masih layak menjadi pilihan utama usai masuk sebagai pemain pengganti pada laga pertama di Serie A musim 2021/22. Berkat gol itu Juventus kembali unggul setelah Udinese menyamakan kedudukan berkat dua kesalahan kiper Wojciech Szczęsny.

Namun gol itu dianulir setelah VAR menangkap tangan Ronaldo berada dalam posisi offside barang berapa sentimeter. Andai gol itu disahkan, atau andai tidak dibangkucadangkan, mungkin Ronaldo tidak jadi pindah—demikian spekulasi fans yang beredar. Kenyataannya, sang pemain memang sudah bukan pilihan utama Massimiliano Allegri yang berniat membangun tim di sekitar Paulo Dybala, pemilik nomor punggung 10.

Spekulasi lain yang beredar: dia ingin tim yang lebih baik usai mendapati rivalnya, Lionel Messi, pindah ke PSG yang bertabur bintang. Isu ini berkembang ketika kapten Portugal nyaris pindah ke Manchester City. Di tengah pandemi, jumlah klub yang sanggup mendatangkan sang mega bintang semakin sedikit saja. PSG sudah memastikan tidak ada duet Ronaldo-Messi, sementara City tidak ngebet-ngebet amat. Mereka hanya ingin mendapatkannya tanpa uang transfer.

Demikianlah akhirnya empat hari menjelang bursa transfer musim panas ditutup Ronaldo berlabuh kembali ke klub lama yang membesarkan namanya dan menjadikannya bintang, Manchester United, dengan mahar 25 juta euro dan gaji tahunan yang dilaporkan menyentuh angka yang sama.

Ronaldo hanya menjalankan tiga musim dari kontrak empat tahun bersama Juve, klub yang ia datangi demi "tantangan yang berbeda" sebab di Real Madrid mendapatkan trofi terasa "sudah menjadi rutinitas." Di Juventus-lah Ronaldo mendapatkan status sebagai pemain pertama yang meraih seluruh trofi mayor di tiga liga terbesar Eropa—Inggris, Spanyol, dan Italia.

Tetapi pencapaiannya di Italia bisa dibilang tidak mencapai ekspektasi.


Datang di Waktu yang Tidak Tepat

Kalau kau punya kesempatan untuk mendatangkan Ronaldo, kau mendatangkan Ronaldo. Itu mungkin yang ada di kepala manajemen Juventus saat membayar 100 juta euro kepada Real Madrid pada 2018 lalu. Piala Liga Champions sudah 26 tahun tidak singgah ke Turin, maka langkah pertama atau satu-satunya yang diambil La Vecchia Signora adalah dengan mendatangkan "Mr. Champions League" itu sendiri.

Juventus terlena dan lupa (atau sudah tidak cukup uang) untuk membangun tim yang hebat di sekeliling sang top scorer sepanjang masa Liga Champions itu. Di depan, mereka tinggal punya Paulo Dybala yang relatif berkualitas. Gonzalo Higuain harus dipinjamkan ke sana-sini. Sementara lini tengah Bianconeri sudah tidak diperkuat trio MVP (Claudio Marchisio-Arturo Vidal-Andera Pirlo) yang memanggul Juve ke final UCL 2015 di bawah asuhan Allegri.

Pada musim terakhir, lini tengah Juve bahkan sudah tidak diperkuat Blaise Matuidi, yang meski bukan favorit para suporter tetapi memiliki tenaga gila-gilaan untuk menutup ruang kosong di sisi kiri lantaran Ronaldo jarang melakukan track back. Sedangkan striker Mario Mandžukić, yang selain mendampingi Ronaldo juga bertugas melakukan "kerja kotor", bahkan dilepas cuma-cuma pada akhir 2019 lantaran tidak masuk ke dalam skema Maurizio Sarri.

Jika itu semua belum cukup, maka simak bagaimana Ronaldo bertahan selama tiga tahun di tim yang dikepalai tiga pelatih berbeda: Allegri, Sarri, dan pelatih pemula Andrea Pirlo. Nama terakhir direkrut usai seminggu saja ditunjuk sebagai pelatih Juventus U23—yang tidak terdengar seperti pilihan utama. Sang maestro (julukan Pirlo sebagai pemain) diharapkan memberikan keajaiban ala pelatih muda. Dengan tidak membayar pelatih berpengalaman, penunjukan Pirlo juga dimaksudkan sebagai penghematan di masa pandemi.

Hanya gonta-ganti pelatih tanpa ada skema jangka panjang membuat para pemain harus terus beradaptasi dengan skema dan ide berbeda tiap awal musim. Tak heran kejayaan Eropa urung diraih. Dalam tiga musim itu, Juve tumbang di tangan klub-klub seperti Ajax, Lyon, dan Porto pada fase knockout UCL.

Kerap muncul argumen bahwa Ronaldo tak hanya menghambat perkembangan striker-striker lain, tapi juga alur bola yang dikehendaki Sarri maupun Pirlo. Belum lagi soal tendangan bebas di sekitar gawang lawan yang pasti jadi milik dia, kendati conversion rate-nya hanya 1,4%.


Namun Ronaldo tetaplah Ronaldo yang ambisius. Ia menjadi top scorer Juve selama tiga musim itu. Dia pun, akhirnya, menjadi capocannoniere 'pencetak gol terbanyak' Serie A pada musim terakhirnya (29), setelah dua musim sebelumnya dikalahkan dua mantan striker Juventus Fabio Quagliarella (26) dan Ciro Immobile (36).

Bersama Bianconeri, Ronaldo juga mencatatkan beberapa rekor seperti pemain tercepat yang mencapai 100 gol (dalam 131 pertandingan), dan pemain Juve yang mencetak gol terbanyak dalam semusim (37 gol pada 2019/20). Ia bahkan menyusul Pele dalam beberapa daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa semasa berkostum hitam-putih.

Juventus baru memainkan satu laga setelah ditinggal CR7. Mereka kalah 0-1 di kandang sendiri dari tim promosi Empoli. Namun, uang senilai 30 juta euro (gaji Ronaldo) yang berhasil dihemat plus skema baru yang tidak bertumpu pada keajaiban satu orang diharapkan membawa perubahan segar.

Kepindahan sang pemain berusia 36 tahun itu sepertinya tidak begitu disesali Turin.

Bukan Hanya soal Gol

Meski tak mampu menggenggam kejayaan di Eropa, mendatangkan Ronaldo sesungguhnya sudah kemenangan tersendiri untuk Juventus. Athletic Interest mencatat dengan menghabiskan total 350 juta euro untuk CR7 (dengan asumsi bermain empat musim) Juventus meraih "kemenangan-kemenangan" lain di luar lapangan, selain beberapa trofi lokal.

Gaji Ronaldo seorang diri, misalnya, melebihi gaji total sebagian klub Serie A. Namun patut dicatat bahwa jersei bernomor tujuh terjual sebanyak 520 ribu pada hari pertama Ronaldo menjadi pemain Juve. Sebagai perbandingan, total penjualan jersei seluruh pemain Juve pada musim sebelumnya 'hanya' mencapai 850 ribu.

Kemudian, setelah satu bulan pertama kedatangan Ronaldo, Juventus ketambahan 3,5 juta pengikut di Instagram. Mereka berada di peringkat tiga dunia di bawah Real Madrid dan Barcelona untuk urusan pengikut di platform tersebut.

Memiliki pemain terpopuler di dunia jelas memberikan pengaruh positif bagi branding sebuah klub. Demikian juga demi mencapai fanbase yang lebih luas—kendati efeknya di media sosial kebanyakan berkisar pada komentar bot, fans fanatik Messi dan Ronaldo yang menyalin tempel perbandingan statistik keduanya, atau sekadar mengetik "Pessi" dan "Penaldo". Usai kepindahan Ronaldo, sangat mungkin banyak pendukung yang berganti kaus.


Infografik Cristiano Ronaldo Kembali Merah
Infografik Cristiano Ronaldo Kembali Merah. tirto.id/Quita


Dampak serupa dirasakan Manchester Unted. Unggahan resmi kepindahan Ronaldo di Twitter mencapai satu juta retweet hanya dalam waktu satu jam. Suporter MU segera melupakan fakta bahwa ia nyaris berbaju biru langit kepunyaan tetangga.

Beberapa pengamat menilai transfer Ronaldo hanyalah langkah sentimental MU; nostalgia belaka. Kehadiran Ronaldo dikhawatirkan akan membuat pelatih Ole Gunnar Solskjær mencari skema baru lagi untuk mengakomodasi si pemain. Belum lagi kekhawatiran bahwa ia akan mengambil alih tugas, misalnya, mencetak gol yang kini dipegang pemain muda cemerlang Mason Greenwood (3 gol dalam 3 pertandingan) dan penalti serta tendangan bebas yang biasa dieksekusi Bruno Fernandes.

Kalau kau punya kesempatan untuk mendatangkan Ronaldo, kau mendatangkan Ronaldo. Pada usia berapa pun. Itu juga mungkin yang ada dalam benak para petinggi Manchester United.

Selamat menikmati masa bakti Ronaldo sekali lagi, para fans United—dan kolom komentar di media sosial yang dipenuhi "Pessi" atau "Penaldo". Selamat menempuh jalur baru, Juventus. Selamat menyaksikan sepak bola lagi, para fans. Sepak bola yang tanpa drama dan sensasi di luar lapangan, ya, setidaknya sampai bursa transfer dibuka lagi.

Baca juga artikel terkait CRISTIANO RONALDO atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino
DarkLight