Ronald Reagan Sebut Orang Afrika "Monyet", Anaknya Minta Maaf

Ronald Reagan. AP/3915790Globe Photos/MediaPunch /IPX
Oleh: Eddward S Kennedy - 23 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Omongan rasis Reagan terkuak setelah puluhan tahun. Anaknya minta maaf.
Merasa sebal menyimak siaran televisi yang menunjukkan delegasi Tanzania berdansa menyambut pemungutan suara di PBB mengakui China dan mengeluarkan Taiwan, keesokan harinya Ronald Reagan menelpon Richard Nixon.

Reagan: "Tadi malam saya meminta Anda agar melihat siaran televisi seperti yang saya lakukan”

Nixon: “Yeah”

Reagan: “Untuk melihat monyet-monyet itu dari negara-negara Afrika—Bangsat, mereka bahkan masih terlihat belum terbiasa memakai sepatu!”

Lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.

Percakapan tersebut terjadi pada 26 Oktober 1971. Reagan kala itu masih berstatus sebagai gubernur California, sedangkan Nixon sudah menjabat sebagai presiden di tahun kedua. Kelak, Reagan akan menjadi Presiden AS ke-40 sepanjang kurun waktu 1981-1989, sementara Nixon mengundurkan diri dari jabatannya karena skandal Watergate dan digantikan Gerald Ford pada 9 Agustus 1974.

Timothy Naftali menemukan rekaman percakapan tersebut. Profesor sejarah dari New York University dan mantan direktur Perpustakaan Kepresidenan Nixon dari 2007 sampai 2011 itu semula menyerahkan rekaman ke Arsip Nasional pada tahun 2000 ketika Reagan masih hidup. Namun, Arsip Nasional menyensor berbagai kalimat rasis demi melindungi privasi Reagan. Naftali mengajukan peninjauan ke pengadilan.


"Kematian Reagan pada 2004 menghapus kekhawatiran akan privasi. Saya meminta percakapan yang melibatkan Ronald Reagan diperiksa dan dua pekan lalu Arsip Nasional menerbitkan versi lengkapnya,” ujar Naftali.

Pada 30 Juli 2019 lalu, Naftali membeberkan temuannya di The Atlantic. Dalam rekaman lain, terdapat pula kalimat Reagan yang menggambarkan delegasi Afrika sebagai "kanibal" masih dalam konteks ketika ia berusaha menyalahkan mereka atas pemungutan suara PBB. Naftali juga mengatakan, Reagan menelepon Nixon untuk menekannya keluar dari PBB. Tapi kemudian Nixon menyebut bahwa tujuan utama Reagan adalah mengeluhkan sikap orang-orang Afrika.

Rekaman percakapan tersebut menjadi pengingat bagaimana sejarah panjang rasisme di AS dan secara khusus juga diidap oleh banyak presiden mereka.

“Ini bukan hanya cerita tentang rasisme Reagan. Ini juga merupakan pengingat tentang bagaimana di Oval Office, rasisme dapat melahirkan rasisme dan mengungkapkan rasisme laten pada orang lain,” demikian ucap Naftali.

Naftali tak sembarangan bicara. Presiden AS pertama George Washington memiliki budak dan mengatakan bahwa sebagian besar budaknya itu malas jika tidak diawasi. Theodore Roosevelt yang menganggap orang kulit hitam sebagai ras yang amat bodoh. Woodrow Wilson dan Dwight D. Eisenhower yang kerap memiliki prasangka dan melontarkan lelucon rasis. Lyndon B. Johnson dipuji sebagai pahlawan hak-hak sipil tapi juga kerap menghina orang-orang kulit hitam AS.

Dan akhirnya—surprise surprise!—Donald Trump. Beberapa minggu lalu ia melontarkan cuitan di akun Twitter-nya yang menyerang distrik kongres di Baltimore—di mana 53 persen warganya merupakan keturunan Afrika-Amerika—sebagai tempat "kacau menjijikkan dan penuh tikus, serta tidak ada manusia yang ingin hidup."

Entah menarik atau ironis, cuitan itu ia unggah satu hari sebelum Naftali mempublikasikan rekaman percakapan rasis Reagan-Nixon.

Watak Rasis Reagan: Southern Strategy

Sebelum menjadi gubernur California, Reagan bahkan telah menunjukkan watak rasis selama berkampanye. Jurnalis senior AS Sidney Blumenthal menunjuk salah satu peristiwa yang membuktikan rasisme itu, yakni ketika Reagan tengah berpidato di hadapan massa pendukungnya pada tahun 1966. Seperti yang ditulis Blumenthal di The Atlantic,

“Reagan menentang Civil Rights Act of 1964, menentang Voting Rights Act of 1965 tahun 1965 (ia menyebut UU itu “telah membuat malu orang-orang di Selatan”), lalu mencalonkan diri sebagai gubernur California pada 1966 dan berjanji akan menghapus Fair Housing Act (sebuah undang-undang yang menjamin keadilan kepada siapapun untuk memiliki rumah). Ia juga mengatakan: ‘Jika orang ingin tak menjual atau menyewakan rumahnya kepada orang Negro, ia berhak untuk melakukan itu.’”


Reagan juga dikenal sebagai sosok yang memulai stereotip welfare queen: sebuah istilah yang menekankan narasi bahwa perempuan kulit hitam kerap menyalahgunakan jaminan sosial negara untuk bermalas-malasan dan hidup mewah. Selain itu, beberapa kebijakan rasisnya terhadap kaum kulit berwarna selama menjadi presiden dianggap sebagai dasar bagi kebijakan "Perang terhadap Narkoba" di AS.

Ketika ia melenggang ke pemilihan presiden, Reagan kembali memperlihatkan tendensi rasisnya dengan berkampanye di daerah Solid South, Mississippi, tak jauh dari lokasi pembunuhan terhadap tiga aktivis kemanusiaan oleh Ku Klux Klan. Ia menyatakan dalam pidatonya: “Saya percaya dengan hak-hak negara bagian. Kita telah mengacaukan pemerintahan dengan memberikan kekuasaan yang semestinya tidak pernah diberikan Konstitusi pemerintah federal.”

Selama dan setelah Perang Sipil Amerika (1861-65), wacana tentang states' rights (hak-hak negara bagian) mengemuka sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah federal yang ingin menghapuskan perbudakan. Perbudakan, menurut states' rights, bisa dianggap sah karena merupakan tradisi legal negara-negara bagian selatan. Kini wacana states' rights dipandang sebagai ungkapan rasis terselubung.

Apa yang dilakukan Reagan sebetulnya bukan lagi sesuatu yang asing dalam politik AS. Cara itu memang selalu menjadi strategi utama Partai Republik untuk memperoleh dukungan politik dari pemilih kulit putih di wilayah selatan dengan memanfaatkan sentimen rasial terhadap kelompok Afrika-Amerika. Kalangan akademisi menyebut cara berkampanye Reagan sebagai “Southern Strategy”.

Permintaan Maaf Sang Putri

Hanya berselang kurang dari satu minggu setelah rekaman percakapan tersebut tersebar, putri Reagan, Patti Davis, melayangkan permohonan maaf kepada rakyat AS melalui suratnya di kolom Washington Post, pada Kamis, 1 Agustus 2019.

Davis mengaku "tidak siap atas rekaman ayah saya yang menggunakan kata 'monyet' untuk menggambarkan para delegasi kulit hitam Afrika di PBB yang pilihan politiknya telah membuat Reagan marah." Namun demikian, Davis turut menegaskan: "Tidak ada pembelaan, tidak ada rasionalisasi, tidak ada penjelasan yang cocok untuk apa yang dikatakan ayah saya dalam percakapan telepon yang direkam itu.”



Ia juga menambahkan: "Seandainya saya membaca kata-katanya sebagai kutipan, dan tidak mendengarnya, saya dapat mengatakan bahwa itu hanya rekayasa. Sebab saya memang tidak pernah mendengar kalimat seperti itu darinya. Namun itu tetap tidak menghilangkan fakta betapa pedih ucapannya. Kepedihan tersebut akan tetap bersama saya selamanya.”

Davis juga turut menyebut: “Jika ayah saya mendengar rekaman itu, dia akan meminta pengampunan. Hanya saja, segala kalimat yang dia gunakan dalam percakapannya dengan Nixon tidak bisa diartikan sebagai apa pun selain keburukan." Dan di akhir suratnya, Davis akan berusaha untuk memaafkan ayahnya atas sikapnya tersebut, namun ia juga menaruh harap: “Semoga orang lain akan memaafkan ayah saya atas kata-kata yang seharusnya tidak pernah diucapkan dalam percakapan apa pun."

Kisah Reagan yang pernah bersikap rasis kepada orang kulit hitam dapat menjadi cermin atas perlakuan terhadap warga Papua di Indonesia. Siklus rasisme tak berujung terhadap orang Papua kelak menjadi bahan bakar untuk meledakkan amarah yang selama ini terpendam.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memang telah meminta maaf atas persekusi bermotif rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya dan itu patut diapresiasi. Akan tetapi, penting juga untuk mengingat kembali potongan kalimat Pramoedya Ananta Toer dalam surat tanggapannya kepada Goenawan Mohamad yang berjudul ‘Saya Bukan Nelson Mandela’:

“Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hukum. Semuanya mesti lewat hukum. Jadikan itu keputusan DPR dan MPR.”

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Windu Jusuf
DarkLight