22 Juli 1963

Romo Soegija: Seratus Persen Katolik, Seratus Persen Indonesia

Oleh: Petrik Matanasi - 22 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Mengabdi tanpa
pamrih. Dari gereja
untuk negara.
tirto.id - Soegija tidak berasal dari keluarga Katolik. Agama Katolik, waktu Soegija masih kecil, masih baru sukses membaptis beberapa keluarga Jawa. Soegija terlahir dari keluarga berlatar belakang Islam Jawa. Keluarga Soegija yang berasal dari Surakarta, kemudian hijrah ke Yogyakarta. Di kota itulah Soegija bertemu dengan Romo Franciscus Georgius Josephus van Lith yang sedang merekrut calon murid sekolah guru di Muntilan. Kala itu, Soegija bersekolah di sekolah dasar Volkschool di Lempuyangan, Yogyakarta.

“Pastur van Lith mendatangi sekolah tempat belajar pemuda Soegija,” tulis Anhar Gonggong dalam Mgr. Soegijopranata - Antara Gereja & Negara (1993:10-14). Soegija tak berkeberatan belajar di sekolah katolik milik Serikat Jesuit itu. Pemuda kelahiran 25 November 1896 itu berasal dari keluarga abangan yang dekat dengan Islam. Dia sendiri keturunan Kyai Supa, seorang tokoh Islam terkenal Mataram. Usia Soegija kala itu masih 13 tahun. Tidak lama di sekolah itu, pada 24 Desember 1909, dia pun dibaptis. Dia dapat nama baptis Albertus. Setelah 1915 dia merasa terpanggil untuk menjadi imam Katolik setelah setahun mengajar.

Untuk memperdalam agama Katolik, sejak 1916 hingga 1919, dia menjalani pendidikan imamat. Dia juga belajar dari JAA Mertens soal bahasa Latin dan Yunani. Soegija kemudian belajar di Negeri Belanda juga pada 1919. Sebelum masuk Novisiat, Soegija menyelesaikan dulu pembelajaran bahasa latin dan Yunani di Gimnaisum Orde Salib Suci. Barulah pada 27 September 1920, dia masuk Novisiat Jesuit di Mariendaal, Grave.

“Ia mengikuti pelajaran filsafat di Oudenbosch, lalu mengikuti novisiat (masa percobaan bagi orang yang baru masuk biara),” tulis Harry Poeze dkk, dalam buku Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008:233).

Tentang Soegija, Poeze mencatat, “pendidikan yang ditempuh Soegija bisa menjadi model bagi pendidikan orang-orang jesuit Jawa angkatan pertama [...] sesudah diterima di dalam ordo tidak langsung melanjutkan ke pendidikan pendeta, melainkan bekerja praktik dahulu. Soegija baru pulang sebagai frater pada 1926 untuk mengajar di Sekolah Guru Muntilan, namun pada 1928 dia kembali lagi Negeri Belanda dan belajar di Maatstricht. Dia baru kembali ke Jawa pada 1933. Dia belakangan dikenal sebagai Albertus Sogijopranoto.

Menurut catatan Poeze, Soegija pernah menulis sebuah cerita bersambung di St Claverland pada 1926. Cerita berjudul "Santoso" itu, berkisah soal perjalanan kaki Santosa dari Kediri ke Muntilan. Santoso ingin belajar di sekolah guru Muntilan. Kisah lakon itu agak mirip kisah hidup Soegija sendiri.

Soegija bukan orang Indonesia pertama yang jadi pastur. Poeze dkk menyebut Fransiscus Xaverius Satiman sebagai “pastor pertama Indonesia.” Tapi, Albertus Soegijopranoto adalah orang Indonesia yang menjadi Uskup pada 1940. Itu adalah titimangsa saat Belanda diserang tentara Jerman.

Paus Pius XII mengangkat Soegija menjadi Uskup Agung untuk daerah Vikariat Apotolik Semarang pada 1 Agustus 1940, dan dilantik pada 6 November 1940. Wilayah apostolik Semarang itu meliputi daerah keresidenan Semarang. Tak hanya kota dan kabupaten Semarang, tapi juga Jepara, Rembang, Temanggung, Magelang, Yogyakarta dan Surakarta.



Kala itu, “Orang Katolik berbangsa Eropa pada tahun 1940 sebanyak 15.824 orang dan orang Katolik pribumi ditambah orang Cina berjumlah 25.278 orang,” catat Anhar Gonggong (1993:36). Pengangkatannya dianggap jalan aman agar agama Katolik yang sebelumnya banyak dipimpin oleh orang-orang Belanda atau Eropa lain itu tak dianggap agama orang Eropa, yang jadi musuh Asia Timur Raya.

Dengan posisi itu, dia harus menjadi pemimpin umat di masa perang, setidaknya sejak Perang Pasifik dan masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Itu adalah satu dekade perang yang banyak mengubah jalan sejarah di Asia dan Afrika. “Kegiatan-kegiatan Mgr Soegijopranoto terutama berupa usaha pemeliharaan dan pembinaan rohani umatnya di tengah pergolakan masa itu,” tulis Romo Budi Subanar dalam pengantar buku Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang: Catatan Harian Mgr. A. Soegijapranata, S.J., 13 Februari 1947-17 Agustus 1949.

Infografik Mozaik Romo Soegija


Setiap hari, di masa-masa perang itu, Soegijo mempersembahkan misa. Dia kerap memimpin sakrame-sakramen—mulai dari baptis, tobat, perkawinan. Tak hanya memimpin misa, tapi juga bertemu dengan orang-orang penting. Setelah Perang Dunia II rampung pada 1945, maka Indonesia menyatakan diri merdeka di tahun yang sama. Namun, ambisi Belanda untuk menguasai kembali Indonesia, membuat konlik terjadi antara Indonesia-Belanda.

“Banyak orang-orang Katolik dari daerah Republik yang meninggalkan tempatnya untuk mencari kehidupan yang lebih aman yaitu dengan pindah ke Semarang,” tulis M. Henricia Moeryantini dalam Mgr. Albertus Soegijapranata S.J. (1975:50). Kehidupan di daerah pendudukan Belanda tergolong aman secara ekonomis. Soegijo malah berpikir sebaliknya. Dia memilih sengsara bersama Republik.

Dukungan Mgr Soegijopranoto terhadap Republik Indonesia (RI) sangatlah jelas. Setelah ibukota RI pindah ke Yogyakarta dari Jakarta, Soegijo juga pindah ke Yogyakarta dari Semarang, sejak 13 Februari 1947.

“Seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia,” kata Soegija. Kalimat itu belakangan jadi semboyan orang Katolik Indonesia terhadap kemerdekaan Indonesia. Banyak pemuda terpelajar Katolik yang bergabung dengan Republik, bahkan juga ada yang gugur untuk Republik Indonesia. Sebutlah Agustinus Adisucipto atau Ignatius Slamat Rijadi. Berita sedih, tentang gugurnya Adisucipto ketika ikut pesawat pengangkut obat-obatan tertembak di Yogyakarta, tentu sampai ke Soegija.



Atas serangan militer Belanda dia bereaksi. Apa yang dilakukan Belanda, seperti ditulis JB Sudarmanto dalam Jejak-Jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia (2007:442), menurut Soegija hanya “mendatangkan kesusahan dan penderitaan kepada beribu-ribu orang, dan karenanya di masa mendatang tidak menguntungkan bagi kerja sama yang diharapkan akan berlangsung hangat atas dasar persamaan derajat menurut hukum dan keadilan.”

Soegijapranoto dianggap berjasa dalam mendapatkan dukungan dari Tahta Suci Vatikan untuk kemerdekaan Indonesia. “Negara Vatikan adalah salah satu dari negara-negara (Eropa) yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia,” tulis FX Murti Hadi Wijayanto dalam Soegija in Frame (2012:138). Saat itu Georges Marie Joseph Hubert Ghislain de Jonghe d'Ardoye menjadi perwakilan Vatikan untuk Indonesia.

Setelah pengakuan kedaulatan 1949 dan tentara Belanda diharuskan angkat kaki, Soegija kembali ke Semarang. Soegija terus memimpin umat Katolik, termasuk di masa perseteruan orang-orang Katolik dengan orang-orang komunis yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI). Romo Soegija dikenal sebagai pastor yang memakai kebudayaan lokal Indonesia, khususnya Jawa, dalam membumikan Katolik di Indonesia. Dia membolehkan wayang dan juga gamelan dalam dakwah-dakwah katolik.

Romo Soegija meninggal pada 22 Juli 1963, tepat hari ini 55 tahun lalu, di sebuah biara di Steyl, Belanda. Dua bulan sebelum meninggal, pada 30 Mei 1963, ia menghadiri pemilihan Paus di Vatikan—saat itu Paulus VI yang terpilih. Setelah itu, Soegija mampir ke Belanda dan jatuh sakit di sana hingga ia meninggal.

Seperti diungkap Anhar Gonggong (hlm. 124), Sukarno tidak menghendaki Romo Soegija dimakamkan di Belanda. Akhirnya, jenazah lelaki kelahiran 25 November 1896 itu diterbangkan ke Indonesia dan dikebumikan sebagai Pahlawan Nasional di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono