Robby Sumampow, Eks Bos Judi Konco Bisnis Benny Moerdani

Ilustrasi Robby Sumampow. FOTO/JIBI PHoto
Oleh: Petrik Matanasi - 6 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Robby Sumampow adalah pengusaha yang pernah diajak Benny Moerdani untuk mengembangkan ekonomi Timor Timur.
Seorang bawahan Slamet Singgih, tokoh intelijen Indonesia, merasa gentar ketika hendak menangkap para pejudi kelas kakap. Ia tahu, salah satu dari pejudi itu adalah orang dekat Panglima ABRI Jenderal Benny Moerdani.

Hal ini, sebagaimana ia tulis dalam autobiografinya yang bertajuk Intelijen: Catatan Harian Seorang Serdadu (2016:145), membuat Slamet Singgih siap pasang badan, ia siap memikul tanggungjawab atas tindakannya kepada para penjudi tersebut. Nyatanya, Benny tak mempersulitnya.

Pejudi yang dekat dengan Benny adalah Robby Sumampow. Dalam operasi penagkapan, tim Slamet Singgih juga menangkap Robby Tjahjadi, sosok yang kondang pada tahun 1970-an karena kasus penyelundupan sejumlah mobil mewah.

Kedua Robby ini telah berkawan sejak duduk di bangku SMA di Solo. Mereka pernah dipercaya Yayasan Dana Bakti Kesejahteraan Sosial sebagai pengelola judi Porkas pada zaman Orde Baru. Keduanya juga pernah membuat film berjudul Tiada Jalan Lain (1972) yang diproduksi oleh PT Tunggal Djaya Film.

JB Kristanto, dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005 (2005: 99) mencatat film yang dipenuhi adegan panas, mobil-mobil mewah serta bekerjasama dengan perusahaan film Hongkong ini sempat dilarang Jaksa Agung RI.


Timor Timur dan Pulau Galang

Suatu hari, seperti diceritakan Robby Sumampow kepada Tempo (12/10/2014), ia didatangi Benny. Jenderal itu berkata padanya, "Nek kowe arep dadi pengusaha, dadi pengusaha yang berjuang. Ojo dagang tok." (Kalau kamu mau jadi pengusaha, jadilah pengusaha yang berjuang. Jangan dagang saja).

Waktu itu, Operasi Seroja di Timor Timur (Timtim) tengah bergulir. Benny bercerita kepada Robby Sumampow bahwa banyak pengusaha tak mau mencoba peruntungan di Timtim. Oleh karena itu, Benny mengajaknya untuk membuaka usaha di wilayah tersebut.

“Kalau Timtim, [uangnya] harus gede, Pak. Saya kan pengusaha kecil,” kata Robby.

Setelah kesepakatan tercapai, Benny meminta Robby untuk segera mendatangkan barang dagangan ke daerah operasi militer itu. Meski demikian, Robby masih menyimpan ragu, karena perang tengah berkecamuk di sana.

“Yang nomor satu, kamu bersedia dulu masuk Timtim. Kamu gak usah khawatir apa pun. Pokoknya, kamu di sana di-back up, tidak akan diganggu tentara. Tentara akan jaga. Di sana ada hasil bumi kopi. Kamu barter saja,” kata Benny.

Robby pun akhirnya masuk ke Timtim, tepatnya Di Colmera, Dili. Ia mendirikan toko yang bernama Marina. Toko tersebut menjual alat-alat pertanian, kebutuhan nelayan, dan sepeda. Jenis barang yang didagangkan itu adalah yang telah diseleksi oleh Benny Moerdani.

“Dia (Benny Moerdani) mau ekonomi jalan untuk meramaikan kota,” kata Robby kepada Tempo.

Suatu kali jelang tanggal 17 Agustus, Benny meminta kepada Robby agar menjual bendera merah putih dan foto Soeharto. Robby pun kemudian membeli satu gudang bendera. Namun, saat bendera datang, tanggal 17 Agustus sudah lewat. Akhirnya bendera dan foto itu dibagikan kepada warga secara cuma-cuma. Tak lama kemudian utusan PBB tiba di Timtim, dan bendera yang dibagikan secara gratis itu berguna untuk menyambut wakil PBB.

Menurut Robby, uang hasil bisnisnya pernah dipinjam oleh Dading Kalbuadi, kawan dekat Benny. Kepada Sidney Morning Herald, Benny mengakui bahwa saat itu Departemen Pertahanan Keamanan tidak punya dana yang memadai untuk membiayai operasi militer di Timtim.

Robby juga ikut mencari dana untuk membantu para janda tentara yang terbunuh di Timtim. Setelah wilayah tersebut memisahkan diri dari Indonesia, bisnis Robby di Timor Leste kian memudar.

Kerjasama Robby dengan Benny tak hanya menyangkut Timtim, melainkan juga dalam mengurusi para pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Rumah-rumah pengungsi itu didesain di Pulau Jawa. Para tukangnya juga dari Jawa. Mereka dibawa dengan menggunakan pesawat ke Pulang Galang untuk membuat rumah-rumah bagi para pengungsi.



Pasang Surut Hubungan Robby-Benny

Hubungan kedua orang ini tak selalu mesra. Robby pernah dimarahi habis-habisan oleh Benny, karena ada laporan bahwa barang yang hendak dijual ke Timtim ada yang diturunkan di Surabaya. Peristiwa itu membuat Robby merasa hubungannya dengan Benny tamat. Namun, Benny akhirnya minta maaf dan hubungan itu kembali seperti semula.

Bagi Robby, berkawan dengan Benny terasa menguntungkan. Padahal mulai era 1990-an, Benny bukan jenderal yang ideal untuk dijadikan kolega bisnis di Indonesia. Di era itu, Benny sudah dijauhi Presiden daripada Soeharto yang makin dekat dengan kelompok Islam.

Dalam persahabatan itu, ada satu hal yang tidak disukai oleh Benny dari Robby, yakni judi. Robby dikenal sebagai pemilik kasino di Pulau Chrismast, Australia. Oleh karena itu, ia sempat dicari Menteri Sosial untuk mengelola Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Benny tidak setuju dengan hal itu, namun Robby tetap mengelola SDSB dan sukses. SDSB berakhir saat tekanan kelompok Islam semakin kuat.

Kini, Robby masih aktif di dunia usaha. Sementara Benny telah wafat pada tahun 2004 lalu. Selisih usia keduanya memang cukup jauh, Robby lebih muda 12 tahun dari kawannya itu.

Baca juga artikel terkait SEJARAH TIMOR TIMUR atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight