RMS yang Mencoba Bertahan di Negeri Belanda

Oleh: Petrik Matanasi - 24 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Setelah dihancurkan di Ambon, RMS sempat bergerilya di Seram. Namun, perjuangan RMS paling lama berlangsung justru di Belanda.
tirto.id - Ketika kota Ambon digempur Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), pemerintah Republik Maluku Selatan (RMS) yang baru berdiri itu pun langsung berantakan. Di bawah kepemimpinan Alex Kawilarang, tentara Indonesia memaksa para tokoh RMS -- macam Christian Robert Steven Soumokil dan sebagian Angkatan Perang RMS -- memilih bergerilya. Ada yang tertawan oleh APRIS dan akhirnya diadili. Namun, ada juga yang memilih pergi ke Belanda. Salah satu di antaranya adalah seorang insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB) bernama Johannes Alvarez Manusama.

Sebelum angkat kaki ke Belanda, dia adalah Kepala Sekolah SMA Ambon. Pada 23 April 1950, bersama Soumokil dan sisa-sisa KNIL, Johannes Hermanus Manuhutu memproklamasikan RMS. Dalam kabinet RMS, Johan Manusama yang lulusan kampus teknik yang jadi cikal bakal ITB itu pun menjadi Menteri Pendidikan dan sempat menjadi Menteri Pertahanan juga.

Menurut Rosihan Anwar, dalam Sejarah Kecil “La Petite Histoire” Indonesia (2004), orang yang berayah Ambon dan beribu Indo (campuran Belanda) ini pernah pula menjadi guru matematika di sebuah Sekolah Menengah Tinggi (SMA) Jakarta pada zaman Jepang. Sejak 1947 dia menjadi Kepala Sekolah di Ambon.

Menurut Ulbe Bosma, dalam Post-Colonial Immigrants and Identity Formations in the Netherlands (2012), Johan Manusama semula berada di Seram seperti halnya Soumokil. Di pulau terbesar yang dekat dengan Ambon itulah, RMS mencoba bertahan dengan cara-cara gerilya.

Pada 1953, Johan memilih berangkat ke Belanda. Tak hanya dirinya, belakangan bekas panglima militer RMS yang sempat bergerilya di sekitar kepulauan Maluku, seperti Domingus Sopacua dan Isaac Tamaela, juga pergi ke Belanda. Nama terakhir menjadi Jenderal RMS di luar negeri.

Johan Manusama sendiri menjadi wakil RMS di Eropa selama sisa hidupnya. Setelah Soumokil dieksekusi pada 1966, Manusama diangkat menjadi Presiden RMS. Dia menjadi Presiden RMS ketiga setelah J.H. Manuhutu (25 April-3 Mei 1950) dan Soumokil (1950-1966).

Di masa Johan Manusama menjadi Presiden RMS ini, sebagian kaum muda RMS yang terpengaruh teknik terorisme ala 1970an melakukan aksi-aksi kekerasan. Menurut Rosihan Anwar, seperti dikutip dari Peter Bootsma dalam De Molukse Actie (2000), “aksi pertama terjadi pada 31 Agustus 1970 berupa serangan terhadap Wisma Indonesia, kediaman Duta Besar RI di Wassenaar.“

Aksi pendudukan Wisma Indonesia 31 Agustus 1970 itu bertepatan dengan hari lahir Ratu Wilhelmina, yang di masa kolonial ulang tahunnya selalu diperingati. Kebetulan yang lain: hari itu, istri Soumokil baru saja tiba di Negeri Belanda.

Dalam sebuah bentrokan seorang anggota polisi bernama Hans Molenaar tertembak mati. Meski kediaman Duta Besar dikuasai pemuda-pemuda RMS, Duta Besar Mayor Jenderal Taswin Natadiningrat berhasil lolos.

INFOGRAFIK HL RMS


Selain itu, setidaknya dua kali RMS terkait kasus penyanderaan kereta api. Penyanderaan pertama terjadi pada 2 Desember 1975 dan pada 23 Mei 1977 di Glimmen. Dalam aksi ini pasukan Marinir Bijzondere Bijstands Eenheid (BBE) bertindak tegas untuk menghentikannya

Masa kepresidenan Manusama berakhir pada 1992. Dia sudah sangat tua ketika itu. Laki-laki yang dianggap anggota Freemason, dedengkot kelahiran 17 Oktober 1910 di Banjarmasin ini, sudah menginjak usia 82 tahun saat itu.

Pengganti Johan Manusama adalah Frans Lodewijk Johannis Tutuhatunewa. Dia seorang dokter kelahiran zaman Hindia Belanda juga. Frans lahir pada 1923. Dia menjadi Presiden hingga kematian menjemputnya pada 2010 lalu.

Setelah Johannis Tutuhatunewa, kursi kepresidenan RMS dipegang Johannes Gerardus Wattilete alias John Wattilete, seorang pengacara. Di antara para Presiden RMS, John adalah Presiden RMS pertama yang lahir di luar Hindia Belanda dan lahir pasca proklamasi RMS 25 April 1950 pula. Setelah Soumokil, dia presiden kedua yang berlatar dunia hukum. Seperti Johan Manusama, John Wattilete punya darah campuran Ambon-Belanda.

Menurut Gubernur Maluku Said Assegaff, berdasar hasil kunjungannya ke Negeri Belanda, RMS tak garang lagi. "Saya saat berkunjung ke Belanda pada 17 - 25 September 2014 ternyata diinformasikan bahwa pengikut RMS itu hanya tinggal para lanjut usia dengan pengaruh relatif terbatas," kata Said Assagaff di Ambon kepada Antara (30/09/2014).

Sejak era Tutuhatunewa, Pemerintah RMS agaknya mulai melupakan cara kekerasan. Mereka mencoba persuasif. John Wattilete bahkan menaruh harapan besar kepada Presiden Joko Widodo mengenai masalah Maluku Selatan. Mereka kini lebih mau persuasif soal otonomi khusus seperti yang diberikan RI kepada Aceh.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
Artikel Lanjutan
DarkLight