R.M Dahlan, Kisah Sersan Mayor KNIL Yang Ingin Jadi Kapten Lagi

Oleh: Petrik Matanasi - 21 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dahlan ingin jadi Kapten lagi. Tapi yang terjadi padanya nyaris selalu: sekali Sersan Mayor tetap Sersan Mayor.
tirto.id - Raden Mochamaddahlan (sebut saja Dahlan) adalah eks Sersan Mayor di Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Hidup seorang sersan KNIL tergolong lumayan baik di era kolonial yang mereka sebut zaman normal. Gaji mereka di atas 60 gulden tiap bulannya, dapat jatah rumah dinas, urusan kesehatan tak perlu dipusingkan. Hidup mereka susah setelah bala tentara Jepang masuk ke Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Dahlan kena sihir semangat revolusi dan ingin berjuang juga. Sejak Oktober 1945, Dahlan bergabung dengan tentara Republik—yang semula bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR); Tentara Republik Indonesia (TRI); hingga ke Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dalam tentara Republik, Dahlan diberi pangkat Kapten.

Pangkat itu layak untuknya, karena dia punya pengalaman di KNIL. Pada 1945, Republik kekurangan orang-orang yang ahli di bidang kemiliteran. Tak heran banyak bekas sersan KNIL atau perwira PETA bisa jadi komandan brigade dalam pasukan infanteri. Sementara itu, di bidang peralatan sangatlah sedikit tenaga ahlinya. Orang macam Dahlan pun akhirnya ditarik.

Kawan-kawan Dahlan banyak yang kembali berdinas KNIL—yang bangkit lagi setelah keok pada Maret 1942. Dahlan tahu kawan-kawan lamanya itu dapat kemewahan dan kedudukan bagus setelah kembali dinas di KNIL. Ada yang pangkatnya mencapai Onderluitenant (kira-kira setara Pembantu Letnan di TNI). Dahlan tidak ambil pusing dengan nasibnya sebagai Kapten TNI yang gajinya kalah jauh dari kawan-kawannya itu.

Sebagai Kapten, tugas Dahlan jadi kepala di bagian-bagian non tempur di TNI. “Masa bekerja dari Oktober 1945 sampai dengan 19 Desember 1948 diserahi tugas: Kepala Keuangan, Anggota Akuntansi, Kepala Pergudangan dan pengawas kantin pusat, Anggota urusan Reglementing, kepala Inspeksi Divisi III, Kepala Koordinasi Perlengkapan Daerah, Kepala Registrasi Gudang-gudang Perlengkapan Pusat dan juga sebagai guru dari Officiercursus (kursus perwira) Intendabce,” tulis Dahlan dalam suratnya Kepala Staf APRI tanggal 7 Agustus 1950 (Koleksi ANRI: Republik Indonesia Serikat No. 129). Dalam suratnya itu, Dahlan juga bercerita bagaimana dia kemudian masuk lagi ke KNIL.

Sebelum tentara Belanda melaksanakan Operasi Gagak pada 19 Desember 1948—dalam usaha pendudukan Ibukota RI—yang rangkaiannya lalu dikenal pihak Indonesia sebagai Agresi Militer Belanda II, Dahlan berada di Yogyakarta. Suatu hari, sebelum Belanda datang, semua anggota Jawatan Perlengkapan Pusat di Tugu 99 Yogyakarta dari Kementerian Pertahanan dikumpulkan dalam sebuah rapat. Termasuk dirinya. Mayor Sutrisno Sudomo, kepala jawatan, memberi arahan dalam rapat itu.

Intinya, kata Dahlan, “jika terjadi penyerbuan musuh di Jogja (Yogyakarta), tidak dapat semua anggota perlengkapan turut dalam staf mobil. Mereka dianggap tak bisa bertindak luwes. Masih kata Dahlan, anggota jawatan diberi pilihan masing-masing untuk meneruskan perjuangan. Untuk itu mereka bahkan diperbolehkan (pura-pura) bekerja kepada tentara Belanda.


“Sesuatu jalan yang produktif untuk diri saya ialah bekerja di kalangan musuh karena saya seorang eks Sersan Mayor KNIL dengan maksud mengerjakan gerakan bawah tanah,” aku Dahlan. Sepengakuan Dahlan, Kapten RM Nurhadi tahu hal itu.

Setelah Yogyakarta diduduki Belanda. Dahlan mendekati satuan zeni militer Belanda. Dia dicurigai dan kemudian bekerja di LTD 717. Dahlan akhirnya masuk juga di KNIL di bagian Peralatan. Jabatannya adalah Magazijnmeester Intendance, pangkatnya Sersan Mayor. Dahlan mengaku tidak ditempatkan di batalyon infanteri KNIL yang berhadapan langsung dengan pihak Republik. Dahlan yang suku Jawa tak dimasukan ke dalam Batalyon Infanteri KNIL XXIV di Sukabumi. Di masa-masa akhir dinasnya di KNIL, Dahlan ditempatkan di Bandung.

Setelah satu setengah tahun di KNIL untuk kedua kalinya, pada 7 Agustus 1950, Dahlan masuk APRIS. Bersama TNI lagi. Namun dengan patokan pangkat ketika terakhir di KNIL, Sersan Mayor lagi. Itu kenapa Dahlan yang berkeberatan dengan pangkatnya itu lalu tulis surat kepada Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), yang kala itu dijabat Kolonel Tahi Bonar Simatupang—yang juga mantan zeni KNIL.

Infografik nasib bekas KNIL yang masuk TNI pada 1950
Infografik nasib bekas KNIL yang masuk TNI pada 1950


Dahlan keberatan karena dia tahu, ada mantan anggota KNIL yang selalu lawan rakyat Indonesia dan belum pernah sumbang tenaga untuk Republik bahkan ada yang sudah jadi perwira TNI. Ini adalah hal biasa.

Di masa itu, seorang bekas Letnan KNIL jika masuk TNI bisa jadi Kapten TNI. Contohnya Josef Muskita. Bahkan seorang bekas Sersan KNIL bernama Klees, awali karir di TNI dengan pangkat Kapten juga. Dalam operasi penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS) pada 1950, Klees adalah komandan pasukan lapis baja TNI, dan Muskita jadi perwira operasi yang cukup diandalkan. Banyak mantan KNIL diakui kemampuan militernya. Alasan pangkat mereka dinaikkan, menurut beberapa kalangan, terkait usaha menjaga kesejahteraan mereka.


Masuk TNI adalah pilihan sulit. seorang Kopral Kaveleri KNIL Manado bernama Korro—dalam Seri laporan Jawatan Kepolisian Negara bagian PAM, Juli 1950—menyebut: gajinya tidak lebih tinggi ketika di KNIL.

Selain itu, ada provokasi dari kaum pro Belanda garis keras yang mengolok KNIL yang hendak jadi TNI. Selain itu ada semacam pendapat bahwa eks KNIL akan sulit diterima karena mereka bekas musuh, dan bukan tidak mungkin keturunan mereka akan dicap sebagai pengkhianat.

Tapi apa daya, KNIL hendak dibubarkan pada akhir Juli 1950 untuk selama-lamanya. Sementara itu banyak dari mereka tak ingin dibawa ke Negeri Belanda. Kopral Korro, yang pernah sekolah di Tondano, itu sendiri termasuk yang ingin masuk TNI. Dahlan paling tidak ingin kembali ke pangkat lamanya di TNI, Kapten. Waktu dia masuk lagi ke KNIL saja, dia dikembalikan ke pangkat lamanya, Sersan Mayor. Baginya, sudah seharusnya ketika masuk lagi ke TNI Dahlan seharusnya kembali jadi Kapten lagi.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono