Rizieq Ajukan Syarat Rekonsiliasi Pembebasan Bahar Smith & Ba'asyir

Oleh: Andrian Pratama Taher - 12 November 2020
Dibaca Normal 1 menit
Rizieq Shihab menyampaikan kembali keinginan rekonsiliasi dengan pemerintah dengan syarat. Termasuk pembebasan Ba'asyir, Bahar hingga Jumhur.
tirto.id - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab menyampaikan sejumlah syarat dalam wacana rekonsiliasi dengan pemerintah. Salah satu yang diajukan adalah membebaskan tokoh nasional seperti Abu Bakar Ba'asyir, Bahar bin Smith hingga pentolan KAMI Jumhur Hidayat.

Dalam video yang ditayangkan Front TV, media afiliasi FPI, Rizieq menyampaikan kembali keinginan untuk rekonsiliasi. Ia menegaskan para pendukung hingga simpatisan Rizieq bersedia untuk rekonsiliasi selama memenuhi sejumlah syarat.

Pertama, mereka ingin ada dialog dan tidak ada upaya kriminalisasi. "Dialog itu penting. Nggak boleh penguasa itu main tangkap kanan, tangkap kiri. Kriminalisasi, saudara," kata Rizieq dalam video tersebut sebagaimana dilihat, Rabu (12/11/2020).

Rizieq lantas menyebut pengkritik sebagai pihak yang hanya berbeda pendapat. Perbedaan pendapat, kata Rizieq, justru menguntungkan pemerintah. Ia menilai pemerintah seharusnya bisa menggunakan kritik tersebut jika memang baik bagi Indonesia.

"Pelajari kalau solusi itu baik, terima, jalankan. Kalau tidak baik saudara sampaikan di mana tidak baiknya. Selesai. Tidak perlu ada kegaduhan di tingkat nasional," kata Rizieq.

Rizieq lantas curhat soal upaya mereka untuk rekonsiliasi dalam konflik Pilkada 2017. Hal itu diungkapkan saat aksi 212 yang digelar di Masjid Istiqlal. Namun, Rizieq mengklaim, "Jawaban yang kami terima bukan pintu dialog yang dibuka, bukan rekonsiliasi yang dijalankan justru yang kami dapatkan kriminalisasi ulama."

Kini, Rizieq kembali menyerukan rekonsiliasi. Akan tetapi, mereka ingin para ulama, habaib hingga tokoh nasional dibebaskan.

"Bebaskan ustaz Abu Bakar Baasyir yang sudah sepuh, bebaskan Habib Bahar bin Smith, bebaskan doktor Syahganda Nainggolan, bebaskan Bapak Anton Permana, bebaskan Bapak Jumhur Hidayat. Bebaskan dulu ya, bebaskan mereka, bebaskan para buruh, bebaskan para mahasiswa, bebaskan para pendemo," kata Rizieq.

"Tunjukkan niat baik, tunjukkan ada keinginan yang baik saudara. Nah kalau Anda tunjukkan ada niat baik, itikad yang bagus sudah kami sambut. Kita gak perlu ribut," tutur Rizieq.

Sebagai catatan, FPI di bawah komando Rizieq Shihab merupakan salah satu pihak yang dipandang sebagai antipemerintah pada masa periode pertama Presiden Jokowi. Kala itu, Rizieq menjadi motor untuk menjebloskan Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI Jakarta yang juga pasangan Jokowi saat memimpin DKI Jakarta, ke penjara akibat ujaran penistaan agama.

Setelah Ahok ---sapaan Basuki-- dipenjara, Rizieq mengklaim lantas hijrah ke Arab Saudi karena disebut-sebut akan dibunuh. Rizieq lantas tinggal selama 3,5 tahun di Arab Saudi sekaligus menggalang kekuatan untuk mengkritik Jokowi selama periode pertama.

Ia pun menginstruksikan beberapa pengikut untuk menjadi bagian tim pemenangan Prabowo-Sandi, pasangan calon presiden dan wakil presiden saat Pemilu 2019.

Meski berseberangan selama periode pertama, Rizieq, lewat para pengikutnya pernah membuka jalur komunikasi dengan Presiden Jokowi. Salah satunya adalah pertemuan petinggi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U atau dulu disebut GNPF-MUI/Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia) pada Juni 2017.


Baca juga artikel terkait RIZIEQ SHIHAB atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz
DarkLight