Risiko Terlalu Mencemaskan Penampilan Diri

Oleh: Sirojul Khafid - 5 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Meskipun kurangnya bukti konklusif, banyak anak muda masih percaya menjadi sukses berarti harus menarik.
tirto.id - Pergantian tahun menjadi momentum berharap pencapaian baru, atau istilah yang sering digunakan, resolusi. Pencapaian ini bermacam-macam, mulai dari resolusi di dunia pendidikan semisal menyelesaikan skripsi, dalam dunia kerja seperti naik jabatan, atau dalam hal diri sendiri menurunkan berat badan misalnya.

Menurunkan berat badan atau diet erat kaitannya dengan meningkatkan penampilan diri. Hal tersebut mengarah pada harapan, dengan meningkatkan penampilan diri, hubungan sosial akan lebih baik, hal percintaan, pekerjaan dan kesejahteraan diri. Pertanyaannya, apakah meningkatkan penampilan diri memiliki garis lurus dengan hubungan sosial atau karir yang juga semakin baik?

Heather Widdows, penulis buku “Perfect Me: Beauty as an Ethical Ideal” dalam Psikologi Today, menuliskan bahwa terlalu banyak mencurahkan perhatian pada penampilan dapat merusak harga diri seseorang. Ketidakpuasan dan kecemasan terhadap tubuh semakin meningkat dan menjadi suatu masalah kesehatan masyarakat. Ketidakpuasan terhadap tubuh menjadi kerugian yang besar. Dampaknya berupa kesejahteraan yang menurun, gangguan makan, aktivitas yang lebih rendah, perilaku berisiko, serta masalah kesehatan mental dan fisik.

Orang yang belum pernah didiagnosis terkait ketidakpuasan tubuh pun akan tahu, bahwa terlalu khawatir tentang menarik tidaknya penampilannya, sadar bahwa dia tidak mampu bekerja dengan baik. Padahal penilaian tampan atau cantik oleh orang lain tidak berkorelasi dengan kebahagiaan. Meskipun kurangnya bukti konklusif, banyak anak muda masih percaya menjadi sukses berarti harus menarik. Beberapa wanita muda lebih suka kurus daripada pintar.


Studi YMCA, lembaga independen dalam hal kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang terkemuka di Inggris, mengungkapkan bahwa hal terkait citra tubuh menempati urutan ketiga sebagai penyebab terbesar kerusakan pada kaum muda di Inggris. Di urutan pertama dan kedua yaitu gagal untuk berhasil dalam sistem pendidikan dan kurangnya kesempatan kerja.

Lembaga yang sudah berdiri sejak 200 tahun lalu ini menuliskan, “Hasil laporan kami menarik dan informatif, dan kami berharap mereka akan menyediakan beberapa bahan yang sangat dibutuhkan untuk dipikirkan oleh para pembuat kebijakan, dan mereka yang bekerja dengan orang-orang muda di seluruh Inggris.”

Girls Attitudes Survey dari Girl Guiding melaporkan penelitian dalam rentang tahun 2009 sampai dengan 2019. Penelitian itu menuliskan ada kecenderungan kelompok usia muda lebih bahagia dengan penampilan mereka dan lebih positif secara umum. Akan tetapi anak perempuan terus merasa tidak bahagia dengan penampilan mereka seiring bertambahnya usia.

Badan amal untuk anak perempuan dan perempuan muda terkemuka di Inggris tersebut menuliskan, “Menjadi tidak senang dengan penampilan mereka dapat memiliki konsekuensi besar bagi kesejahteraan anak perempuan, hubungan, dan kemampuan untuk menikmati diri mereka sendiri—tidak menyukai olahraga atau merasa cemas dalam wawancara kerja. Hasil survei ini bisa mencerminkan tekanan gadis-gadis untuk memenuhi harapan kesempurnaan.”

Harapan bahwa meningkatkan penampilan tubuh akan meningkatkan kualitas hubungan sosial tentu bukan hal salah. Namun kita sadar betul bahwa seiring bertambahnya usia, setiap orang pada akhirnya akan tua, keriput, dan membusuk.

Heather Widdows, Ph.D., Professor of Global Ethics dari Department of Philosophy and Deputy Pro-Vice-Chancellor for Research (Impact) di The University of Birmingham, menuliskan bahwa dalam budaya visual dan virtual, penampilan tidak bisa dihindarkan. Tetapi apakah hal itu yang paling berarti? Ada banyak cita-cita lain untuk dijalani—menjadi lebih baik, lebih kreatif, lebih berpengetahuan, lebih jujur. Penampilan bukanlah ukuran terbaik tentang siapa kita. Jadi sebelum kita memutuskan untuk diet, kita sepertinya perlu memikirkan artinya menjadi "diri terbaik" kita.


Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Sirojul Khafid
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Sirojul Khafid
Penulis: Sirojul Khafid
Editor: Ibnu Azis
DarkLight