Risiko Penyebaran Covid-19 di Libur Panjang Oktober & Pencegahannya

Oleh: Addi M Idhom - 23 Oktober 2020
Dibaca Normal 4 menit
Libur panjang bulan Oktober 2020 berisiko meningkatkan jumlah kasus penularan Covid-19. Semua pihak perlu melakukan langkah antisipasi.
tirto.id - Update data kasus Covid-19 pada hari ini, Jumat, 23 Oktober 2020, menunjukan ada penambahan 4.369 pasien baru dalam sehari terakhir. Penambahan tersebut membuat total jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia menjadi 381.910 orang, dengan angka kematian pasien 13.077 jiwa.

Meski begitu, data Satgas Penanganan Covid-19 juga memperlihatkan, angka kesembuhan pasien positif terinfeksi virus corona di tanah air bertambah 4.094 dalam sehari terakhir, sehingga jumlah totalnya menjadi 305.100 orang. Jumlah ini setara 79,9 persen dari keseluruhan kasus positif.

Sementara angka kasus aktif (pasien Covid-19 yang masih dirawat atau menjalani isolasi), sampai hari ini sebanyak 63.733. Angka tersebut setara dengan 16,7 persen dari total kasus positif yang sudah terdeteksi di Indonesia selama pandemi berlangsung.

Persentase kasus aktif secara nasional di Indonesia itu lebih rendah dari persentase kasus aktif di level dunia, yang masih mencapai 21,9 persen (data per 22 Oktober 2020). Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Profesor Wiku Adisasmito mengatakan persentase kasus aktif bulan ini juga mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode September 2020 (23,74 persen).


Libur Bulan Oktober 2020 & Potensi Penyebaran Covid-19

Di sisi lain, Satgas kini sedang berupaya mengantisipasi risiko peningkatan angka kasus penularan Covid-19. Masa libur dan cuti bersama pada akhir bulan yang sepanjang lima hari, yakni sejak 28 Oktober hingga 1 November 2020, dikhawatirkan memicu peningkatan mobilitas masyarakat dan kerumunan yang berpotensi menyebabkan peningkatan jumlah kasus baru.

Potensi peningkatan kasus penularan Covid-19 pada masa libur panjang bulan Oktober 2020 perlu diwaspadai oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang hendak bepergian untuk berlibur maupun pulang kampung.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo mengingatkan bahwa ada pelajaran penting yang perlu dicermati dari masa libur panjang sebelumnya pada tahun ini.

Menurut Doni, saat libur panjang Lebaran 2020, pemerintah mengajak masyarakat menahan diri agar tidak mudik. Dampaknya, meski terdapat penambahan kasus Covid-19 setelah libur lebaran 2020, ekskalasinya masih bisa ditekan. Namun, tambah Doni, pelonggaran di masa libur Idul Adha pada akhir Juli dan Agustus 2020 membawa dampak yang mengkhawatirkan.

"Karena pelonggaran itu, terjadi peningkatan kasus," kata Doni dalam talkshow di Media Center Satgas Penanganan Covid-19, Graha BNPB Jakarta, pada Rabu lalu (21/10/2020), yang disiarkan akun Youtube BNPB.


Lonjakan angka pasien baru pada September 2020 membuat peningkatan jumlah kasus aktif dan pemakaian sarana perawatan pasien Covid-19 di banyak rumah sakit, terutama di Jakarta. Konteks ini lantas mendorong Pemprov DKI Jakarta memperketat aturan PSBB, dari semula PSBB transisi.

Pada periode yang sama, sejumlah langkah untuk mendorong penurunan kasus serta penambahan fasilitas kesehatan digencarkan oleh Satgas dan Kementerian Kesehatan.

Hasil upaya tersebut, kata Doni, sudah terlihat. Hingga 21 Oktober 2020, ketersediaan ruang ICU untuk pasien Covid-19 sudah meningkat lebih 20 persen dibanding awal September lalu. "Jumlah kasus aktif juga mengalami penurunan," ujar dia.

Dia mencatat jumlah kasus aktif, atau pasien Covid-19 yang harus dirawat, menurun 6,79 persen pada periode 20 September sampai 21 Oktober 2020. Peningkatan pun terjadi di data kesembuhan pasien Covid-19, yakni dari 72,5 persen pada 20 September menjadi 79,63 persen per 20 Oktober.


Namun, Doni menegaskan semua pihak tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Sebab, penurunan kewaspadaan bisa segera membalik situasi, dari terkendali menjadi tidak terkontrol.

Dia memberi contoh, setelah libur panjang Agustus 2020, muncul situasi yang mengkhawatirkan. Salah satunya adalah angka kematian dokter akibat Covid-19 selama periode Juli-September yang mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

"Ketika kasus positif meningkat dan pasien rumah sakit bertambah, secara pararel angka kematian dokter pun bertambah," kata Doni.

"Karenanya, cuti kali ini [libur panjang akhir Oktober 2020] jangan sampai menimbulkan masalah baru."

Kata Doni, masa libur panjang akhir Oktober 2020 kemungkinan besar meningkatkan angka kasus penularan Covid-19 apabila tidak diantisipasi dengan baik. Sebab, ia memprediksi, masa libur yang lumayan lama itu akan dimanfaatkan banyak warga untuk melakukan perjalanan dan berwisata.

Oleh sebab itu, Doni mengimbau masyarakat terus mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker; menjaga jarak dengan orang lain minimal 2 meter; menjauhi kerumunan; sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

"Jangan lupa berdoa, selalu bergembira, olahraga, serta mengonsumsi makanan yang memberikan nutrisi untuk meningkatkan daya tahan tubuh," tambahnya.


Selain itu, kata Doni, perlu ada kerja sama erat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Menurutnya, Kemendagri akan menerbitkan surat edaran untuk meminta semua gubernur supaya mencegah adanya kerumunan di tempat-tempat wisata dan hiburan. Para pelaku usaha pengelola tempat hiburan dan wisata juga diminta mematuhi surat edaran Mendagri dan kepala daerah.

Untuk tempat wisata, ia memberi contoh, tidak boleh menerima pengunjung lebih dari 50 persen kapasitas yang normal, agar tidak memicu kerumunan. Ia optimistis, dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, angka penularan Covid-19 bisa ditekan pada masa libur panjang bulan ini.

Dalam acara talkshow yang sama, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga memperkirakan akan ada peningkatan mobilitas masyarakat yang hendak berlibur pada masa libur panjang akhir Oktober 2020. Prediksinya, angka penumpang trasportasi umum naik sekitar 20 persen lebih.

Dia bilang, selama ini protokol kesehatan yang ketat, seperti pembatasan jumlah penumpang dan keharusan memakai masker, sudah diterapkan di kereta, bus, hingga pesawat.

Sementara demi mencegah kemunculan kerumunan saat ada lonjakan penumpang, Budi meminta operator transportasi untuk menambah jumlah keberangkatan.

"Saya wanti-wanti agar menambah flight di udara, kereta dan bus," kata Budi. "Mereka [operator] punya cadangan untuk menambah."


Tips Menghindari Penularan Covid-19 saat Libur Panjang

Karena risiko penularan Covid-19 masih tinggi, masyarakat sebaiknya tidak melakukan perjalanan ke luar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Kunjungan ke tempat-tempat kerumunan orang selama libur panjang, juga sangat dianjurkan untuk dihindari.

Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19, Dewi Nur Aisyah sudah menyebutkan sejumlah aktivitas selama libur yang berisiko tinggi memicu penularan virus corona (Sars-CoV-2).

Dia menyarankan masyarakat untuk menghindari, setidaknya lima aktivitas berisiko tinggi sebagai berikut:

  • Bepergian ke tempat kerumunan, atau tempat wisata ramai pengunjung
  • Pergi berbelanja di toko yang ramai pengunjung saat libur panjang
  • Ikut pertemuan atau acara dalam ruangan yang ramai pengunjung
  • Menghadiri parade, festival, atau acara berkumpul yang ramai dengan orang
  • Mengadakan pesta makan malam dengan sejumlah orang dari rumah tangga berbeda, yang berasal dari wilayah yang berbeda pula.

Dewi pun menyarankan agar masyarakat yang bepergian untuk belanja maupun ke tempat wisata, memastikan dulu apakah pengelola menerapkan protokol kesehatan secara benar, serta tidak ada banyak pengunjung di lokasi tujuan.

"Jika ramai pengunjung, lebih baik hindari. Jangan lupa, bawa hand sanitizer untuk membersihkan tangan usai menyentuh barang-barang," ujar Dewi dalam talkshow Antisipasi Penyebaran Covid-19 Saat Liburan yang disiarkan akun Youtube BNPB, pada 22 Oktober 2020.

"Sebaiknya, pilih tempat wisata outdoor yang luas, bukan indoor. Dan jangan sampai mengunjungi tempat wisata yang ramai pengunjung dan kerumunan orang," kata dia.


Selain itu, Dewi mengingatkan, ada sejumlah tempat yang perlu diwaspadai selama libur panjang pada akhir bulan Oktober 2020. Sebab, sejumlah tempat itu berpotensi menjadi lokasi kerumunan orang.

Apalagi, masa libur tersebut bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, kegiatan Pilkada 2020, dan musim hujan yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.

Tempat-tempat itu ialah: lokasi wisata; tempat ibadah atau kegiatan keagamaan; kegiatan terkait pilkada; rumah tempat kunjungan kerabat dari wilayah lain; pusat perbelanjaan; pasar tradisional; sarana transportasi umum; tempat kerumunan pengungsi bencana alam.

Selain melakukan langkah antisipasi seperti disarankan di atas, masyarakat juga perlu berdisiplin menerapkan protokol kesehatan berupa: mengenakan masker dengan benar; menjaga jarak fisik dengan orang lain minimal 2 meter; menjauhi kerumunan; dan sering mencuci tangan.

-----------------

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Baca juga artikel terkait KAMPANYE COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight