Menuju konten utama

Risiko & Bahaya Pemberian Susu Kental Manis (SKM) pada Anak Balita

Pemberian susu yang direkomendasikan untuk bayi adalah ASI atau ASI donor yang telah terbukti aman atau susu formula bayi.

Risiko & Bahaya Pemberian Susu Kental Manis (SKM) pada Anak Balita
Ilustrasi susu kental Manis. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - Perkara susu kental manis (SKM) terkait kesehatan anak masih terus menjadi dilema orangtua. Selama ini ada yang menganggap SKM adalah minuman yang direkomendasikan untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak, hingga anggapan itu dikritik.

Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Dodik Briawan, mengatakan kadar gula dalam susu kental manis (SKM) tidak cocok dikonsumsi oleh anak-anak secara rutin.

Kandungan isi 'susu' kental manis sendiri jauh dari susu sebenarnya. Setiap satu sendok makan kental manis mengandung 2-5,5 g lemak jenuh, yang memiliki dampak negatif bagi kesehatan kardiovaskular. Sedangkan protein hanya sebesar 1,5 g, lalu 54 mg kalsium, 36 mg potasium, 5 mg magnesium, 56 IU vitamin A, dan sejumlah kecil vitamin serta mineral lainnya dalam satu sendok makan.

SKM dianggap bukan susu yang baik untuk mendukung pertumbuhan karena mengandung kadar gula tinggi. Kerap kali, gula menjadi faktor kenaikan berat badan, sehingga SKM pun dianggap berpotensi menyebabkan obesitas.

Susu Kental Manis Sebabkan Obesitas?

Terkait pola makan, obesitas dapat terjadi karena konsumsi lemak dan karbohidrat yang terlalu tinggi setiap harinya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan mendefinisikan susu kental manis sebagai produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu, atau merupakan hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain. Susu kental manis bukan produk steril. Pengawetannya tergantung pada kandungan gulanya yang tinggi.

IDAI menulis, SKM sebaiknya tidak dikonsumsi oleh balita. Orangtua harus pintar memilah dan harus terlebih dahulu melihat kandungan nutrisi setiap porsinya.

Contohnya salah satu jenis susu kental manis yang dijual secara komersil menuliskan dalam satu takar porsi (4 sendok makan) memasok 130kkal, dengan komposisi gula tambahan 19 gram dan protein 1 gram. Jika dikonversikan dalam kalori, 19gram gula sama dengan 76kkal. Kandungan gula dalam 1 porsi susu kental manis tersebut lebih dari 50% total kalorinya.

"Jauh melebihi nilai rekomendasi gula tambahan yang dikeluarkan oleh WHO," tulis IDAI.

IDAI juga menegaskan, pemberian susu yang direkomendasikan untuk bayi adalah ASI atau ASI donor yang telah terbukti aman atau susu formula bayi. Sedangkan jika berusia di atas 1 tahun, selain ASI dapat mengonsumsi susu sapi yang sudah dipasteurisasi atau UHT atau susu formula pertumbuhan.

"Untuk pemberian susu selain ASI sendiri sebaiknya berkonsultasi kepada dokter spesialis anak," tulisnya.

Soal keterkaitan SKM dan obesitas, Laureane N. Masi membahasnya dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun ini. Ia membandingkan 6 mencit yang diberi susu tinggi lemak, susu kental manis, dan susu kental tidak manis. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa dibandingkan susu jenis lain, susu kental manis cenderung meningkatkan insulin lebih tinggi, selain berpotensi meningkatkan berat badan.

Maka, orang sedang dalam program diet rendah karbohidrat tidak disarankan mengkonsumsi SKM, selain menghindari makanan penuh karbohidrat lain seperti nasi.

Jika melihat angka kecukupan gizi setiap harinya, SKM memang sebaiknya tak sering-sering dikonsumsi. Hal ini penting untuk mempertahankan kadar gula darah. Ingat, selain ada dalam susu SKM, karbohidrat juga didapat dari makanan pokok seperti nasi dan penganan lain.

Baca juga artikel terkait SUSU KENTAL MANIS atau tulisan lainnya dari Yulaika Ramadhani

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH