RI Perlu Punya Ladang Padi di Kamboja dan Peternakan di Australia

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 20 Agustus 2019
Dibaca Normal 1 menit
Usulan memilih Myanmar dan Kamboja dilatarbelakangi biaya investasi yang cukup terjangkau untuk membuka ladang padi. Selain itu, investasi daging juga bisa dilakukan di Australia.
tirto.id - Menteri Keuangan Indonesia Periode 2013-2014, Chatib Basri mengusulkan agar Indonesia berinvestasi membangun ladang padi di Kamboja dan Myanmar.

Menurut Chatib, kebutuhan pangan di Indonesia belum bisa dilepaskan dari impor.

Namun, ia menyatakan tidak selalu impor harus dilakukan dari negara yang biasa menjadi langganan Indonesia.

Sebaliknya, ia menilai kebutuhan pangan Indonesia bisa dicukupi dengan memiliki ladang atau perusahaan di luar negeri meskipun cara masuknya tetap impor.

"Namanya kan self sufficient [swasembada]. Kan gak harus dibikin dalam negeri. Bisa dimiliki orang Indonesia. Cina batu bara gak di sana, tapi ada di Indonesia. Kita bisa untuk food security. Perusahaan kita di Kamboja dan Myanmar. Setiap kali kita butuh impor, kita impor dari perusahaan kita. Itu milik kita," ucap Chatib kepada wartawan saat ditemui di Auditorium Kementerian Perdagangan (Kemendag), Selasa (20/8/2019).


Chatib juga menyatakan usulan memilih Myanmar dan Kamboja dilatarbelakangi biaya investasi yang cukup terjangkau untuk dilakukan.

Menurut dia, dengan keadaan itu, pemerintah seharusnya tidak banyak menemui hambatan bila ingin memiliki perusahaan di sana. BUMN dan perusahaan swasta disebut dapat mengerjakannya.

Ia juga mengatakan bila keduanya membuka perusahaan di luar negeri, Indonesia tetap mendapat pemasukan lewat dividen dari BUMN hingga pajak dari swasta.

"Total konsolidasinya itu jadi milik kita. Anda bisa self sufficient tetapi Anda bisa impor," ucap Chatib.

Chatib juga mengusulkan bagi importasi daging sapi. Polanya seperti usul ladang padi.

Ia menyebut, pemerintah perlu membeli perusahaan di Australia agar impor daging Indonesia tidak melulu mengandalkan perusahaan asing.

"Dari pada gak selesai-selesai, beli aja perusahaan sapinya dengan kepemilikan 50 persen punya kita. Nanti ditanya impornya dari mana? Ya impornya dari Indonesia juga," ucap Chatib.


Baca juga artikel terkait HARD NEWS atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Zakki Amali
DarkLight