RI 3 Bulan Berturut-turut Deflasi, Terburuk Sejak Tahun 1999

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 1 Oktober 2020
Dibaca Normal 1 menit
Dari sisi pasokan cukup, tapi dari sisi permintaan melemah, yang merefleksikan rendahnya daya beli masyarakat.
tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada September 2020, terjadi deflasi senilai 0,05 persen secara month to month (mtom). Deflasi ini melanjutkan deflasi yang sudah terjadi 2 bulan berturut-turut sejak Juli 2020.

“Juli 2020 deflasi 0,1 persen mtom. Agustus 2020 deflasi 0,05 persen mtom. Kembali terjadi lagi di September deflasi 0,05 persen mtom,” ucap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Kamis (1/10/2020).

Deflasi berturut-turut pernah terjadi pada tahun 1999. Ketika itu, terjadi deflasi selama 7 bulan, dari Maret hingga September.

Suhariyanto mengatakan deflasi ini dialami 56 kota dari total 96 kota IHK yang dipantau oleh BPS. Sisanya 34 kota tercatat masih mengalami inflasi.

Secara year on year (yoy) bulan September 2020 masih mengalami inflasi 1,42 persen. Suhariyanto mengatakan angka ini masih naik dari Agustus 2020 yang mencapai 1,32 persen yoy. Namun, dibandingkan September 2019, inflasi periode ini masih jauh lebih rendah.

Jika dirinci, penyebab deflasi paling banyak disebabkan oleh komponen harga bergejolak. Komponen ini mengalami deflasi cukup dalam di angka 0,6 persen dengan andil deflasi 0,1 persen. Penyebabnya adalah turunnya berbagai harga komoditas secara signifikan.

Sementara itu, harga diatur pemerintah juga mengalami deflasi 0,19 persen. Andil deflasinya 0,03 persen. Salah satu penyumbangnya adalah penurunann harga tiket pesawat.

Terakhir inflasi inti pada September 2020 mencapai angka 0,13 persen. Andil inflasinya 0,08 persen mtom.

Secara yoy, inflasi inti September 2020 terus mengalami penurunan sejak Maret 2020. Pada September 2020 angkanya 1,86 persen yoy lebih rendah dari inflasi inti 2019 yang mencapai 3,32 persen yoy.

“Jadi melihat angka ini bisa disimpulkan bahwa pada September 2020, terjadi deflasi sebesar 0,05 persen. Dari sisi pasokan cukup tapi dari sisi permintaan, tampaknya daya beli masyarakat masih rendah,” ucap Suhariyanto.

Suhariyanto juga menyebut, untuk inflasi inti, ini merupakan yang terendah sejak tahun 2004, atau sejak BPS dan BI pertama kalinya menghitung inflasi inti.


Baca juga artikel terkait DEFLASI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight