Kronik Ramadan

Revolusi Bani Abbasiyah Menggusur Kuasa Bani Umayyah

Oleh: Muhammad Iqbal - 30 Mei 2018
Dibaca Normal 3 menit
Revolusi bani Abbasiyah berhasil menggulingkan kekuasaan bani Umayyah dan menjadi dinasti kedua yang menguasai kekhalifahan Islam.
tirto.id - Bani Abbasiyah mendapatkan namanya dari paman Nabi Muhammad, Abbas, yang menjadi kepala keluarga klan itu. Mereka bermukim di sebelah timur sungai Yordan setelah penaklukan Suriah dan secara umum menjauhkan diri dari politik saat perang saudara berkecamuk pada 600-an Masehi.

Namun, pada awal 700-an, menurut Tayeb El-Hibri dalam Parable and Politics in Early Islamic History: The Rashidun Caliphs (2010), mereka mulai mengembuskan rumor bahwa salah satu keturunan Ali bin Abu Thalib secara resmi telah memindahkan hak kekuasaan kepada Bani Abbasiyah. Mengapa mereka melakukannya atau apakah memang itu terjadi, masih merupakan misteri. Dari perspektif praktis, ini memberikan legitimasi kepada Bani Abbasiyah (hlm. 207).

Mereka tidak hanya lebih dekat hubungannya dengan Rasulullah SAW ketimbang Bani Umayyah, tetapi juga menegakkan keinginan kalangan yang mendukung keturunan Ali sebagai pemimpin dunia Islam. Dari wilayah basis di selatan Suriah dan Irak, mereka mengirim wakil-wakil ke Khurasan pada bulan suci Ramadan, 129 Hijriah. Di sana, penduduk Persia dapat digerakkan untuk mendukung dan mendeklarasikan pemberontakan melawan Bani Umayyah yang menindas (hlm. 208).

Sepanjang 730-an dan 740-an, diucapkanlah sumpah setia jaringan sekutu yang jauh dari basis Bani Umayyah di Damaskus. Bani Abbasiyah memberikan janji masyarakat yang lebih setara di bawah kekhalifahannya dan secara samar menjamin keturunan Ali akan memainkan peranan lebih besar dalam pemerintahan Islam, sesuai keinginan banyak Muslim di bagian timur kekhalifahan.

Dengan demikian, Bani Abbasiyyah mampu mengamankan dukungan berbagai kalangan masyarakat. Sokongan datang antara lain dari ahli ibadah yang ingin menyaksikan pemerintah yang lebih mengikuti teladan Nabi. Selain itu, ada kelompok non-Arab Muslim yang marah atas status kelas dua mereka. Terakhir, pengikut setia Ahlulbait yang meyakini bahwa seharusnya kekuasaan menjadi milik keluarga Nabi.

Mengobarkan Revolusi secara Terbuka

Menurut Marshall G.S. Hodgson dalam The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization [Volume 1: The Classical of the Age Islam] (1974), pada 747 M, Bani Abbasiyah secara resmi menyatakan pemberontakan terbuka di kota Merv, yang sekarang masuk wilayah Turkmenistan. Revolusi ini dipimpin tokoh misterius yang dikenal sebagai Abu Muslim (hlm. 244).

Tak banyak yang diketahui tentang Abu Muslim. Tetapi dia memang tidak tampak sebagai anggota keluarga Abbasiyah dan mungkin berasal dari etnis Persia. Di bawah kepemimpinannya, revolusi Bani Abbasiyah dengan cepat bisa mengambil kendali Khurasan, yang segera menjadi basis pergerakan (hlm. 245).

Abu Muslim mengirim pasukan ke arah barat, masuk ke jantung Persia. Di sana, penduduk lokal Muslim bangkit melawan Umayyah dan bergabung dengan semangat revolusioner. Situasi yang awalnya terlihat sebagai ungkapan ketidakpuasan yang tidak berbahaya di Merv, kini mengancam eksistensi Dinasti Umayyah, terutama saat pasukan Abbasiyah ke luar dari Persia dan masuk ke dunia Arab.

Kufa, yang pernah menjadi pusat sentimen anti-Umayyah, mulai bangkit lagi melawan gubernur Umayyah dan mengusirnya saat bendera hitam Abbasiyah tampak di horison timur. Begitu Kufa dibebaskan, pengambilan sumpah setia dapat dilakukan kepada calon khalifah dari Abbasiyah, Abu al-‘Abbas. Revolusi ini punya tujuan jelas, dukungan luas dari seluruh Persia, dan seorang pemimpin untuk menyatukan semuanya. Di setiap tempat, Umayyah berada dalam posisi bertahan saat semakin banyak orang berkumpul mendukung Abbasiyah.

Infografik Kronik Dinasti abbasiyah


Bani Umayyah Terdesak

Sementara itu, upaya membangkitkan pendukung Umayyah ternyata bukan perkara mudah. Sudah beberapa dekade berlalu sejak ancaman nyata terhadap posisi Umayyah mulai muncul, tetapi pejabat pasukan Suriah hanya berdiam diri dan dengan keliru menganggap kekuatan revolusi itu perlahan-lahan akan surut. Saat khalifah Marwan II berhasil mengumpulkan kekuatan Umayyah, Abbasiyah telah mengambil kendali atas sebagian besar Irak.

Hugh Kennedy dalam When Baghdad Ruled the Muslim World: The Rise and Fall of Islam’s Greatest Dynasty (2005) menelatah bahwa pada awal 750 Masehi dalam Perang Zab di Mesopotamia tengah, kekuatan Abbasiyah berhasil memukul mundur penuh pasukan Umayyah. Perlawanan terorganisasi terhadap Abbasiyah secara efektif berakhir setelah perang itu, seiring runtuhnya kendali Umayyah di seluruh dunia Islam. Sejak saat itu, tidak ada lagi penghalang antara Abbasiyah dan ibu kota Umayyah, Damaskus.

Satu demi satu, kota-kota menyerah dan menerima kedaulatan Abbasiyah. Satu per satu anggota keluarga Umayyah diburu dan dihukum mati. Marwan sendiri tertangkap di Mesir, tempat dia gagal mengumpulkan pasukan yang akan memukul mundur Abbasiyah dan mengendalikan Umayyah kembali (hlm. 32-3).

Hanya satu anggota keluarga Umayyah yang berhasil lolos dari revolusi. Menurut W. Montgomery Watt dalam The Majesty that was Islam: The Islamic World, 661-1100 (1974), Abdul Rahman yang masih remaja, anggota keluarga Umayyah yang relatif tidak dikenal, mampu lolos dengan menyamar ke Afrika Utara. Dia dikejar-kejar pasukan Abbasiyah dari Palestina, ke Mesir, sampai Magribi, dan hanya dikawani oleh budak yang pernah bekerja untuk keluarganya. Perjalanan legendarisnya membawa dia sampai ke Andalusia. Di sana dia mendirikan emirat Umayyah, jauh dari jangkauan Abbasiyah yang akan bertahan hampir selama 300 tahun (hlm. 95).

Revolusi Abbasiyah pada pertengahan 700-an itu menghasilkan dinasti kedua dalam sejarah kekhalifahan Islam. Pemberontakan itu didasari gagasan untuk membangun pemerintahan yang lebih sejalan dengan teladan Nabi, menyediakan tempat yang lebih pantas bagi non-Arab dalam masyarakat, dan memberikan sejumlah peran kepemimpinan bagi keturunan Ali.

Janji-janji besar dan idealistis itu memang diperlukan untuk menggalang dukungan para sekutu. Tapi, begitu Abbasiyah berkuasa, realitas kekhalifahan mereka tak seperti yang diharapkan. Revolusi ini tidak serta-merta membuat dunia Islam kembali ke era Khulafaur Rasyidin ketika kesalehan, bukan politik, yang mendikte keputusan khalifah.

Sebaliknya, khalifah Abbasiyah meneruskan tradisi otoritarian yang sama dengan yang mereka cela dari Umayyah. Khalifah tetap menjadi gelar keturunan milik orang-orang Quraisy. Dan mereka yang mendukung keluarga Ali sebagai khalifah ditinggalkan begitu saja tanpa dipenuhi janjinya.

================

Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang peristiwa dalam sejarah Islam dan dunia yang terjadi pada bulan suci kaum Muslim ini. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Kronik Ramadan". Kontributor kami, Muhammad Iqbal, sejarawan dan pengajar IAIN Palangkaraya, mengampu rubrik ini selama satu bulan penuh.

Baca juga artikel terkait RAMADAN atau tulisan menarik lainnya Muhammad Iqbal
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight