Advertorial

Restorasi Ekosistem Riau (RER) Menjaga dan Memulihkan Lingkungan

Oleh: Advertorial - 31 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dalam empat tahun terakhir tak ada kebakaran hutan dan lahan di wilayah RER di Semenanjung Kampar
tirto.id - Jumlah populasi manusia terus bertambah. Menurut World Population Review, per Februari 2019, dengan angka kelahiran 385 ribu per hari tercatat ada sekitar 7,7 miliar manusia di bumi. Namun demikian, pertumbuhan jumlah tersebut berbanding terbalik dengan jumlah pertumbuhan spesies lain di planet ini. Terburuk sepanjang sejarah, United Nations (UN) menyebut 1 juta spesies hewan dan tanaman terancam punah saat ini.

“Rata-rata jumlah spesies di habitat asli daratan menurun sedikitnya 20%, sebagian besar sejak tahun 1900-an,” tulis laporan berjudul Nature’s Dangerous Decline ‘Unprecendented’ : Species Extinction Rates ‘Accelerating’.

Laporan tersebut, yang merupakan rangkuman dari laporan Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), juga menyebut lebih dari 40% spesies amfibi, lebih dari 30% pembentuk terumbu karang, serta lebih dari 1/3 mamalia laut sedang terancam eksistensinya.

"Setidaknya, 680 spesies vertebrata telah didorong menuju kepunahan sejak abad 16 dan lebih dari 9% jenis mamalia yang dipelihara untuk keperluan pangan dan peternakan telah punah pada 2006, dengan, sedikitnya, 1000 keturunan sejenis tengah terancam,” sambung laporan tersebut.

Meski tampak tak berdampak langsung terhadap kehidupan kita, kepunahan spesies-spesies di atas—seperti halnya menyusutnya jumlah varietas tanaman lokal di berbagai belahan dunia—dinilai ilmuwan Jerman Prof. Josef Settele sebagai ancaman langsung terhadap kesejahteraan manusia. Karenanya, dalam sejumlah forum internasional, perwakilan masyarakat dunia kerap menyerukan agar para pembuat keputusan dan pemangku kepentingan di setiap tingkatan turut melestarikan serta memanfaatkan segala bentuk keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

“Keanekaragaman hayati yang sehat merupakan infrastruktur penting yang menopang semua bentuk kehidupan di bumi, tak terkecuali manusia,” kata Director-General UNESCO Audrey Azoulay.

Di Indonesia, salah satu upaya menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati ditunjukkan lewat Restorasi Ekosistem Riau (RER). Pertama kali diluncurkan pada 2013, program restorasi dan konservasi di lahan gambut tersebut terbukti berhasil menjaga sekaligus melindungi habitat penting bagi sejumlah flora dan fauna yang dilindungi.

RER Progress Report 2018 menyebut 759 spesies—atau 42 lebih banyak ketimbang catatan tahun sebelumnya—teridentifikasi tinggal dan hidup di kawasan RER. Rinciannya: 71 spesies mamalia, 304 spesies burung, 107 spesies amfibi dan reptil, 119 spesies pohon, 69 spesies non-pohon, serta dan 89 spesies ikan.

"Sebagian flora dan fauna yang berada di kawasan RER merupakan jenis yang dilindungi, baik secara global maupun nasional. Sebanyak 55 di antaranya masuk dalam daftar Red List IUCN. Berdasarkan data inventarisasi, secara keseluruhan terdapat 6 spesies tergolong kritis, 16 terancam punah, dan 33 lainnya rentan," kata External Affairs Director RER Nyoman Iswarayoga.

RER berkomitmen melindungi, mengkaji, merestorasi, dan mengelola hamparan hutan gambut utuh terbesar di Sumatera, tepatnya di sebagian wilayah Semenanjung Kampar dan Pulau Padang. Luas cakupan kawasan restorasinya mencapai 150.000 hektare, atau setara dengan dua kali luas Singapura.

Pada 2003, kawasan Semenanjung Kampar dinyatakan sebagai Important Bird Area (IBA) atau Kawasan Penting bagi Burung oleh Birdlife International. Kala itu, jumlah burung yang diidentifikasi hanya 128 spesies. Kini, dalam catatan RER, ada 304 spesies yang menggunakan kawasan di Kampar Peninsula sebagai tempat hidup atau persinggahannya. Salah satu spesies yang teridentifikasi adalah burung rangkong badak (Buceros rhinoceros) yang statusnya rentan punah.

Adapun beberapa binatang unik sekaligus ikonik yang berada di kawasan RER antara lain harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), beruang madu (Helarctos malayanus), kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), dan beruk (Macaca nemestrina). Sementara spesies baru yang berhasil terpantau kamera jebak antara lain mentok rimba (Asarcornis scutulata) dan bangau hutan rawa (Ciconia stormi).

Infografik Advertorial RAPP 4
Infografik Keanekaragaman Hayati RER. tirto.id/Mojo


Mendukung SGDs poin ke-15


Keberhasilan RER menjaga sekaligus merestorasi wilayah di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang tak bisa dilepaskan dari kolaborasi bersama NGO dan masyarakat setempat. Bersama-sama, RER mengkaji dan mempelajari ekosistem dan lingkungan sosial sebagai panduan dalam melakukan kegiatan konservasi. Hasilnya, dalam empat tahun terakhir, berkat komitmen kuat bersama masyarakat dalam merestorasi hutan dan hidrologi, tercatat tak ada kebakaran hutan dan lahan di wilayah RER di Semenanjung Kampar.

“Secara keseluruhan, upaya kami menjaga dan mengembalikan fungsi ekologis kawasan sudah terlihat dampaknya. Pada tahun 2018, sepanjang 65.400 meter kanal drainase lama di area RER telah ditutup demi upaya berkelanjutan yang direncanakan akan selesai pada 2025,” kata Nyoman Iswarayoga.

Penutupan kanal, lanjut Nyoman, merupakan upaya RER merestorasi hidrologis untuk mengurangi bahaya kebakaran dan meminimalkan emisi karbon. Dalam lima tahun terakhir, RER sukses melakukan restorasi hutan rawa gambut seluas 58,21 ha.

Sementara bagi masyarakat setempat, keberadaan RER terlihat manfaatnya lewat, salah satunya, program kemitraan di bidang sosial-ekonomi. Sejauh ini, paling tidak ada 8 kelompok masyarakat yang telah diberikan fasilitas untuk mengelola lahan pertanian tanpa bakar. RER juga mengedukasi nelayan untuk melakukan penangkapan ikan yang ramah lingkungan sehingga menghasilkan pendapatan tambahan.

RER diinisiasi APRIL Group, salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di Indonesia. APRIL berkomitmen 100 juta dollar Amerika pada fase I untuk mendukung program restorasi dan konservasi perusahaan. Lewat RER, APRIL turut serta mendukung salah satu program utama United Nation Development Programs (UNDP), yakni Sustainable Development Goals (SDGs) goal ke-15.

Goal tersebut berbunyi: “Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi (penggurunan), dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah serta menghambat hilangnya keanekaragaman hayati.”

Sihol Aritonang, Direktur Utama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), unit usaha APRIL, menyebut RER merupakan bagian dari perwujudan Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0 yang digagas perusahaan. “APRIL berkomitmen 1 banding 1 dimana kami mengonservasi atau merestorasi 1 hektare hutan alam untuk setiap hektare hutan tanam industri yang dikelola,” katanya.

Bisnis yang baik tentu tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh perusahaan, namun juga oleh lingkungan dan masyarakat sekitar. Maka, ketika sebuah perusahaan telah mendukung sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati dan alam, langsung tidak langsung perusahaan tersebut telah memberikan sesuatu kepada kemanusiaan.

“Kontribusi keanekaragaman hayati dan alam kepada manusia adalah warisan bersama dan 'jaring pengaman' kemanusiaan yang paling penting,” kata Prof. Sandra Díaz, ilmuwan Argentina.