Respons IAIN Tulungagung Usai Bekas Mahasiswinya Diduga Gabung ISIS

Oleh: Addi M Idhom - 28 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
IAIN Tulungagung sedang menyiapkan sejumlah langkah membatasi pengaruh radikalisme usai bekas mahasiswinya masuk dalam daftar WNI yang dideportasi dari Suriah.
tirto.id - Rektorat IAIN Tulungagung, Jawa Timur menggelar rapat khusus pada hari ini untuk merumuskan langkah memperkuat upaya mencegah pengaruh radikalisme menyebar di kampus tersebut.

Rapat itu digelar usai muncul kabar ada mantan mahasiswi di kampus tersebut masuk dalam daftar sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang dideportasi dari Suriah baru-baru ini.

"Ini terlepas bekas mahasiswi kami [Irma Novianingsih] yang barusan dideportasi dari Suriah dan kini menjalani pemeriksaan intensif di Rutan Bambu Apus, Jakarta Timur itu terbukti terkait jaringan ISIS atau tidak," kata Pembantu Rektor III IAIN Tulungagung Abad Badruzzaman di Tulungagung, pada Senin (28/5/2018) seperti dikutip Antara.

IAIN Tulungagung sebelumnya mengklaim bahwa Irma sudah tidak aktif dalam kegiatan akademik selama setahun belakangan tanpa keterangan. Karena itu, dia sudah dinyatakan tidak lagi berstatus sebagai mahasiswi kampus tersebut.

Rektorat IAIN Tulungagung belum merilis hasil resmi rapat tersebut ke media. Namun, sebelum rapat itu digelar, Badruzzaman menyebut sejumlah poin yang menjadi perhatian Rektorat IAIN Tulungagung untuk mencegah kasus serupa terulang.

"Sebentar lagi akan ada PBAK (Pekan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan). Dulu namanya ospek. Momentum ini akan kami jadikan sebagai ajang seleksi seketat mungkin demi penanggulangan dan penangkalan paham radikal di internal kampus," kata Badruzzaman.


Dia menegaskan, apabila selama PBAK maupun setelahnya ditemukan indikasi ada mahasiswa terlibat gerakan radikal, IAIN Tulungagung tidak akan segan memecatnya.

"Tentu akan kami cermati betul. Karena ini pertaruhannya terlalu besar," ujar Badruzzaman.

Dia menambahkan IAIN Tulungagung juga sedang mempertimbangkan untuk menerapkan larangan memakai cadar bagi para mahasiswinya.

"Jilbab itu wajib, sedangkan (menggunakan) cadar itu sifatnya sunah. Kami sudah siapkan semua argumentasi dan dasar tuntunan agama untuk mengantisipasi jika nanti ada yang protes dan menganggapnya [pelarangan cadar] sebagai pelanggaran HAM," ujar Badruzzaman.

Menurut dia, IAIN Tulungagung juga berencana meminta semua pegiat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk turut terlibat dalam lingkar studi apa pun guna memantau kemungkinan ada penyebaran paham radikal di kampus tersebut.

"Semua kegiatan di dalam maupun di luar kampus, jika ada keterlibatan mahasiswa kami dan mengarah pada gerakan yang bertentangan dengan ajaran Islam "rahmatan lil `alamin", kami akan tindak dengan tegas," kata Badruzzaman.

Dia mengklaim selama ini IAIN Tulungagung sudah melarang penyebaran buletin usai salat jumat, khususnya dari luar kampus, yang memuat materi berpaham Islam radikal dan intoleran. Sebagai gantinya, kampus itu hanya mengizinkan peredaran buletin terbitan prodi manajemen dakwah.

Pembantu Rektor I IAIN Tulungagung M Abdul Aziz menambahkan kampusnya selama ini sudah berupaya memantau keberadaan mahasiswa yang terpapar paham radikal sejak proses pendaftaran.


Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Pendidikan)

Sumber: antara
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Addi M Idhom