Periksa Data

Resesi & Peran Singapura Terhadap Perekonomian RI

Oleh: Hanif Gusman - 16 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Singapura mencatat pertumbuhan PDB minus dalam dua kuartal berturut-turut tahun ini. Adakah pengaruhnya pada perekonomian Indonesia?
tirto.id - Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura pada Selasa (14/7/2020) mengumumkan produk domestik bruto (PDB) Singapura mengalami kontraksi pada kuartal II-2020. Berdasarkan data awal, PDB Singapura tercatat minus 12,6% pada kuartal II (year-on-year).

Catatan minus PDB Singapura tersebut jauh lebih buruk dibandingkan prediksi Bloomberg sebesar 10,5%. Selain itu, situasi ini juga lebih buruk dibandingkan PDB Singapura pada triwulan pertama tahun ini yang mengalami kontraksi sebesar 0,3%.

Pertumbuhan PDB minus di dua kuartal tahun ini membuat Singapura secara teknis mengalami resesi. Resesi merupakan kondisi ketika suatu negara mengalami PDB tumbuh minus pada dua kuartal secara berturut-turut.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura atau MTI menyebut catatan minus PDB tersebut dipengaruhi kebijakan Circuit Breaker yang diimplementasikan pada 7 April hingga 1 Juni 2020 untuk mencegah penyebaran wabah COVID-19. Implementasi kebijakan tersebut mencakup penangguhan layanan non esensial dan penutupan sebagian besar tempat kerja.

Kondisi tersebut, menurut MTI, juga dipengaruhi perlambatan perekonomian global akibat pandemi COVID-19 yang melanda sepanjang tahun ini.

Departemen Statistik Singapura (DOS) mencatat, dalam 10 kuartal terakhir, perekonomian Singapura pertama kali mengalami kontraksi pada kuartal-I 2020. Kala itu, PDB singapura sebesar S$116 triliun, minus 0,7% jika dibandingkan angka pada periode yang sama 2019 sebesar S$116,79 triliun.

PDB Singapura dalam 10 kuartal terakhir menunjukan pola berulang dengan kuartal pertama sebagai titik terendah dan kemudian meningkat hingga kuartal terakhir pada tahun yang sama. Jika melihat pertumbuhannya, angkanya bergerak fluktuatif pada kisaran 0,2 persen hingga 4,9 persen setiap kuartal. Namun pencapaian minus baru pertama terjadi pada kuartal I tahun ini.

Pertanyaannya, apakah resesi yang terjadi di Singapura tersebut berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia? Hubungan Indonesia dan Singapura dalam hal perekonomian dapat dilihat dalam beberapa indikator, antara lain: penanaman modal asing, ekspor nonmigas, dan pariwisata.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Singapura merupakan salah satu investor terbesar terkait penanaman modal asing (PMA) di Indonesia. Pada 2019, Singapura menaruh USD6,51 miliar di Indonesia. Jika diakumulasikan, dalam 10 tahun terakhir, Singapura menanamkan modal USD65,27 miliar di Indonesia.



Angka tersebut tertinggi jika dibandingkan empat negara investor lainnya. Catatan Singapura ini diikuti Jepang dengan total dana USD34,64 miliar yang dialirkan ke Indonesia pada 2010-2019.

Tiga negara investor terbesar lainnya yaitu Korea Selatan, China, dan Amerika Serikat. Ketiga negara tersebut pada periode 2010-2019 masing-masing menanamkan modal sebesar USD13,81 miliar (China), USD13,76 miliar (Korsel), dan USD13,65 miliar (AS).

Posisi Singapura sebagai investor asing terbesar dalam beberapa tahun terakhir diakui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tidaklah murni investasi dari negara Singapura saja. Dalam catatan BKPM, banyak negara yang berinvestasi ke Indonesia melalui Singapura.

"Jadi negara-negara tersebut membangun hub-nya di Singapura, kemudian berinvestasi di Indonesia. Dalam sistem kita, tercatat asal negara investasi dari Singapura. Maka tidak aneh jika Singapura selalu berada di peringkat teratas investasi di Indonesia. Ke depan, kita ajak negara-negara tersebut untuk langsung berinvestasi di Indonesia,” ujar Plt Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Farah Indriani via rilis, Rabu (29/4/2020).

Singapura juga punya peran penting dalam kegiatan ekspor nonmigas Indonesia. BPS dan Kementerian Perdagangan mencatat Singapura merupakan lima besar negara tujuan ekspor nonmigas dalam lima tahun terakhir.

Pada periode 2015-2019 Indonesia melakukan ekspor nonmigas ke Singapura sebesar USD43,97 miliar. Angka tersebut menjadikan Singapura negara importir nonmigas terbesar keempat, hanya lebih kecil dibandingkan ekspor ke China, Jepang, dan Thailand.

China menjadi negara tujuan ekspor nonmigas terbesar dalam lima tahun terakhir. Total Indonesia telah melakukan ekspor nonmigas sebesar USD185,28 miliar ke China.

Singapura juga tercatat sebagai lima besar negara asal wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia dalam lima tahun terakhir. Pada periode 2015-2019, sebanyak 8,37 juta orang wisatawan asal Singapura berkunjung ke Indonesia.


Angka tersebut tercatat sebagai yang tertinggi ketiga setelah Malaysia dan China. Untuk diketahui, kunjungan wisatawan asal Malaysia ke Indonesia dalam lima tahun terakhir tercatat sebanyak 10,58 juta orang. Sementara itu, wisatawan asal China tercatat sebanyak 9,11 juta orang.

Pada 2019, tercatat sekitar 1,93 juta wisatawan Singapura melancong ke Indonesia, tertinggi ketiga setelah Malaysia. Namun angka tersebut menurun di masa pandemi ini. Kunjungan wisatawan Singapura pada periode Januari-Mei 2020 tercatat sebesar 266,5 ribu orang. Jumlah tersebut turun 63,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 735,2 juta orang.

Pemerintah Indonesia juga baru saja menyepakati perjanjian kerjasama dengan pemerintah Singapura setelah pertemuan bilateral kedua kepala negara di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020) lalu.


Dalam pertemuan tersebut setidaknya terdapat beberapa kesepakatan antar kedua negara, diantaranya: penguatan kerja sama blok di 71, pelatihan dosen pengajar politeknik Indonesia oleh politeknik Singapura dan Kementerian Perindustrian RI, hingga peningkatan kerja sama di bidang riset dan pengembangan antar universitas di kedua negara.

Beberapa indikator ekonomi di atas menunjukan Singapura punya peran penting terhadap perekonomian Indonesia terutama dalam bidang investasi dan perdagangan.

Kondisi Singapura yang saat ini masuk ke jurang resesi tentu patut menjadi perhatian bagi Indonesia. Terlebih, Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang rendah pada tahun ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal I-2020 tercatat sebesar 2,97% dan disebut oleh BPS sebagai yang terendah pada kuartal yang sama sejak 2001.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Hanif Gusman
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight